WASHINGTON, (ERAKINI) – Di tengah serangan brutal Israel yang terus menghancurkan Gaza dan membunuh ribuan warga sipil, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyalahkan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, atas dugaan penggunaan sandera Israel sebagai perisai manusia. Peringatan ini disampaikan Trump melalui media sosial pada Senin (waktu setempat).
“Saya harap para pemimpin Hamas memahami konsekuensi dari tindakan seperti ini,” tulis Trump. “Ini adalah kekejaman yang melampaui batas kemanusiaan. Jangan biarkan hal ini terjadi, atau SEMUA TARUHAN BATAL. BEBASKAN SELURUH SANDERA SEKARANG!”
Pernyataan Trump menambah panjang daftar retorika keras yang ia lontarkan terhadap Hamas. Namun, ironisnya, tidak ada kecaman serupa terhadap Israel, yang dalam beberapa bulan terakhir telah menghancurkan lebih dari separuh wilayah Gaza, menargetkan sekolah, rumah sakit, dan tempat tinggal warga sipil — tindakan yang oleh para pengamat dan kelompok HAM digambarkan sebagai genosida dan pembersihan etnis sistematis.
PBB Kecam Serangan Israel: Pembersihan Etnis yang Terang-Terangan
Militer Israel terus melanjutkan kampanye penghancuran di Gaza, menyebabkan pengungsian massal, kelaparan ekstrem, serta kehancuran infrastruktur sipil. Utusan khusus PBB menyebut tindakan ini sebagai bagian dari strategi pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina, bukan sekadar upaya membela diri seperti yang kerap dinarasikan pemerintah Israel dan sekutunya.
Serangan udara yang ditujukan ke kawasan padat penduduk, termasuk sekolah dan tempat ibadah, membuat warga sipil menjadi korban utama dari kekerasan yang terus berlangsung tanpa jeda.
Serangan Israel ke Qatar: Negosiator Hamas Dibunuh, Trump Berkelit
Pernyataan Trump juga muncul hanya beberapa hari setelah Israel melancarkan serangan mematikan di Doha, Qatar, yang menewaskan lima anggota Hamas dan satu petugas keamanan Qatar. Para korban merupakan bagian dari tim perunding yang sedang mengupayakan gencatan senjata dan pertukaran tawanan — proses yang sebelumnya bahkan didukung oleh pemerintahan Trump sendiri.
Ketika ditanya apakah ia mengetahui serangan tersebut sebelumnya, Trump menjawab: "Saya mengetahuinya seperti kalian—dari media."
Pernyataan ini bertentangan dengan komentarnya sendiri sebelumnya, di mana ia mengaku mendapat informasi langsung dari militer AS sesaat sebelum serangan terjadi.
Trump mengaku menentang serangan terhadap Qatar, namun tidak ada langkah konkret dari pemerintahannya untuk mengecam atau menekan Israel setelah insiden tersebut. Keheningan ini menimbulkan tanda tanya atas sejauh mana keterlibatan atau persetujuan diam-diam AS dalam eskalasi kekerasan ini.
Media Israel, Kan, melaporkan bahwa Hamas memindahkan para sandera ke wilayah pemukiman guna mencegah serangan udara. Namun, praktik serupa justru telah lama dilakukan oleh militer Israel, yang diduga menggunakan warga Palestina, termasuk anak-anak, sebagai tameng hidup.
Dokumentasi yang dirilis oleh Al Jazeera menunjukkan tentara Israel mengirim warga sipil Palestina ke dalam bangunan dan terowongan lebih dulu untuk memeriksa ranjau, menempatkan mereka dalam bahaya besar.
Meski Israel kerap menuduh Hamas beroperasi dari wilayah sipil, justifikasi ini sering dijadikan alasan untuk menyerang tanpa pandang bulu, mengabaikan hukum internasional dan prinsip perlindungan terhadap non-kombatan.
Gaza Terus Dibombardir, Israel Rayakan Penghancuran
Serangan udara terus mengguncang Gaza. Dalam salah satu unggahan yang menuai kecaman luas, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membagikan video penghancuran gedung tinggi di Gaza dan menulis: “Rumah kartu. Cakrawala Gaza sedang berubah.”
Pernyataan itu dianggap menggambarkan perayaan atas kehancuran dan penderitaan rakyat sipil, bukan sekadar strategi militer. Bagi warga Gaza, gedung-gedung itu bukan hanya bangunan, melainkan rumah, sekolah, rumah sakit, dan simbol kehidupan yang kini hancur berkeping-keping.
Pernyataan Trump yang fokus menyalahkan Hamas tanpa menyentuh pelanggaran Israel mencerminkan standar ganda Amerika Serikat dalam konflik Palestina-Israel. Dukungan politik dan militer Washington terhadap Tel Aviv secara tidak langsung memungkinkan kekerasan terhadap rakyat Palestina terus berlangsung.
Sementara warga Gaza berjuang untuk bertahan hidup di tengah kehancuran, pernyataan-pernyataan seperti ini hanya menambah penderitaan — sekaligus menunjukkan bahwa diplomasi global masih buta terhadap penderitaan Palestina.