Para militan Hamas Palestina mengamankan area tersebut sementara para pekerja Mesir yang didampingi anggota Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mencari jenazah sandera Israel terakhir di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza, pada 8 Desember 2025. (Foto: AFP).
DOHA, (ERAKINI) - Seorang petinggi Hamas mengungkapkan bahwa kelompok perlawanan Palestina terbuka untuk skema ‘pembekuan’ senjata sebagai bagian dari gencatan senjata jangka panjang.
Namun, ia menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tuntutan untuk perlucutan total persenjataan. Pernyataan tersebut diungkapkan Khaled Meshaal dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Rabu (11/12/2025).
Meshaal menegaskan bahwa ide melucuti total kekuatan militer Hamas adalah tuntutan yang mustahil diterima, terutama selagi Israel terus mempertahankan pendudukan dan agresinya. “Kami hanya membahas opsi penyimpanan atau pembekuan senjata, bukan menyerah. Itu pun sebagai jaminan agar Israel tidak kembali melancarkan serangan terhadap Gaza,” ujar Meshaal.
Ia menambahkan bahwa proposal tersebut sedang dibahas bersama para mediator, dan jika Amerika Serikat menunjukkan pragmatisme politik, kesepakatan bisa saja dicapai.
Gencatan senjata yang didorong oleh Washington dan berlaku sejak 10 Oktober, setelah perang meletus pasca serangan 7 Oktober 2023, masih jauh dari stabil. Hamas dan Israel saling menuduh melakukan pelanggaran setiap hari.
Kesepakatan gencatan senjata terdiri atas tiga tahap. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini memberi sinyal bahwa proses telah bergerak menuju fase kedua, yang mencakup:
1. Penarikan lebih jauh pasukan Israel dari Gaza
2. Penempatan pasukan internasional (ISF) sebagai ‘stabilisasi’
3. Tuntutan agar Hamas menyerahkan senjatanya
Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump pada akhir bulan untuk membahas langkah berikutnya, sementara Hamas menegaskan tidak akan melepaskan alat pertahanan mereka. “Bagi rakyat Palestina, perlucutan senjata sama saja mencabut nyawa mereka,” kata Meshaal, menolak keras tuntutan Israel.
Pertukaran Tahanan dan Jenazah
Pada fase pertama, Hamas telah menyerahkan 48 sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, dengan satu jenazah yang masih belum diserahkan.
Sebagai imbalannya, Israel membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan mengembalikan ratusan jenazah korban agresi sebelumnya.
Meshaal juga mengatakan bahwa Hamas bersedia menerima pasukan internasional yang ditempatkan di sepanjang perbatasan Gaza–Israel, mirip model UNIFIL di Lebanon. Namun ia menolak keras jika pasukan internasional masuk ke dalam wilayah Gaza.
Menurutnya, keberadaan pasukan asing di dalam Gaza identik dengan bentuk baru pendudukan. “Pasukan internasional di perbatasan? Kami tidak keberatan. Tapi jika mereka masuk ke Gaza, itu sama saja dengan memperpanjang penjajahan,” tegas Meshaal.
Ia menambahkan bahwa mediator, negara Arab, dan negara mayoritas Muslim dapat berperan sebagai penjamin bahwa Gaza tidak akan memulai eskalasi. “Ancaman yang sebenarnya datang dari entitas Zionis, bukan dari Gaza,” katanya.