Militer Israel Janji Palsu, UNRWA: Pertempuran di Gaza Masih Terus Berlanjut
Thomas Pulungan







Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memang mengkritik langkah yang diumumkan oleh militernya itu untuk melakukan jeda harian dalam pertempuran di sepanjang salah satu jalan utama menuju daerah kantong penduduk yang terkepung dan telah berada di bawah pemboman Israel tanpa henti selama lebih dari delapan bulan.
Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Lazzarini, mengatakan bahwa pertempuran sejauh ini tidak pernah berhenti.
“Ada informasi bahwa keputusan seperti itu telah diambil, namun tingkat politik mengatakan tidak ada keputusan yang diambil,” ujar Lazzarini pada konferensi pers, Senin (18/6/2024) dilansir Al Jazeera.
“Jadi untuk saat ini, saya dapat memberitahu Anda bahwa permusuhan terus berlanjut di Rafah dan di selatan Gaza. Dan secara operasional, belum ada yang berubah,” ujar ketua organisasi utama yang memberikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, itu.
Militer Israel mengkonfirmasi pada hari Senin bahwa pasukannya melanjutkan operasi di wilayah Rafah, termasuk pertempuran darat. Sementara warga Rafah mengatakan pasukan Israel maju lebih jauh ke wilayah tengah dan barat.
Dikekatui, militer Israel pada akhir pekan lalu mengumumkan jeda harian mulai pukul 05.00 GMT hingga 16.00 GMT atau sekitar 11 jam, di area penyeberangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom), aksus Utama ke Jalan Salah Al-Din dan kemudian ke utara.
Pejabat kemanusiaan internasional telah berulang kali mengatakan bahwa pertempuran yang sedang berlangsung, dan penjarahan oleh warga yang putus asa, telah menghambat pengiriman bantuan.
Pasukan darat Israel telah beroperasi di Kota Rafah selatan sejak awal Mei. Sejak itu mereka telah menutup perbatasan penting Rafah dengan Mesir.
Sebelum operasi darat Rafah, aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza sudah tidak memadai, dan jumlah truk yang memasuki bagian selatan Jalur Gaza berjumlah ratusan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk di wilayah tersebut yang berjumlah 2,3 juta jiwa.
“Seperti yang telah kami tegaskan kembali, operasi kemanusiaan di Gaza harus difasilitasi sepenuhnya, dan semua hambatan harus dihilangkan,” kata Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq kepada The Associated Press pada hari Senin. “Kita harus bisa menyalurkan bantuan dengan aman ke seluruh Gaza,” lanjutnya.
Dengan serangan Israel ke Gaza yang memasuki bulan kesembilan, kata Haq, warga Palestina yang terlantar di wilayah tersebut sangat membutuhkan makanan, air, sanitasi, tempat tinggal dan layanan Kesehatan. "Banyak yang tinggal di dekat tumpukan sampah, sehingga meningkatkan risiko kesehatan,” tukasnya.
Dia mengatakan Israel perlu memastikan bahwa pergerakan konvoi bantuan dan anggota staf melalui pos pemeriksaan dipercepat. Kepala Kemanusiaan PBB Martin Griffiths mengatakan dalam sebuah opini di The New York Times, Jalur Gaza yang miskin dan diblokade telah berubah menjadi “neraka di bumi” ketika kelaparan mulai terjadi.
"Bantuan kemanusiaan dihalangi dan dipolitisasi sementara kelaparan dan penyakit menyebar, dan pekerja kemanusiaan, pekerja layanan kesehatan, dan jurnalis, semuanya mengalami kerugian yang tidak dapat diterima,” tukasnya.
Senada dengan pernyataannya, Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh Israel dan Amerika Serikat dengan sengaja memperburuk kondisi seperti kelaparan di Gaza dengan menahan bantuan kemanusiaan sebagai alat untuk tekanan politik.
Secara terpisah, Norwegia mengatakan bahwa mereka meningkatkan pendanaannya untuk UNRWA sebesar 100 juta kroner (USD9,3 juta). “UNRWA adalah tulang punggung respons kemanusiaan di Gaza,” kata Menteri Pembangunan Internasional Norwegia Anne Beathe Tvinnereim dalam sebuah pernyataan.
“Perang, tuduhan yang dibuat oleh Israel, serangan terus-menerus terhadap organisasi tersebut dan dana yang ditahan oleh donor besar telah menempatkan UNRWA dalam situasi keuangan yang sangat sulit,” katanya.
