Anak-anak sekolah Palestina mendengarkan guru mereka di sebuah sekolah di kamp pengungsi Nuseirat, di Jalur Gaza tengah, 26 Oktober 2025. (Foto: AFP).
LONDON, (ERAKINI) - Tragedi kemanusiaan di Palestina kembali mencatat bab kelam dalam sejarah dunia. Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 20.000 pelajar kehilangan nyawa akibat serangan brutal Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Data memilukan ini diungkap oleh Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi pada Selasa (28/10/2025).
Menurut laporan resmi tersebut, sedikitnya 19.932 siswa tewas dan 30.102 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan militer Israel di wilayah Gaza. Sementara itu, di Tepi Barat, 148 pelajar dilaporkan meninggal dunia, lebih dari 1.000 lainnya terluka, dan 846 orang ditangkap oleh pasukan pendudukan.
Jika digabungkan, jumlah korban di kedua wilayah itu mencapai 20.080 pelajar tewas dan 31.147 luka-luka—angka yang mencerminkan kehancuran besar terhadap masa depan generasi muda Palestina.
Tragedi ini tidak hanya menelan korban di kalangan siswa. Kementerian Palestina juga mencatat 1.037 guru dan tenaga pendidikan tewas, 4.757 lainnya luka-luka, serta lebih dari 228 orang ditangkap selama dua tahun konflik yang tiada henti itu.
Fasilitas pendidikan pun luluh lantak. Di Gaza, 179 sekolah negeri dan 63 gedung universitas hancur total akibat gempuran udara. Lebih dari 100 sekolah milik UNRWA—badan PBB yang mengelola bantuan untuk pengungsi Palestina—juga rusak berat, sebagian dijarah atau dijadikan pos militer oleh pasukan Israel.
Sementara di Tepi Barat, pasukan pendudukan dilaporkan menghancurkan Sekolah Dasar Amira di Yatta, selatan Hebron, serta Sekolah Dasar Aqaba di Tubas. Delapan universitas dan kampus perguruan tinggi juga menjadi sasaran penggerebekan berulang yang mengakibatkan kerusakan parah pada fasilitas pendidikan tinggi di wilayah tersebut.
Laporan dari kantor berita resmi Palestina, Wafa, menggambarkan situasi mengenaskan di lapangan: ribuan anak kehilangan akses pendidikan, sementara sekolah-sekolah yang masih berdiri kini menjadi tempat pengungsian darurat bagi keluarga korban perang.
“Setiap bom yang dijatuhkan bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga masa depan generasi Palestina,” tulis laporan tersebut dengan getir.
Serangkaian lembaga internasional, termasuk Komisi Penyelidikan PBB untuk Palestina, mengecam tindakan Israel yang dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Banyak pihak menilai pola serangan terhadap fasilitas pendidikan dan warga sipil ini sebagai indikasi genosida sistematis terhadap rakyat Palestina.
Beberapa negara menyerukan agar Israel dimintai pertanggungjawaban di forum internasional, sementara organisasi kemanusiaan global mendesak dunia untuk tidak lagi diam melihat penderitaan anak-anak Palestina yang menjadi korban agresi militer.
Dua tahun agresi tanpa henti telah mengubah sekolah-sekolah menjadi puing, guru menjadi martir, dan siswa menjadi angka statistik. Di tengah kehancuran itu, satu hal tetap hidup: semangat rakyat Palestina untuk bertahan dan melindungi hak mereka atas pendidikan dan kebebasan.
“Mereka membunuh masa depan kami, tetapi mereka tidak bisa memadamkan harapan kami,” ujar seorang guru di Gaza yang kehilangan seluruh muridnya dalam serangan udara, dikutip oleh media lokal.