Daftar 10 Negara Termiskin di Dunia Tahun 2025, Indonesia Nomor Berapa?
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Di era ketika teknologi berkembang pesat dan kekayaan global mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, masih ada jutaan manusia yang hidup dalam kekurangan ekstrem.
Gambaran ini paling jelas terlihat di negara-negara yang terjebak konflik berkepanjangan, pertikaian etnis, pemerintahan yang rapuh, dan minimnya kesempatan ekonomi. Krisis global seperti pandemi COVID-19, lonjakan inflasi, serta penurunan tajam bantuan internasional semakin memperkeruh kondisi masyarakat yang paling rentan.
Padahal, dunia memiliki sumber daya yang cukup untuk memastikan setiap orang hidup dengan layak. Namun, banyak negara seperti Burundi, Sudan Selatan, dan Republik Afrika Tengah tetap terperangkap dalam lingkaran kemiskinan yang dalam. Beberapa negara lain, seperti Suriah, Afghanistan, dan Eritrea, bahkan sulit diukur tingkat kemiskinannya karena instabilitas politik membuat pengumpulan data ekonomi hampir mustahil.
Bagaimana Menentukan Negara Termiskin?
Melansir Global Finance, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita kerap dipakai untuk mengukur kesejahteraan suatu negara. Namun agar perbandingan lebih adil, analis menggunakan pendekatan purchasing power parity (PPP), yaitu nilai daya beli masyarakat di tiap negara setelah disesuaikan dengan biaya hidup.
Tidak ada satu penyebab tunggal yang melahirkan kemiskinan kronis. Korupsi mampu menenggelamkan negara kaya sumber daya. Jejak kolonialisme, perang, bencana alam, lemahnya hukum, dan tekanan dari negara tetangga dapat menggulung pembangunan puluhan tahun. Ketika negara tak mampu mendanai pendidikan berkualitas, rendahnya keterampilan tenaga kerja membuat kemiskinan semakin mengakar.
Pandemi memperburuk luka lama. Di negara-negara dengan sektor informal yang dominan, absennya jaring pengaman menyebabkan bisnis tumbang dan rumah tangga kehilangan pendapatan. Bank Dunia memperkirakan generasi pelajar di negara berpenghasilan rendah dan menengah akan kehilangan sekitar 10% potensi pendapatan masa depan mereka.


















