Iran menuduh Amerika Serikat (AS) melanggar gencatan senjata usai serangan baru pada Selasa (26/5/2026). Selat Hormuz kembali di ambang krisis. (Foto: Hindustan Times).
TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan udara terbaru yang menyasar fasilitas rudal dan kapal penebar ranjau milik Teheran.
Serangan yang terjadi pada Selasa (26/5/2026) itu disebut mengancam jalur diplomasi yang tengah diupayakan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan antara kedua negara. Situasi tersebut langsung memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Meningkatnya eskalasi konflik turut mengguncang pasar energi internasional. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hampir tiga persen setelah Komando Pusat AS mengumumkan operasi militer terbaru terhadap target-target Iran.
Di tengah memanasnya situasi, China menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan tetap menghormati gencatan senjata demi mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Sementara itu, lembaga keselamatan maritim Inggris UKMTO melaporkan sebuah kapal tanker mengalami kerusakan akibat ledakan di dekat pesisir Oman. Meski awak kapal dilaporkan selamat, insiden tersebut menambah ketegangan di kawasan perairan strategis Teluk.
Media pemerintah Iran juga melaporkan adanya ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas yang berada dekat Selat Hormuz. Di waktu bersamaan, Korps Garda Revolusi Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone militer AS yang disebut memasuki wilayah udara Iran serta menyerang jet tempur F-35.
Kementerian Luar Negeri Iran menuding militer AS melakukan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata dalam dua hari terakhir, khususnya di wilayah Hormozgan. Teheran menegaskan tidak akan tinggal diam terhadap tindakan yang dianggap sebagai agresi tersebut.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pesan Iduladha juga melontarkan kritik keras terhadap Washington. Ia menyatakan pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah semakin melemah dan memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak menyediakan pangkalan militer yang dapat dipakai AS untuk melancarkan serangan.
Di sisi lain, juru bicara Komando Pusat AS, Tim Hawkins, menyebut operasi militer terbaru dilakukan sebagai langkah pertahanan diri guna melindungi pasukan Amerika dari ancaman militer Iran. Menurutnya, target serangan meliputi lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga hendak menebar ranjau di perairan strategis.
Meski situasi kembali memanas, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka. Ia mengungkapkan pembicaraan diplomatik masih berlangsung di Qatar, meski proses negosiasi diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari lagi.
Rubio juga menekankan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi lalu lintas perdagangan internasional. Menurutnya, segala bentuk gangguan terhadap jalur pelayaran global dianggap melanggar hukum internasional dan tidak dapat diterima dunia.
Di tengah negosiasi tersebut, kantor berita Tasnim melaporkan Iran tengah mengupayakan pencairan aset-aset negara yang selama ini dibekukan di luar negeri. Nilainya diperkirakan mencapai 24 miliar dolar AS dalam skema nota kesepahaman 14 poin yang sedang dinegosiasikan.
Delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati telah berada di Qatar untuk membahas implementasi tuntutan Iran, termasuk akses terhadap dana tahap awal senilai 12 miliar dolar AS.
Konflik yang bermula dari serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari itu kini kembali berada di titik rawan setelah serangan terbaru mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April lalu.