Ayatollah Khamenei Klaim Iran Menang Lawan AS-Israel, Siap Tuntut Balasan dan Kuasai Selat Hormuz
Thomas Pulungan







Dalam pesan yang dirilis pada Kamis (9/4/2026), bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, pemimpin baru tersebut menguraikan sejumlah hal penting terkait perang yang disebut dipaksakan oleh AS dan Israel terhadap Iran, serta menekankan keteguhan dan ketahanan rakyat Iran.
Pesan itu diawali dengan kutipan ayat Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, memberi petunjuk kepadamu ke jalan yang lurus, dan menolongmu dengan kemenangan yang besar.”
“Saudara-saudari sebangsa! Hari ini, hingga titik ini dalam kisah pertahanan suci ketiga yang dipaksakan, dapat dengan tegas dinyatakan bahwa kalian, rakyat Iran yang heroik, telah menjadi pemenang sejati dalam arena ini,” ujar Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilansir kantor berita Tasnim, Jumat (10/4/2026).
Ia mengatakan, kemunculan Republik Islam sebagai kekuatan besar serta kemunduran imperialisme kini semakin jelas terlihat oleh semua pihak.
“Ini tanpa diragukan merupakan karunia Ilahi yang dianugerahkan kepada kita melalui darah pemimpin kita yang gugur dan para syuhada lainnya, para warga tertindas, serta bunga-bunga yang berguguran di sekolah pohon mulia Minab," katanya.
“Melalui doa dan permohonan rakyat kepada Tuhan Yang Maha Esa, partisipasi aktif mereka di jalanan, lingkungan, masjid, serta pengorbanan tanpa pamrih, karunia ini diberikan kepada rakyat Iran,” lanjutnya.
Pada 28 Februari, hari pertama agresi AS-Israel terhadap Iran, sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab dihantam rentetan rudal AS hingga hancur total, menyebabkan sekitar 170 siswi gugur.
Ayatollah Khamenei menegaskan bahwa bentuk nyata rasa syukur atas karunia Ilahi tersebut adalah melalui “upaya tanpa henti untuk mewujudkan Iran yang kuat.”
Ia menekankan perlunya keterlibatan publik secara berkelanjutan untuk mencapai tujuan strategis tersebut, sebagaimana ditetapkan oleh pemimpin yang gugur.
“Apa yang dibutuhkan saat ini untuk mewujudkan slogan dan tujuan strategis pemimpin yang gugur adalah kehadiran berkelanjutan rakyat kita, sebagaimana telah mereka lakukan selama 40 hari terakhir. Kehadiran ini merupakan pilar utama dari posisi Iran kuat saat ini,” tegasnya.
Ia menolak anggapan bahwa negosiasi dengan pihak musuh akan mengurangi kebutuhan partisipasi publik.
“Oleh karena itu, bahkan jika diasumsikan kita memasuki fase ‘hening militer’, setiap warga yang mampu tetap berkewajiban meningkatkan partisipasi di jalan, lingkungan, dan masjid.”
Ia juga menegaskan bahwa suara rakyat di jalanan memiliki dampak terhadap proses negosiasi, menyusul gencatan senjata dua pekan yang diumumkan pada Rabu.
Tetangga Selatan dan Selat Hormuz
Pemimpin tersebut turut menyampaikan pesan kepada negara-negara tetangga di selatan Iran agar menyadari dinamika yang terjadi di kawasan.
“Kepada tetangga selatan kami, saya katakan: kalian sedang menyaksikan sebuah mukjizat. Maka lihatlah dengan benar dan pahami dengan baik, berdirilah di posisi yang tepat, dan waspadalah terhadap janji palsu pihak jahat," ucapnya.
“Kami masih menunggu respons yang tepat dari kalian, agar kami dapat menunjukkan persaudaraan dan niat baik,” sebutnya.
Kata dia, hal itu tidak akan terwujud tanpa menjauh dari kekuatan besar yang arogan. “Dengan izin Tuhan, kami tidak akan membiarkan para pelaku kejahatan yang menyerang negara kami lolos tanpa hukuman,” tukasnya.
Ia menambahkan, Iran akan menuntut kompensasi atas seluruh kerusakan, termasuk diyat bagi para korban tewas dan luka. “Kami juga akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru,” ujarnya.
Ayatollah menegaskan sikap tegas terkait masa depan. “Kami tidak mencari perang, dan tidak pernah, tetapi kami juga tidak akan meninggalkan tuntutan sah kami. Kami akan mempertimbangkan seluruh Front Perlawanan dalam setiap perhitungan dan tindakan,” katanya.
Ia juga mengimbau rakyat Iran untuk tetap bersatu dan saling membantu menghadapi tekanan akibat perang.
“Kekurangan akibat perang harus dihadapi bersama. Tentu saja, kekurangan di pihak musuh jauh lebih parah, dan berkat upaya pemerintah serta lembaga terkait, kondisi ini sebagian besar telah terkendali.”
