Anak-anak Palestina mengantre di depan dapur amal di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah di tengah bencana kelaparan yang dinyatakan PBB setelah hampir dua tahun perang, 14 September 2025. (Foto: AFP)
JENEVA, (ERAKINI) - Lebih dari 10.000 anak di Kota Gaza kini terancam malnutrisi akut akibat serangan militer Israel yang semakin menggila, menurut laporan terbaru UNICEF. Invasi darat besar-besaran yang dilancarkan tentara pada hari Selasa menyebabkan krisis kemanusiaan semakin parah, menempatkan - pada risiko kematian yang mengerikan.
“Pengusiran paksa dan besar-besaran keluarga-keluarga Palestina dari Kota Gaza adalah tindakan biadab yang mengancam jiwa anak-anak paling rentan,” tegas Tess Ingram, juru bicara UNICEF di zona Al-Mawasi, Gaza selatan.
Dalam konferensi pers di Jenewa, Ingram memperingatkan bahwa kondisi malnutrisi anak-anakGaza memburuk secara dramatis. “Diperkirakan 26.000 anak di Jalur Gaza membutuhkan perawatan serius akibat malnutrisi akut, dengan lebih dari 10.000 di antaranya hanya di Kota Gaza,” ungkapnya.
Data bulan Agustus menunjukkan bahwa satu dari delapan anak yang diperiksa di seluruh Jalur Gaza mengalami malnutrisi akut — angka tertinggi yang pernah tercatat. Bahkan di Kota Gaza, angka tersebut mencapai satu dari lima anak.
Sementara itu, pusat-pusat nutrisi di Kota Gaza terpaksa menghentikan layanan akibat eskalasi militer dan perintah evakuasi paksa yang dikeluarkan oleh Israel, memperparah krisis kesehatan anak-anak.
Israel mengklaim memberikan bantuan makanan, tenda, dan obat-obatan bagi pengungsi yang dipindahkan ke wilayah selatan Al-Mawasi. Namun, kenyataannya hampir dua tahun perang telah menyaksikan serangan berulang terhadap zona-zona yang seharusnya aman secara kemanusiaan, dengan dalih memburu pejuang Hamas.
“Tindakan Israel memaksa hampir setengah juta anak-anak, yang telah mengalami trauma mendalam selama lebih dari 700 hari konflik tanpa henti, melarikan diri dari satu neraka ke neraka yang lain,” kecam Ingram.
Pejabat militer Israel mengonfirmasi bahwa sekitar 40 persen penduduk Kota Gaza dan sekitarnya—diperkirakan mencapai satu juta jiwa—telah mengungsi, sebuah bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Akses media dan bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza sangat dibatasi, sehingga sulit untuk memverifikasi kondisi riil di lapangan secara independen.
Sejak 14 Agustus, sekitar 150.000 orang telah meninggalkan Kota Gaza menuju selatan, namun banyak yang masih terjebak dalam situasi genting tanpa perlindungan aman.
Serangan militan Hamas pada Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari seribu orang, terutama warga sipil, diikuti oleh kampanye balasan Israel yang brutal, telah menewaskan hampir 65.000 orang, mayoritas juga warga sipil, menurut data kementerian kesehatan Gaza.
Kejahatan perang ini bukan hanya merenggut nyawa tapi juga menghancurkan masa depananak-anakPalestina yang kini menghadapi ancaman kelaparan dan penyakit yang membunuh.