Peluang Diplomasi Nuklir, Iran Beri Sinyal Turunkan Pengayaan Uranium sebagai Imbalan Pencabutan Sanksi AS
Akhmad Baihaqi Arsyad







Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, mengungkapkan tawaran tersebut, namun tidak merinci apakah yang dimaksud mencakup seluruh sanksi internasional atau terbatas pada sanksi yang diberlakukan oleh Washington saja.
Inisiatif ini muncul setelah pertemuan tidak langsung antara perwakilan Iran dan AS di Oman pada pekan lalu. Kedua pihak menggambarkan dialog tersebut berlangsung dalam suasana positif serta dinilai konstruktif, meskipun belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Pengurangan kadar pengayaan uranium dilakukan melalui proses pengenceran, yakni mencampur uranium yang telah diperkaya dengan bahan lain agar tingkat pengayaannya turun dan tidak melampaui batas tertentu yang dianggap sensitif.
Sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu, Teheran diketahui telah memperkaya uranium hingga level 60 persen. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015 bersama negara-negara besar dunia, yang kini tidak lagi berlaku.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat bahwa Iran menjadi satu-satunya negara nonpemilik senjata nuklir yang mampu mencapai tingkat pengayaan uranium setinggi itu. Selain itu, keberadaan lebih dari 400 kilogram uranium berkadar tinggi yang dimiliki Iran sebelum konflik juga masih menjadi tanda tanya. Inspektur PBB terakhir kali mencatat lokasi material tersebut pada 10 Juni.
Dengan cadangan sebesar itu, Iran secara teoritis memiliki potensi untuk memproduksi lebih dari sembilan senjata nuklir apabila pengayaan uranium ditingkatkan hingga 90 persen, level yang dibutuhkan untuk keperluan militer.
Di tengah dinamika tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyerukan kepada rakyatnya agar tidak gentar menghadapi tekanan dari pihak asing. Ia menegaskan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak semata-mata diukur dari persenjataan militer. “Kekuatan nasional tidak hanya terletak pada rudal dan pesawat tempur, melainkan pada kemauan serta tekad rakyatnya,” ujar Khamenei. “Tunjukkan kembali kekuatan itu dan gagalkan rencana musuh.”
Meski retorika perlawanan terus digaungkan, Iran secara tersirat menunjukkan keterbukaan untuk mencapai titik temu dengan Amerika Serikat. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya menekan eskalasi dan mencegah konflik lanjutan terkait program nuklir yang telah lama menjadi sorotan dunia.
