Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa satu krisis memperparah krisis lainnya, dan satu eskalasi memicu eskalasi berikutnya. (Foto: PBB).
KOTA NEW YORK, (ERAKINI) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras mengenai semakin memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah. Memanasnya konflik di Selat Hormuz dan Laut Merah dinilai berpotensi menyeret kawasan ke dalam pusaran konfrontasi yang jauh lebih luas apabila tidak segera dihentikan melalui jalur diplomasi.
Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam sidang Dewan Keamanan PBB di New York, Kamis (23/7/2026). Ia menilai eskalasi yang terus terjadi telah mengikis kepercayaan antarnegara dan membuat peluang penyelesaian damai semakin sulit diwujudkan.
Menurut Guterres, situasi yang berkembang saat ini menunjukkan bahwa satu konflik terus memicu konflik lain sehingga menciptakan lingkaran konfrontasi yang semakin berbahaya bagi stabilitas kawasan maupun dunia.
"Situasi ini mulai tak terkendali," kata Guterres. "Kondisi ini berada di ambang situasi yang tak terbayangkan," lanjutnya.
Dalam pemaparannya, Guterres menegaskan bahwa tidak ada penyelesaian militer yang mampu mengakhiri konflik yang kini melibatkan berbagai pihak di Timur Tengah.
Ia menyerukan penghentian pertempuran di seluruh kawasan serta mendesak dipulihkannya hak dan kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz maupun Selat Bab Al-Mandab, dua jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi dan logistik dunia.
Menurutnya, serangan terhadap infrastruktur sipil tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun karena hanya akan memperburuk penderitaan masyarakat dan memperbesar risiko konflik regional.
Guterres juga memberikan apresiasi terhadap berbagai upaya mediasi yang dilakukan sejumlah negara, termasuk Pakistan, dalam membuka ruang dialog antara pihak-pihak yang bertikai. Ia menilai inisiatif tersebut harus terus diperkuat agar mampu menghasilkan penyelesaian damai yang berkelanjutan.
Dalam sidang yang sama, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Tammy Bruce, menyatakan bahwa Washington masih mengedepankan jalur diplomasi dalam menyikapi ketegangan dengan Iran.
Menurut Bruce, pemerintah Amerika Serikat telah berupaya melakukan pendekatan secara konstruktif hingga menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman dengan Teheran. Namun, ia menuduh Iran berulang kali melanggar hukum internasional serta mengabaikan berbagai keputusan Dewan Keamanan PBB. "Jika Iran tidak memutuskan untuk kembali menempuh jalur diplomasi, AS akan bertindak untuk membantu memulihkan kondisi di Selat Hormuz," tegas Bruce.
Selain itu, ia kembali menuduh Iran memberikan dukungan kepada kelompok Houthi di Yaman yang dinilai melanggar embargo senjata PBB. Washington juga mengklaim Teheran memfasilitasi pergerakan pejuang melalui penerbangan menuju dan dari Sanaa.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Perwakilan Tetap Prancis untuk PBB, Jay Dharmadhikari. Ia menilai memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.
Dharmadhikari mengecam serangan yang diarahkan kepada negara-negara kawasan maupun kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menurutnya, satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah melalui deeskalasi, penghentian permusuhan, serta perundingan diplomatik.
Ia juga meminta Iran tetap menghormati komitmen yang telah disepakati dalam nota kesepahaman dengan Amerika Serikat serta melanjutkan negosiasi mengenai program nuklirnya agar tetap bersifat damai. Prancis juga menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah serta ancaman blokade terhadap Arab Saudi.
Sementara itu, Duta Besar Bahrain untuk PBB, Jamal Alrowaiei, menyampaikan dukungannya terhadap langkah mediasi yang dilakukan Pakistan dan Qatar. Menurutnya, upaya tersebut penting untuk menjaga komunikasi tetap terbuka di tengah situasi yang semakin tegang.
Alrowaiei juga mengecam keras serangan Iran terhadap sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) serta Yordania. Ia menilai tindakan tersebut justru memperburuk stabilitas kawasan. Ia menyayangkan bahwa beberapa negara yang sebelumnya berperan sebagai mediator, termasuk Arab Saudi, justru ikut menjadi sasaran serangan meskipun telah berupaya membangun dialog antara Iran dan komunitas internasional.
Di sisi lain, Duta Besar Tiongkok untuk PBB menyerukan agar seluruh pihak segera menghentikan konfrontasi dan mengedepankan penyelesaian damai. Menurut Beijing, konflik yang terus memanas di kawasan Teluk tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.
China menegaskan bahwa pemulihan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, penghormatan terhadap hak-hak negara pesisir, serta terciptanya stabilitas kawasan merupakan kepentingan bersama masyarakat internasional.
Beijing juga mendorong semua pihak untuk saling berkompromi agar pelaksanaan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran dapat kembali berjalan.
Dengan eskalasi militer yang terus meningkat dan saling tuding di forum internasional, kekhawatiran terhadap meluasnya konflik di Timur Tengah semakin besar. PBB pun mengingatkan bahwa tanpa komitmen nyata untuk menahan diri dan menghidupkan kembali diplomasi, kawasan tersebut berisiko memasuki fase konfrontasi yang jauh lebih luas dengan dampak global terhadap keamanan, perdagangan, dan perekonomian dunia.