Jenazah korban serangan udara Israel dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada Selasa. (Foto: Reuters).
YERUSALEM, (ERAKINI) - Langit Gaza kembali berubah menjadi merah pada Selasa (29/10/2025) pagi ketika jet tempur melancarkan gelombang ke wilayah yang masih berjuang bangkit dari puing-puing perang. Serangan brutal ini terjadi meskipun yang dijanjikan Amerika Serikat (AS) masih secara resmi berlaku.
Menurut keterangan dari Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya sembilan warga sipil gugur dalam serangan tersebut. Empat korban tewas di kawasan padat penduduk Sabra, Kota Gaza, sementara lima lainnya meninggal ketika mobil mereka dihantam rudal di Khan Younis, Gaza bagian selatan. Di antara korban terdapat perempuan dan anak-anak yang tak sempat menyelamatkan diri.
Serangan ini disebut-sebut sebagai “balasan” atas tuduhan Israel terhadap Hamas yang dianggap melanggar perjanjian gencatan senjata. Namun, banyak pihak menilai alasan tersebut hanyalah dalih untuk melanjutkan agresi terhadap rakyat Palestina.
Sumber dari dalam pemerintahan Israel bahkan mengonfirmasi bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan “serangan besar-besaran” tanpa penjelasan konkret, menunjukkan bahwa keputusan itu lebih bermuatan politik daripada keamanan.
Melansir Arab News, kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober lalu. Perjanjian itu digadang-gadang sebagai langkah menuju perdamaian setelah dua tahun pertumpahan darah yang dimulai akibat serangan 7 Oktober 2023. Namun, bagi rakyat Gaza, “gencatan senjata” itu hanya menjadi jeda singkat di antara bom dan kehancuran.
Selama tiga minggu terakhir, kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa kekuatan yang tidak seimbang membuat Palestina terus menjadi korban. Serangan Israel tak kunjung berhenti, sementara rakyat Gaza semakin terjebak dalam krisis kemanusiaan yang parah.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang baru saja mengunjungi Israel, mengatakan bahwa gencatan senjata “masih berlaku”. Namun, pernyataannya menuai kritik karena dianggap menutup mata terhadap penderitaan warga sipil yang terus berjatuhan akibat serangan udaraIsrael. “Pertempuran kecil” yang ia sebut ternyata menelan puluhan nyawa tak berdosa.
Dalam pernyataannya pada hari yang sama, Netanyahu menuduh Hamas melanggar kesepakatan karena menyerahkan jenazah yang salah kepada Israel. Ia menuding kelompok perlawanan Palestina itu “menipu” dalam proses pertukaran sandera. Namun Hamas membantah keras tudingan tersebut dan menilai Netanyahu hanya mencari alasan untuk membenarkan serangan baru.
Menurut kesepakatan yang ditandatangani, Hamas bersedia membebaskan seluruh sandera yang masih hidup dengan imbalan pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina yang mendekam di penjara Israel. Israel juga diwajibkan menarik pasukannya dari Gaza dan menghentikan operasi militernya. Namun, perjanjian itu tampaknya hanya berlaku di atas kertas.
Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, menegaskan bahwa mereka tetap mematuhi gencatan senjata meskipun Israel terus memprovokasi dengan serangan udara. “Mereka mencari-cari alasan untuk melanjutkan penjajahan,” bunyi pernyataan resmi kelompok tersebut.
Serangan pada Selasa (28/10/2025) itu juga menghantam kawasan permukiman di sekitar Rumah Sakit Shifa, satu-satunya rumah sakit besar yang masih berfungsi di Gaza utara. Ledakan dahsyat menyebabkan sebagian gedung rumah sakit rusak dan memperburuk kondisi pasien yang sebelumnya sudah kekurangan obat dan listrik.
Sementara itu, proses pencarian jenazah sandera terus berlangsung di berbagai wilayah Gaza. Tim penyelamat yang dibantu peralatan dari Mesir menggali reruntuhan di Khan Younis dan Nuseirat. Banyak jenazah diyakini terkubur di jaringan terowongan bawah tanah yang sebelumnya digunakan untuk berlindung dari serangan udaraIsrael.
Foto-foto lapangan menunjukkan pejuang Hamas dan relawan lokal bekerja tanpa henti menggali di bawah reruntuhan, meski bom bisa kembali jatuh kapan saja.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban jiwa akibat agresi Israel telah mencapai lebih dari 68.000 orang, dengan ribuan lainnya masih hilang di bawah puing-puing bangunan. Sementara Israel mengklaim perang ini dimulai sebagai respons terhadap serangan Hamas, dunia internasional menilai kebijakan Netanyahu sebagai bentuk pembersihan etnis dan pelanggaran hak asasi manusia secara terang-terangan.
Meski menjadi mediator, Amerika Serikat dianggap berpihak pada Israel dengan terus memasok bantuan militer dan membenarkan tindakan agresif Tel Aviv. Presiden Trump bahkan menyebut gencatan senjata sebagai “keberhasilan diplomasi,” meski di lapangan, bom buatan Amerika terus menghantam rumah-rumah warga Gaza.
Bagi rakyat Palestina, perdamaian sejati tampak semakin jauh. Gencatan senjata yang dijanjikan hanyalah ilusi, sementara dunia menyaksikan tanpa berdaya ketika anak-anak Gaza kembali menjadi korban ambisi politik dan perang kekuasaan.