Harga minyak dunia kembali naik seiring meningkatnya kekhawatiran atas rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul gelombang serangan Israel ke Lebanon. Foto: Ilustrasi
Teheran memperingatkan akan memberikan “respons yang menimbulkan penyesalan” jika serangan terus berlanjut. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan pasukannya akan tetap berada di kawasan hingga Iran mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang disebutnya sebagai “yang sebenarnya”.
Sebelumnya, harga minyak sempat merosot pada Rabu (8/4) setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata, termasuk pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz. Namun, laporan bahwa Iran masih akan menutup jalur pelayaran tersebut akibat eskalasi terbaru kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah Brent sebagai acuan global hari ini naik 2% ke level USD96,53 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di AS naik 2,8% menjadi USD97,02 per barel.
Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap situasi yang oleh Wakil Presiden AS JD Vance disebut sebagai “gencatan senjata yang rapuh”.
Pasar saham global turut terdampak. Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melemah 0,5%. Di Eropa, indeks FTSE 100 Inggris turun 0,4%, DAX Jerman terkoreksi 1,3%, dan CAC Prancis melemah 0,8%.
Kepala investasi Interactive Investor, Victoria Scholar, menilai pasar saat ini diliputi ketidakpastian. “Ada kegelisahan di pasar global. Investor mulai menarik kembali sebagian keuntungan karena belum jelas apakah Selat Hormuz benar-benar sudah dibuka,” ujarnya, dilansir BBC.
Senada, analis strategi OCBC Singapura, Sim Moh Siong, menyebut arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz akan menjadi perhatian utama dalam beberapa hari ke depan. Hal ini seiring belum jelasnya bagaimana Iran akan mengatur lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Iran Minta AS Hentikan Serangan
Dalam kesepakatan gencatan senjata, salah satu poin penting adalah jaminan keamanan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, perusahaan pialang pelayaran SSY mengungkapkan bahwa angkatan laut Iran telah memperingatkan kapal-kapal di Teluk bahwa setiap pelayaran tanpa izin akan “ditargetkan dan dihancurkan”.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan negaranya siap menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, ia menegaskan pembukaan kembali jalur tersebut hanya akan dilakukan setelah “Amerika Serikat menghentikan agresi”, yang diduga merujuk pada seranganIsrael ke Lebanon.
Sejauh ini, masih terdapat perbedaan pandangan mengenai apakah Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan akan melanjutkan negosiasi dengan Iran di Pakistan pada Sabtu.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz pun belum pulih. Sejak kesepakatan diumumkan, hanya sedikit kapal yang melintas—jauh di bawah rata-rata sekitar 130 kapal per hari sebelum konflik.
Perusahaan pelacakan maritim Pole Star Global memperkirakan dibutuhkan setidaknya 10 hari untuk mengurai antrean kapal, bahkan jika jalur tersebut kembali beroperasi normal.
Sementara itu, perusahaan intelijen maritim Windward menyebut kondisi pelayaran belum menunjukkan perubahan signifikan, baik dari sisi risiko maupun jumlah kapal yang melintas.
Bahkan dalam skenario terbaik, diperlukan waktu berminggu-minggu untuk memindahkan kargo minyak dan gas yang tertahan, serta berbulan-bulan bagi perdagangan global untuk kembali ke tingkat sebelum krisis.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara seperti Malaysia, India, dan Filipina telah melakukan negosiasi untuk memastikan jalur aman bagi kapal-kapal mereka.