Pendiri raksasa properti China Evergrande, Hui Ka Yan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah dinyatakan bersalah atas sejumlah tindak pidana. Foto: WeChat via BBC
Dilansir BBC, Kamis (20/8/2026), Pengadilan Menengah Rakyat Shenzhen juga memerintahkan penyitaan seluruh harta pribadi Hui. Perusahaan-perusahaan yang pernah dipimpinnya dikenai denda total 15,82 miliar yuan atau sekitar USD2,35 miliar (Rp41,85 triliun kurs Rp18.810/USD), atas berbagai pelanggaran, termasuk pemalsuan catatan dan penyembunyian utang. Hui sendiri mengaku bersalah atas sejumlah dakwaan tersebut.
Pengadilan menyatakan Hui dan perusahaan-perusahaannya telah “secara serius mengganggu” pasar properti China, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.
Vonis tersebut menjadi salah satu titik penting dalam proses hukum setelah keruntuhan Evergrande, yang mengguncang sektor properti China dan berdampak luas terhadap investor serta perbankan domestik.
Sejumlah eksekutif Evergrande lainnya juga dijatuhi hukuman. Dua putra Hui, Xu Zhijian dan Xu Tenghe, masing-masing mendapat hukuman penjara antara 22 bulan hingga 18 tahun, menurut media pemerintah China.
Anak Desa ke Pengembang Kakap
Hui pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia. Namun, kekayaan dan pengaruh Hui terus merosot seiring dengan runtuhnya Evergrande.
Hui, yang juga dikenal dengan nama Xu Jiayin, berasal dari keluarga sederhana di pedesaan China. Ia dibesarkan oleh neneknya sebelum terjun ke bisnis pengembangan properti dan mendirikan Evergrande pada 1996.
Ia memimpin pertumbuhan pesat perusahaan tersebut melalui program ekspansi agresif yang dibiayai dengan pinjaman dalam jumlah besar.
Evergrande kemudian menjadi pengembang properti terbesar di China, dengan valuasi di pasar saham yang pernah mencapai lebih dari USD50 miliar. Sehingga Hui pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia.
Perusahaannya mengalami pukulan besar ketika Beijing memperkenalkan berbagai langkah pada 2020 untuk mengendalikan utang di sektor properti negara tersebut.
Ketika perusahaan kesulitan membayar bunga atas utang-utangnya, Evergrande menjual properti dengan diskon sangat besar untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya, sebelum akhirnya kolaps pada 2021.
Pada April, pengadilan mendengar bahwa perusahaan telah menerima dana jutaan dolar dari pembayaran di muka calon pembeli rumah, tetapi dana tersebut tidak digunakan untuk pembangunan.
Sebaliknya, uang tersebut dialihkan ke proyek-proyek properti baru, yang kemudian menyebabkan ratusan proyek tidak selesai.
Pada Maret 2024, Hui didenda USD6,5 juta dan dilarang seumur hidup beraktivitas di pasar modal China setelah perusahaannya terbukti melebihkan pendapatannya sebesar USD78 miliar.
Valuasi Evergrande di pasar saham menyusut 99% sebelum saham perusahaan tersebut dihapus dari Bursa Hong Kong pada Agustus 2025, setelah diperdagangkan selama lebih dari satu setengah dekade.
Keruntuhan Evergrande sering disebut sebagai salah satu pemicu kemerosotan yang lebih luas di pasar properti China, yang hingga kini masih memberikan tekanan besar terhadap perekonomian.
Pada masa kejayaannya, Evergrande merupakan perusahaan terbesar di industri real estat China. Pada saat itu, sektor tersebut menyumbang sekitar sepertiga produk domestik bruto (PDB) China.