JAKARTA, (ERAKINI) — Perang di Timur Tengah kian memanas setelah aksi saling balas serangan. Kepala United States Central Command (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan, Iran telah menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone sebagai respons atas serangan AS dan Israel.
Namun, menurut Cooper, serangan berkelanjutan terhadap sistem rudal dan peluncur Iran membuat kemampuan Teheran untuk membalas semakin terbatas.
“Kami melihat kemampuan Iran untuk menyerang kami dan mitra kami menurun, sementara kekuatan tempur kami terus meningkat. Secara keseluruhan, penilaian operasional saya adalah kami berada di depan rencana,” ujar Cooper dilansir Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).
Dari Washington DC dilaporkan, Presiden AS Donald Trump dalam 24 jam terakhir menyebut telah terjadi beberapa gelombang serangan oleh militer Amerika.
Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Keduanya menegaskan gelombang ketiga serangan akan menjadi yang terbesar sejauh ini, dan masih akan dilancarkan.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, sebelumnya menyatakan bahwa militer AS masih terus mengirim tambahan kapal perang, jet tempur, serta personel ke kawasan Timur Tengah.
Fakta tersebut mengindikasikan bahwa operasi militer masih dalam tahap eskalasi, dengan pengerahan kekuatan tambahan yang terus berlangsung.
2.000 Target Diserang
Cooper mengklaim sejak operasi dimulai Sabtu lalu, AS telah menyerang hampir 2.000 target di seluruh wilayah Iran dan menghancurkan 17 kapal milik Iran, termasuk satu kapal selam.
Menurutnya, lebih dari 50.000 personel militer, 200 jet tempur, dua kapal induk, serta pesawat pengebom AS terlibat dalam operasi tersebut.
Ia menyebut pengerahan ini sebagai pembangunan kekuatan militer terbesar AS di Timur Tengah dalam satu generasi.
Bahkan, kata Cooper, jumlah serangan AS dan Israel hampir dua kali lipat dibandingkan operasi “shock and awe” pada awal invasi AS ke Irak tahun 2003.
“Kami telah secara signifikan melemahkan pertahanan udara Iran dan menghancurkan ratusan rudal balistik, peluncur, serta drone,” tegasnya.
Mirip Operasi Israel Lawan Hizbullah
Sementara itu, purnawirawan Jenderal AS sekaligus mantan Asisten Menteri Luar Negeri, Mark Kimmitt, menilai kampanye pengeboman strategis jarang menjadi cara efektif untuk memenangkan perang.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Kimmitt menyebut pendekatan saat ini lebih menyerupai operasi militer Israel terhadap Hizbullah pasca 7 Oktober.
“Shock and awe tidak berhasil di Irak. Namun volume serangan yang masif dan adanya pembunuhan terarah terhadap para pemimpin membuat operasi ini lebih mirip strategi Israel terhadap Hizbullah,” ujarnya.
Ia memprediksi serangan terhadap instalasi militer, fasilitas vital, dan infrastruktur kunci Iran akan terus berlanjut hingga muncul perubahan politik yang diinginkan.
“Sulit memastikan apakah ini akan berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan,” tambahnya.
Korban Tewas Meningkat, Selat Hormuz Memanas
Di sisi lain, AS dan Israel terus menggempur berbagai target di Iran, termasuk gedung Majelis Ahli di Kota Qom, Iran. Laporan terbaru menyebut jumlah korban tewas sejak Sabtu telah mencapai sedikitnya 787 orang.
Teheran tidak tinggal diam. Untuk malam keempat berturut-turut, Iran meluncurkan serangan balasan ke target-target AS dan Israel di Timur Tengah. Selain Kedubes AS di Dubai, serangan juga dilaporkan menyasar sebuah pelabuhan di Fujairah, Uni Emirat Arab.
Situasi semakin genting setelah Iran menyatakan menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Menanggapi hal itu, Trump mengatakan AS siap mengerahkan armada laut untuk mengawal kapal tanker yang melintasi perairan tersebut.
Dampaknya mulai terasa di sektor energi. Irak dilaporkan memperlambat bahkan menghentikan produksi minyak di ladang Rumaila dan proyek West Qurna 2 akibat meningkatnya risiko keamanan.