Presiden AS Donald Trump berhenti untuk berbicara dengan para wartawan sebelum menaiki Air Force One dalam perjalanan menuju Pangkalan Angkatan Udara Dover pada 22 Juli 2026 di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland. (Foto: AFP).
TEHERAN, (ERAKINI) - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Presiden ASDonald Trump melontarkan ancaman keras dengan menyatakan siap menghancurkan infrastruktur vital sebagai balasan atas setiap serangan yang menyasar kapal-kapal di , jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Rabu di tengah memanasnya perseteruan kedua negara yang telah berlangsung berbulan-bulan dan menimbulkan dampak ekonomi besar, baik bagi kawasan Timur Tengah maupun pasar energi global.
"Kapan pun Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik menggunakan rudal, roket, pesawat nirawak (drone), maupun perangkat atau senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK," tulis Trump melalui media sosialnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan kembali ancaman Washington untuk menjadikan fasilitas infrastruktur strategis Iran sebagai sasaran serangan apabila Teheran terus mengganggu lalu lintas pelayaran internasional.
Ketegangan terbaru dipicu oleh kembalinya blokade Iran di Selat Hormuz setelah kesepakatan awal antara Washington dan Teheran dilaporkan runtuh. Jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia itu kembali menjadi titik panas konflik setelah Iran menembaki sejumlah kapal yang berupaya melintas.
Situasi tersebut mengguncang pasar energi global. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak membuat harga energi melonjak dan meningkatkan tekanan politik terhadap Trump, terutama menjelang pemilihan paruh waktu yang diperkirakan berlangsung ketat.
Biaya perang yang terus membengkak juga menjadi sorotan. Menurut Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, pengeluaran Washington dalam konflik ini telah mencapai sekitar 37,5 miliar dolar AS.
Meski menghadapi kritik dari berbagai pihak, termasuk sebagian pendukungnya sendiri, Trump menunjukkan sikap tidak bergeming. "Kami sama sekali belum selesai... kami tidak akan pergi sekarang juga," tegasnya.
Di tengah saling ancam yang terus meningkat, pemerintah AS masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tetap siap berunding dengan Teheran.
"Kami tetap terbuka untuk menyelesaikannya melalui perundingan. Namun saat ini, mereka tampaknya tidak serius mengenai hal itu," ujar Rubio dalam pertemuan para menteri Asia Tenggara di Manila.
Dari pihak Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menyatakan komunikasi tidak langsung dengan Washington melalui negara-negara mediator masih terus berlangsung.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan arah yang berbeda. Pada Rabu sore, sebuah rudal Amerika dilaporkan menghantam Pulau Larak yang berada di kawasan Selat Hormuz. Kantor berita Tasnim menyebut pihak berwenang Iran masih menyelidiki tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Militer AS juga mengumumkan telah melancarkan serangan malam ke-11 secara berturut-turut terhadap berbagai target di Iran. Washington mengklaim operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran dalam mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz. Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap kompleks bawah tanah yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain atau Kolang Kouh, sebuah lokasi dekat Natanz yang menurut badan intelijen Barat diduga berkaitan dengan program pengayaan uranium rahasia Iran.
Ancaman tersebut langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Komando Militer Khatam Al-Anbiya memperingatkan bahwa serangan terhadap lokasi tersebut akan dianggap sebagai perluasan perang. Iran juga mengancam akan menyerang "semua kepentingan Amerika, sekutu, dan pendukungnya" apabila Washington benar-benar melaksanakan rencana tersebut.
Sementara itu, Baqaei menepis tuduhan terkait aktivitas nuklir di lokasi tersebut. "Fokus obsesif Washington terhadap Kolang Kouh—tempat tidak adanya aktivitas nuklir—hanyalah dalih yang dibuat-buat untuk agresi, kehancuran, dan sabotase," katanya.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menegaskan pentingnya akses inspeksi terhadap fasilitas dan cadangan uranium Iran. "Para inspektur seharusnya sudah berada di sana," ujarnya dalam wawancara dengan BBC.