Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (Foto: AFP).
NEW YORK, (ERAKINI) - Kesepakatan damai yang dicapai Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah menuai respons positif dari berbagai penjuru dunia. Sejumlah negara besar, organisasi internasional, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyambut perkembangan tersebut sebagai peluang besar untuk menghentikan ketegangan dan membuka jalan menuju stabilitas kawasan yang lebih berkelanjutan.
Melansir Arab News, Pemerintah China menjadi salah satu pihak yang secara terbuka memberikan dukungan terhadap tercapainya perjanjian tersebut. Beijing juga memberikan apresiasi kepada Pakistan yang dinilai memainkan peran penting dalam proses mediasi antara kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan dukungan negaranya terhadap hasil diplomasi tersebut. “China menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan,” ujar Lin Jian dalam konferensi pers.
Ia menambahkan bahwa pemerintah China berharap proses penandatanganan dapat berjalan sesuai jadwal dan seluruh poin yang telah disepakati segera direalisasikan. “China berharap bahwa jalur aman dan bebas melalui selat tersebut akan dipulihkan sesegera mungkin,” tambahnya, merujuk pada pentingnya pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Dukungan juga datang dari Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menilai kesepakatan antara Washington dan Teheran sebagai perkembangan yang sangat berarti bagi masa depan kawasan Timur Tengah. Ia mengungkapkan bahwa isu tersebut telah dibahas bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa waktu sebelumnya.
“Jelas, tidak ada yang dijamin, tetapi menurut saya ini adalah terobosan yang signifikan, terobosan yang sangat signifikan. Mudah-mudahan, sesuatu yang, seiring kita bekerja sama, dapat kita wujudkan menjadi perdamaian abadi yang kita semua inginkan,” kata Starmer.
Sementara itu, Jepang juga menyampaikan optimisme terhadap implementasi kesepakatan tersebut. Perdana Menteri Sanae Takaichi berharap seluruh proses berjalan lancar, termasuk normalisasi kembali aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz yang memiliki peran strategis bagi perdagangan dunia.
Melalui pernyataannya, Takaichi menegaskan bahwa Jepang sangat berharap kebebasan dan keamanan navigasi di kawasan tersebut benar-benar dapat diwujudkan. Selain itu, Tokyo juga menginginkan penyelesaian berbagai isu penting lainnya, termasuk persoalan nuklir Iran.
Di Eropa, para pemimpin Uni Eropa menyambut perjanjian damai tersebut sebagai peluang besar untuk membangun perdamaian yang lebih permanen di Timur Tengah.
Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, menyerukan agar konflik segera dihentikan dan seluruh pihak fokus pada upaya pemulihan stabilitas. “Saya berharap perang yang mahal ini segera berakhir dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dapat dipulihkan sepenuhnya,” tulis Costa.
Ia juga menegaskan pentingnya penghentian aksi militer. “Senjata harus dihentikan sekarang. Uni Eropa siap berkontribusi untuk memajukan strategi komprehensif untuk perdamaian abadi di seluruh Timur Tengah,” tegasnya.
Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen menekankan bahwa tahap terpenting saat ini adalah pelaksanaan kesepakatan secara cepat dan menyeluruh. “Prioritas sekarang adalah implementasi yang cepat dan penuh,” ujarnya.
Von der Leyen juga mengingatkan bahwa perdamaian regional tidak akan tercapai apabila konflik di Lebanon masih terus berlangsung. “Tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah selama Lebanon terbakar,” katanya.
Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz memiliki arti yang sangat penting bagi stabilitas ekonomi dunia. Ia juga menilai bahwa penyelesaian akhir harus mampu mengakhiri persoalan program nuklir dan rudal balistik Iran serta berbagai aktivitas yang selama ini memicu ketegangan kawasan.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, turut menyambut baik perkembangan tersebut. Ia menilai kesepakatan damai ini dapat menjadi langkah awal menuju pembukaan kembali Selat Hormuz sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas terkait isu nuklir dan keamanan regional.
Dari sisi PBB, dukungan kuat juga disampaikan oleh Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk. Ia menganggap perjanjian tersebut sebagai langkah positif yang harus segera diwujudkan dalam tindakan nyata. “Saya menyambut baik pengumuman bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kesepakatan damai yang menyediakan gencatan senjata segera dan permanen, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan kerangka kerja untuk negosiasi lebih lanjut,” ujar Türk.
Ia juga mengingatkan pentingnya komitmen seluruh pihak untuk menjaga momentum perdamaian. “Pada saat yang genting ini, jelas bahwa semua pihak perlu menahan diri secara maksimal dan berupaya untuk mengimplementasikan kesepakatan yang telah dicapai dengan cepat dan dengan itikad baik,” tambahnya.
Sikap serupa disampaikan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Ia menyebut perjanjian damai tersebut sebagai perkembangan penting dalam upaya mengakhiri konflik yang selama ini mengguncang Timur Tengah.
“Sekretaris Jenderal berharap bahwa para pihak akan membangun momentum baru ini dan melipatgandakan upaya mereka menuju penyelesaian akhir konflik,” demikian bunyi pernyataan resmi yang disampaikan melalui juru bicaranya.
Guterres juga memberikan penghargaan kepada Pakistan, Qatar, Mesir, Arab Saudi, Turki, serta negara-negara lain yang turut berkontribusi dalam proses diplomasi hingga tercapainya kesepakatan.
“Sekretaris Jenderal menegaskan kembali bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa siap mendukung para pihak dalam mencapai perdamaian yang langgeng dan komprehensif,” lanjut pernyataan tersebut.
Indonesia turut memberikan respons positif terhadap perkembangan ini. Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa kesepakatan damai tersebut merupakan langkah konstruktif yang dapat membantu meredakan ketegangan di kawasan.
Pemerintah Indonesia juga mengajak seluruh pihak untuk terus menahan diri, menghormati komitmen yang telah dibuat, serta menjaga momentum deeskalasi demi terciptanya keamanan dan stabilitas regional yang berkelanjutan.
Di sisi lain, negara-negara E4 yang terdiri atas Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan mereka untuk mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap Iran apabila terdapat langkah nyata terkait program nuklir negara tersebut.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin E4 menegaskan bahwa mereka tetap berkomitmen mencegah Iran memiliki senjata nuklir. “Iran tidak boleh pernah memperoleh senjata nuklir. Kami siap bekerja sama dengan AS, Iran, dan IAEA untuk tujuan ini,” tegas mereka.
Kesepakatan damai AS-Iran kini dipandang sebagai salah satu terobosan diplomatik paling penting dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pihak berharap momentum ini tidak hanya mengakhiri konflik yang sedang berlangsung, tetapi juga membuka babak baru menuju perdamaian yang lebih stabil dan berkelanjutan di Timur Tengah.