Seorang demonstran bereaksi selama protes anti-pemerintah yang diselenggarakan di Tel Aviv yang menuntut gencatan senjata dan tindakan untuk mengamankan pembebasan para sandera, 27 September 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) - Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine Al-Qassam, mengajukan desakan kepada militer Israel untuk menghentikan serangan udara selama 24 jam dan menarik pasukannya dari sejumlah wilayah di Kota Gaza. Langkah ini dilakukan guna memberi ruang bagi pencarian dua yang dilaporkan hilang kontak di tengah gempuran brutal pasukan Zionis.
Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam menyebutkan bahwa keberadaan kedua sandera dalam kondisi kritis dan mengingatkan bahwa operasi militer Israel telah membahayakan nyawa mereka secara langsung.
"Pasukan pendudukan harus mundur ke selatan Jalan 8 dan menghentikan seluruh aktivitas serangan udara mulai pukul 18.00 hari ini. Jika tidak, upaya penyelamatan terhadap dua tahanan tersebut terancam gagal total," tegas pernyataan Al-Qassam.
Hamas menyatakan bahwa hilangnya jejak kedua sandera terjadi setelah intensifikasi serangan darat dan udara Israel dalam dua hari terakhir, terutama di wilayah permukiman padat di selatan Kota Gaza. Serangan tanpa henti tersebut tak hanya memperburuk krisis kemanusiaan, tetapi juga menghambat komunikasi dan operasi internal di wilayah yang terkepung.
Sebelumnya, Hamas juga mengungkapkan telah kehilangan kontak dengan salah satu sandera berkewarganegaraan ganda, Israel dan Amerika Serikat, akibat agresi militer Israel yang semakin membabi buta.
Sementara Hamas berupaya melindungi nyawa tawanan, militer Israel tetap melanjutkan ofensif brutalnya terhadap wilayah Gaza yang telah porak-poranda. Warga Palestina terus dipaksa meninggalkan rumah mereka menuju selatan, meskipun tempat perlindungan pun tak lagi aman dari serangan udara.
Menurut badan pertahanan sipil Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas lokal, sedikitnya 38 warga sipil Palestina gugur pada hari Minggu, termasuk 14 orang yang terbunuh di Kota Gaza akibat tembakan dan serangan udaraIsrael.
Jumlah korban jiwa terus bertambah setiap hari, menyusul tak adanya jeda kemanusiaan yang diberikan oleh Israel, meski tekanan internasional semakin meningkat.
Invasi militer Israel ke Gaza, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, menunjukkan betapa sistematis dan tidak proporsionalnya kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina. Di balik dalih “pencarian sandera,” operasi militer ini justru lebih sering menargetkan infrastruktur sipil, rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsi.
Ironisnya, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat tetap memberikan dukungan militer dan politik kepada Israel, meski dunia internasional menyaksikan langsung penderitaan rakyat Palestina yang terus berlangsung.
Desakan Hamas agar Israel memberikan ruang kemanusiaan bukan hanya soal penyelamatan dua nyawasandera, melainkan juga seruan untuk menghentikan kekejaman yang telah mengorbankan puluhan ribu warga sipil tak bersalah.