AS dan Iran sepakat untuk menghentikan serangan terhadap satu sama lain, kata seorang pejabat senior AS, menurut laporan Axios pada hari Minggu. (Foto: Reuters).
WASHINGTON, (ERAKINI) – Setelah berhari-hari terlibat aksi saling serang yang memicu kekhawatiran dunia, Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan untuk menghentikan sementara operasi militer masing-masing. Kedua negara juga dijadwalkan menggelar perundingan penting di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6/2026) mendatang guna membahas sengketa terkait yang selama ini menjadi titik panas kawasan Teluk.
Laporan sejumlah media Amerika Serikat pada Minggu (28/6/2026) menyebutkan bahwa langkah tersebut membuka peluang meredanya konflik yang sebelumnya mengguncang pasar energi internasional dan menimbulkan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis dunia.
Dalam beberapa hari terakhir, Washington dan Teheran masih terlibat serangan balasan meskipun sebelumnya telah memiliki nota kesepahaman tertanggal 17 Juni. Kesepakatan tersebut dirancang untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak akhir Februari dan menyebabkan gangguan serius terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Berdasarkan kesepakatan awal itu, Iran berkomitmen menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat berjanji mengakhiri pembatasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. "Kami memutuskan untuk menghentikan semua aktivitas kinetik," kata seorang pejabat senior Amerika Serikat kepada Axios, menggunakan istilah militer yang merujuk pada penghentian operasi serangan.
Seorang pejabat AS lainnya menjelaskan bahwa kedua negara sepakat menahan diri dari aksi militer "untuk saat ini". Ia menambahkan bahwa "kapal-kapal dapat bergerak bebas" sambil menunggu hasil pembahasan lanjutan.
Sumber lain yang mengetahui proses diplomatik tersebut mengonfirmasi bahwa delegasi kedua negara akan bertemu di Doha pada Selasa untuk membahas berbagai isu yang masih menjadi ganjalan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump dan Iran telah menyetujui penghentian sementara permusuhan sebelum kembali melanjutkan jalur diplomasi di Qatar. Meski demikian, pemerintah Iran mengisyaratkan masih adanya sejumlah persoalan yang belum terselesaikan. Teheran menilai Washington belum sepenuhnya menjalankan seluruh kewajiban yang tercantum dalam nota kesepahaman tersebut.
Mehdi Fazaeili, anggota Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Pemimpin Tertinggi Iran, mengungkapkan bahwa negaranya tidak menghadiri pembahasan teknis yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu karena beberapa poin kesepakatan belum direalisasikan. Salah satu isu yang dipersoalkan adalah pencairan dana Iran yang sebelumnya dibekukan dan seharusnya sudah dapat diakses sesuai ketentuan kesepakatan.
Kesepakatan penghentian sementara konflik ini muncul setelah terjadinya eskalasi baru pada akhir pekan yang memperlihatkan betapa rapuhnya upaya gencatan senjata tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Minggu pagi mengumumkan telah menyerang 10 sasaran militer Iran sebagai respons atas dugaan ancaman berkelanjutan terhadap pelayaran komersial di kawasan.
Sebagai balasan, Iran mengaku melancarkan serangan ke pangkalan militer AS yang berada di Kuwait dan Bahrain. Aksi tersebut menuai kecaman dari kedua negara Teluk tersebut.
Perselisihan terbaru antara kedua negara berakar pada pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati kawasan tersebut.
Iran tetap bersikukuh bahwa kapal yang melintas harus menggunakan jalur yang berada dekat wilayah pantainya. Teheran juga memperingatkan agar tidak ada upaya menghindari rute yang telah ditetapkan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa penerapan jalur alternatif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz berpotensi menghambat normalisasi pelayaran sekaligus memperbesar risiko ketegangan baru di kawasan.
Kemarahan Iran semakin meningkat setelah Oman mengumumkan pengembangan rute pelayaran alternatif di sepanjang garis pantainya. Jalur tersebut disusun bersama Organisasi Maritim Internasional (IMO) sebagai langkah mengurangi risiko gangguan pelayaran.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran menegaskan akan memperketat pengawasan di Selat Hormuz. Mereka memperingatkan bahwa kapal yang tidak mematuhi ketentuan Iran dapat menghadapi tindakan yang lebih tegas.
Sejumlah pengamat menilai sengketa mengenai Selat Hormuz masih menjadi sumber utama instabilitas kawasan, meskipun upaya diplomasi terbaru mulai menunjukkan kemajuan. Konflik yang berlangsung sejak awal tahun telah mengganggu salah satu jalur energi paling vital di dunia serta memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional, bahkan setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan diberlakukan pada April lalu.
Trump berulang kali menegaskan kesiapan Washington mengambil langkah militer apabila serangan dari Iran terus berlanjut. Pada Sabtu, Trump bahkan memperingatkan bahwa Iran akan "lenyap" jika Amerika Serikat kembali terlibat perang besar dengan negara tersebut.
Pertemuan di Doha nantinya akan menjadi dialog tingkat tinggi pertama antara Washington dan Teheran setelah gelombang serangan terbaru. Agenda utama yang diperkirakan dibahas mencakup keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz serta implementasi penuh nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni lalu.