Setelah 492 Warga Lebanon Tewas, Hizbullah Balas Luncurkan 90 Roket Beruntun ke Israel Utara
Akhmad Baihaqi Arsyad







Militer mengatakan sekitar 10 roket diluncurkan di wilayah timur Haifa pada pukul 7.43 pagi, beberapa di antaranya dicegat oleh pertahanan udara. Pecahan peluru dari roket yang dicegat melukai ringan seorang wanita berusia 58 tahun, kata petugas medis. Dia dibawa ke rumah sakit.
Kemudian, pada pukul 09.36, lima roket diluncurkan ke Lembah Yizreel, beberapa di antaranya berhasil dicegat dan sisanya menghantam area terbuka. Tidak ada yang cedera.
Pada pukul 09.42, rentetan 50 roket ditembakkan ke daerah Kiryat Shmona. IDF mengatakan beberapa roket berhasil dicegat, sementara roket lainnya menghantam kota, menyebabkan kerusakan namun tidak ada korban jiwa.
Petugas pemadam kebakaran sedang berupaya memadamkan api yang berkobar di daerah Kiryat Shmona. Serangan itu terjadi setelah dua roket diluncurkan ke Nahariya dini hari tadi, dan 20 roket lainnya ditembakkan semalaman di Lembah Jezreel.
“Total serangan hari ini mencapai hampir 90 roket. Sementara itu, sirene berbunyi di Galilea Bawah,” dikutip dari Times of Israel.
Sebelumnya, sebanyak 492 orang di Lebanon tewas pada hari Senin (23/9/2024), termasuk 35 di antaranya anak-anak akibat serangan Israel yang tak henti-henti menggempur, menurut Kementerian Kesehatan negara tersebut.
Selain itu, menurut kementerian tersebut, sebanyak 1.645 orang lainnya terluka. Front utara Israel dengan Lebanon kini menjadi arena perang nomor satu di wilayah tersebut, jauh dari perangnya di Gaza, menurut sejumlah ahli.
Menurut Said Aikat, seorang profesor di Universitas Amerika dan jurnalis surat kabar harian Al Quds, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengobarkan perang terhadap Hizbullah karena Israel “gagal di Gaza”.
“Netanyahu menyatakan tiga tujuan: memenggal kepala Hamas, membebaskan sandera dengan paksa, dan mengubah rezim di Gaza. Dan dia gagal dalam ketiganya. Kini mereka telah menambahkan dimensi lain dalam perang ini, memukimkan kembali penduduk di desa dan kampung halaman mereka, dan seterusnya. Namun hal itu tidak mungkin terjadi,” katanya dikutip dari Aljazeera, Selasa (24/9/2024).
“Karena, kita pasti akan melihat peningkatan di pihak Hizbullah dalam beberapa hari ke depan. Jadi kita mungkin akan melihat lebih banyak orang Israel meninggalkan rumah dan kota mereka untuk masuk lebih jauh ke wilayah Israel,” ucapnya menambahkan.
Atas adanya serangan mematikan itu, Hizbullah pun langsung membalas dengan menembakkan rentetan rudal ke pangkalan udara Israel sebagai respons terhadap peningkatan ketegangan terbesar antara mereka dan Israel sejak Oktober lalu, di mana para pemimpin dunia dan PBB menyerukan segera dilakukan deeskalasi.
Sementara itu, Turki memperingatkan serangan Israel di Lebanon dapat menyeret seluruh kawasan ke dalam kekacauan.

