Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa (14/7/2026) kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. (Foto: Reuters).
SINGAPURA, (ERAKINI) – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan dinamika menarik menjelang pemberlakuan kembali blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Data pelacakan kapal mengungkap mayoritas kapal yang melintasi jalur strategis tersebut pada Selasa memiliki keterkaitan dengan , menandakan upaya Teheran mempertahankan arus ekspor di tengah tekanan yang semakin meningkat.
Perkembangan ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan pemberlakuan kembali blokade maritim terhadap seluruh pelabuhan Iran dan mengancam akan memperluas operasi militer jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Berdasarkan data pelayaran terbaru, sebanyak 11 kapal tercatat melintasi Selat Hormuz pada Selasa (14/7/2026). Dari jumlah tersebut, sembilan kapal diketahui menggunakan jalur yang berkaitan dengan aktivitas perdaganganIran. Data juga menunjukkan masuknya tiga kapal tanker kosong ke kawasan selat, terdiri dari satu tanker jenis Aframax dan dua tanker raksasa berkapasitas sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC).
Sementara itu, kapal-kapal yang meninggalkan kawasan Teluk membawa berbagai komoditas ekspor utama Iran, mulai dari minyak mentah hingga produk energi lainnya. Salah satu VLCC dilaporkan mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah. Selain itu, terdapat kapal tanker pengangkut produk olahan minyak, dua kapal LPG, satu kapal pengangkut metanol, serta kapal curah yang membawa bijih besi.
Namun demikian, tidak ditemukan aktivitas signifikan kapal tanker yang memuat atau membongkar minyak dan gas dari negara-negara produsen Teluk lainnya pada hari yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketegangan keamanan di kawasan mulai memengaruhi keputusan operator kapal dan perusahaan energi internasional dalam menggunakan jalur pelayaran di sekitar Hormuz.
Selat Hormuz selama ini merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik meningkat pada Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Amerika Serikat menuduh Iran melakukan serangan terhadap tujuh kapal komersial dalam sepekan terakhir. Insiden-insiden tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan awak kapal, sekaligus memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pelayaran internasional. Serangan terhadap kapal-kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab juga turut memengaruhi pasar energi global.
Dampak langsung dari meningkatnya risiko keamanan terlihat pada pasar minyak mentah Timur Tengah.Harga minyak spot mengalami penguatan karena kekhawatiran pasokan jangka pendek. Dalam kondisi saat ini, harga kontrak pengiriman bulan berjalan tercatat lebih tinggi dibandingkan kontrak pengiriman beberapa bulan ke depan, sebuah kondisi yang mencerminkan ketatnya pasokan di pasar.
Pelaku pasar menilai situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga energi dunia.
Kalangan analis memperkirakan pemulihan aktivitas pelayaran di kawasan Teluk tidak akan berlangsung cepat, bahkan jika ketegangan geopolitik mulai mereda dalam waktu dekat. Lembaga keuangan global Goldman Sachs menilai bahwa fase berikutnya dari pemulihan arus pelayaran kemungkinan akan berlangsung lebih lambat dibandingkan tahap awal.
Para analis mencatat adanya penurunan tajam lalu lintas kapal melalui jalur Oman dan koridor pelayaran internasional setelah serangkaian serangan terhadap tanker dalam beberapa hari terakhir. Menurut mereka, banyak operator kapal masih memilih menghindari risiko dan menunda penggunaan jalur non-Iran yang melintasi Selat Hormuz hingga situasi keamanan benar-benar stabil.
Dengan meningkatnya aktivitas kapal yang terkait Iran di satu sisi dan ancaman blokade Amerika Serikat di sisi lain, Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu kini tidak hanya menjadi koridor perdagangan energi, tetapi juga simbol pertarungan geopolitik yang dapat memengaruhi ekonomi global.