Keji! Serangan Israel di Gaza Tewaskan 2 Orang dan Hantam Gudang Pasokan Medis
Akhmad Baihaqi Arsyad







Serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah Hamas menyatakan telah menerima rancangan kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Israel. Proposal itu mencakup pelucutan senjata Hamas secara bertahap yang diimbangi dengan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Namun, hingga kini pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi mengenai proposal tersebut. Seorang sumber politik Israel mengatakan kepada AFP bahwa tidak akan ada penarikan pasukan sebelum Hamas benar-benar melaksanakan pelucutan senjata secara menyeluruh.
Menurut pihak Rumah Sakit Al-Shifa, satu orang meninggal dunia dan beberapa lainnya mengalami luka-luka setelah sebuah pesawat nirawak (drone) Israel menyerang kawasan Sheikh Radwan, Kota Gaza.
Militer Israel menyatakan mengetahui adanya operasi di lokasi tersebut dan mengatakan serangan itu ditujukan kepada seorang anggota Hamas. Namun, pihak militer menyebut masih melakukan verifikasi terkait dampak serangan. Serangan lain juga dilaporkan terjadi di Deir el-Balah, wilayah tengah Gaza. Rumah Sakit Al-Aqsa menyatakan menerima satu korban meninggal beserta sejumlah korban luka akibat serangan drone Israel.
Dalam keterangannya, militer Israel kembali menyebut sasaran operasi tersebut adalah seorang anggota sayap militer Hamas. Selain korban jiwa, badan pertahanan sipil Gaza melaporkan serangan Israel juga menghantam fasilitas penyimpanan logistik medis milik Rumah Sakit Al-Aqsa, sehingga menimbulkan kerusakan yang disebut sangat parah.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang menghancurkan fasilitas kesehatan penting. Menurut kementerian, dua dari empat gudang penyimpanan obat-obatan dan perlengkapan medis dilaporkan hancur, sedangkan dua gudang lainnya mengalami kerusakan berat.
Kerusakan juga disebut meluas hingga bangunan klinik rawat jalan yang berada di kompleks rumah sakit. Akibat serangan itu, berbagai persediaan medis, termasuk bahan habis pakai dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menangani pasien maupun korban luka, dilaporkan rusak atau tidak lagi dapat digunakan.
Rekaman dari lokasi memperlihatkan sebuah kawah besar bekas ledakan, sementara puluhan warga Palestina tampak berupaya menyelamatkan perlengkapan medis yang berserakan di sekitar area terdampak.
Salah seorang warga Gaza, Jaber Abed (33), mengatakan dirinya bersama keluarga terpaksa meninggalkan tenda pengungsian yang berada di dekat rumah sakit ketika serangan terjadi saat fajar. Ia berharap konflik segera berakhir agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Meski demikian, ia mengaku masih meragukan kesepakatan gencatan senjata dapat benar-benar diterapkan tanpa adanya tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Di sisi lain, anggota biro politik Hamas, Bassem Naim, menyatakan bahwa proses selanjutnya kini berada di tangan Israel. Ia juga mendesak para mediator internasional agar memberikan tekanan kepada Israel untuk menghentikan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diumumkan pada Oktober lalu, bentrokan dan serangan di lapangan masih terus berlangsung. Israel menyatakan operasi militernya tetap menyasar individu yang disebut sebagai anggota kelompok bersenjata, sementara situasi kemanusiaan di Gaza hingga kini masih menjadi perhatian dunia internasional.
