Dewan Penjaga Iran kembali menjegal pencalonan diri mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad dalam Pilpres 28 Juni 2024. Foto: AP
JAKARTA, (ERAKINI) - Dewan PenjagaIran menyetujui ketua parlemen garis keras negara itu dan lima orang lainnya, untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada 28 Juni mendatang, menyusul kecelakaan helikopter yang menewaskan Presiden Ebrahim Raisi dan tujuh orang lainnya pada 19 Mei lalu.
Dikutip dari AP, Senin (10/6/2024), Dewan Penjaga kembali menjegal pencalonan diri mantan Presiden , tokoh populis yang dikenal karena sikap beraninya terhadap Amerika.
Dalam daftar enam calon Presiden Iran, sosok yang paling menonjol adalah Mohammad Bagher Qalibaf (62), mantan Wali Kota Teheran yang memiliki hubungan dekat dengan paramiliter Garda Revolusi negara itu.
Namun, banyak yang mengingat bahwa Qalibaf, sebagai mantan Jenderal Garda Revolusi, adalah bagian dari tindakan kekeras terhadap mahasiswa Iran pada tahun 1999. Dia juga dilaporkan memerintahkan penggunaan peluru tajam terhadap mahasiswa pada tahun 2003 ketika menjabat sebagai kepala polisi negara tersebut.
Qalibaf gagal mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2005 dan 2013. Dia selanjutnya mengundurkan diri dari pencalonan tahun 2017 untuk mendukung Raisi, tetapi gagal. Raisi baru memenangkan pemilu tahun 2021, dengan jumlah partisipasi pemilih terendah sepanjang pemilihan presiden di Iran, setelah semua lawan besarnya didiskualifikasi.
Kandidat presiden lainnya adalah Saeed Jalili, mantan Jalili, mantan perunding nuklir senior, yang mencalonkan diri pada tahun 2013, dan mendaftar pada tahun 2021 sebelum akhirnya mundur untuk mendukung Raisi.
Selanjutnya, Wali Jota Teheran Alireza Zakani. Ia juga mengundurkan diri dari pencalonan pada Pilpres 2021 untuk mendukung Raisi.
Calon berikutnya adalah Mostafa Pourmohammadi, mantan menteri kehakiman. Lalu, Amirhossein Ghazizadeh Hashemi, Wakil Presiden Raisi, yang mencalonkan diri dalam Pilres 2021 dan menempati posisi terakhir dengan hanya di bawah 1 juta suara.
Masoud Pezeshkian adalah satu-satunya kandidat reformis di antara kelompok garis keras, sehingga dianggap tidak memiliki banyak peluang.
Nama Ahmadinejad kembali didiskualifikasi dari pencalonan. Ahmadinejad semakin menantang Khamenei menjelang akhir masa jabatannya dan dikenang karena tindakan kerasnya yang berdarah terhadap protes Gerakan Hijau tahun 2009.
Ahmadinejad resmi mendaftar sebagai calon pada Minggu (2/6/2024). Pendaftaran mantan pemimpin populis tersebut memberikan tekanan pada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Saat menjabat, Ahmadinejad secara terbuka menantang ulama berusia 85 tahun itu. Sehingga upayanya untuk mencalonkan diri pada tahun 2021 dilarang oleh pihak berwenang.
Ahmadinejad sebelumnya menjabat dua kali masa jabatan, yakni 2005 hingga 2013. Berdasarkan hukum Iran, ia berhak mencalonkan diri lagi setelah empat tahun tidak menjabat.
Selain Ahmadinejad, Dewan PenjagaIran, panel yang mengawasi pemilihan dan legislasi yang terdiri dari ulama dan ahli hukum, juga memblokir mantan ketua parlemen Ali Larijani. Ali merupakan seorang konservatif yang memiliki hubungan kuat dengan mantan Presiden Iran Hassan Rouhani yang relatif moderat. Ini adalah pemilu kedua berturut-turut di mana Larinjani dilarang mencalonkan diri.
Mantan Kepala Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati, yang mencalonkan diri pada tahun 2021, dan Eshaq Jahangiri, yang menjabat sebagai wakil presiden di bawah Presiden moderat Hassan Rouhani, juga didiskualifikasi.
Pilpres dadakan ini di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat terkait tindakan mereka yang mempersenjatai Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Dukungannya terhadap pasukan proksi milisi di seluruh Timur Tengah semakin menjadi sorotan ketika pemberontak Houthi Yaman menyerang kapal-kapal di Laut Merah akibat perang Israel-Hamas di Jalur Gaza.