Pada hari Jumat (27/12/2025), Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai "negara merdeka dan berdaulat" dan menandatangani perjanjian untuk menjalin hubungan diplomatik antara kedua negara. (Foto: AFP).
YERUSALEM, (ERAKINI)-Israel mencatatkan langkah diplomatik dengan menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui Republik sebagai dan berdaulat. Keputusan yang diumumkan pada Jumat (26/12/2025) tersebut berpotensi mengubah peta politik kawasan Tanduk sekaligus memicu ketegangan baru dengan Somalia yang selama ini menolak keras upaya pemisahan wilayah tersebut.
Melansir Arab News, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya akan segera menjalin kerja sama strategis dengan Somaliland di berbagai sektor, mulai dari pertanian, kesehatan, teknologi, hingga pengembangan ekonomi. Dalam pernyataan resminya, Netanyahu menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi, memuji kepemimpinannya, serta mengundangnya untuk melakukan kunjungan resmi ke Israel.
Netanyahu menegaskan bahwa pengakuan ini sejalan dengan semangat Kesepakatan Abraham, inisiatif diplomatik yang digagas pada era Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kesepakatan tersebut, yang ditandatangani pada 2020, membuka jalan normalisasi hubungan Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain, sebelum kemudian diikuti negara-negara lain.
Deklarasi pengakuan timbal balik itu ditandatangani langsung oleh Netanyahu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar, dan Presiden Somaliland, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi pemerintah Israel.
Menanggapi pengakuan tersebut, Presiden Abdullahi menyatakan bahwa Somaliland siap bergabung dalam Kesepakatan Abraham. Ia menyebut langkah ini sebagai kontribusi nyata bagi perdamaian regional dan global, serta menegaskan komitmen negaranya untuk membangun kemitraan, mendorong kesejahteraan bersama, dan memperkuat stabilitas di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Namun, keputusan Israel ini menuai kecaman dari sejumlah negara. Mesir menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Badr Abdelatty telah melakukan komunikasi intensif dengan mitranya dari Somalia, Turki, dan Djibouti untuk membahas apa yang mereka sebut sebagai perkembangan berbahaya di kawasan Tanduk Afrika.
Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir, para menteri tersebut secara tegas mengecam pengakuan Israel terhadap Somaliland. Mereka menegaskan dukungan penuh terhadap persatuan dan keutuhan wilayah Somalia, serta memperingatkan bahwa pengakuan terhadap wilayah separatis dapat menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.
Somaliland sendiri telah menikmati stabilitas relatif dan pemerintahan otonom sejak 1991, ketika Somalia terjerumus dalam perang saudara. Meski demikian, wilayah bekas protektorat Inggris itu hingga kini belum memperoleh pengakuan resmi dari negara mana pun di dunia.
Selama bertahun-tahun, pemerintah Somalia secara aktif melobi komunitas internasional agar menolak setiap upaya pengakuan terhadap Somaliland. Meski begitu, otoritas di Hargeisa berharap pengakuan Israel akan menjadi pemicu bagi negara-negara lain untuk mengikuti langkah serupa, sekaligus memperluas akses diplomatik dan ekonomi Somaliland ke pasar global.
Sebelumnya, pada Maret lalu, Somalia dan Somaliland sama-sama membantah kabar adanya proposal dari Amerika Serikat atau Israel terkait rencana pemukiman ulang warga Palestina dari Gaza. Pemerintah Somalia secara tegas menyatakan penolakan terhadap wacana tersebut.