Menteri kabinet Israel sekaligus mantan panglima militer Gadi Eisenkot ditenangkan oleh seorang pelayat, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampak bereaksi, dalam upacara pemakaman Gal Meir Eisenkot (25 tahun)—seorang tentara Israel yang gugur di Gaza utara saat operasi darat militer Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza—di Herzliya, Israel, 8 Desember 2023. (Foto: Reuters).
BEIRUT, (ERAKINI) – Kesepakatan yang dicapai Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk meredakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah dinilai berpotensi menimbulkan kerugian politik besar bagi Perdana Menteri , . Sejumlah analis, diplomat, dan mantan pejabat menilai bahwa dampak paling serius dari kesepakatan tersebut bukanlah pada strategi keamanan terhadap , melainkan terhadap citra politik Netanyahu yang selama puluhan tahun dibangun sebagai sosok yang mampu memengaruhi kebijakan Washington.
Selama karier politiknya, Netanyahu dikenal sebagai pemimpin Israel yang mengklaim memiliki akses dan pengaruh istimewa terhadap para pemimpin Amerika Serikat. Ia membangun reputasi sebagai figur yang mampu menjaga keselarasan kepentingan strategis antara Washington dan Tel Aviv, khususnya dalam menghadapi Iran.
Melalui hubungan erat dengan kalangan Partai Republik, Netanyahu berupaya menampilkan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin Israel yang sanggup memengaruhi arah kebijakan presiden-presiden AS dari berbagai periode pemerintahan. Ia juga secara konsisten mendorong pendekatan tekanan militer sebagai cara utama untuk menghadapi Teheran.
Pada masa kejayaannya, sejumlah diplomat bahkan menjulukinya sebagai "pembisik Amerika" karena kemampuannya menjalin komunikasi langsung dengan Washington dan memengaruhi perhitungan strategis Negeri Paman Sam. Tidak banyak pemimpin Israel yang mampu membangun jaringan politik sedemikian kuat di Amerika Serikat atau berpidato berulang kali di hadapan Kongres AS.
Namun situasi kini berubah drastis. Kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran yang bertujuan mengakhiri perang yang pecah sejak Februari lalu justru memperlihatkan berkurangnya pengaruh Netanyahu. Jika sebelumnya ia dianggap mampu membentuk kebijakan AS terkait Iran, kini ia dinilai berada dalam posisi yang harus menerima keputusan yang dibuat Washington.
Presiden AS, Donald Trump, disebut semakin fokus pada penyelesaian konflik dan mulai memandang keberatan Israel sebagai hambatan bagi upaya diplomasi yang sedang dibangun.
Mantan pejabat AS, Dennis Ross, menilai Netanyahu menghadapi tekanan berat dari dua arah. Di satu sisi, ia berhadapan dengan Trump yang ingin mengakhiri konflik. Di sisi lain, basis pendukungnya di dalam negeri menolak berbagai bentuk kompromi, terutama yang berkaitan dengan Lebanon.
Kondisi tersebut menempatkan Netanyahu dalam posisi sulit. Menarik pasukan dapat memicu kritik politik di dalam negeri, sementara memperluas operasi militer berpotensi memicu ketegangan dengan Washington. Konflik yang sebelumnya diharapkan memperkuat warisannya sebagai pemimpin yang berani menghadapi Iran justru berisiko dikenang sebagai penyebab melemahnya fondasi kekuatan politiknya.
Di tengah tekanan internasional, hubungan yang semakin rumit dengan sekutu terdekatnya, serta ancaman politik menjelang pemilu, Netanyahu dinilai sedang menghadapi salah satu periode paling rentan dalam kariernya.
Saat perang dengan Iran dimulai, Netanyahu menjanjikan kemenangan total. Namun berbagai target utama yang diusungnya belum tercapai, mulai dari runtuhnya pemerintahan Iran, kekalahan penuh Hizbullah di Lebanon, hingga jaminan keamanan bagi warga Israel yang tinggal di wilayah utara. "Kesepakatan AS-Iran merupakan pukulan telak bagi Netanyahu," kata Aviv Bushinsky.
Ia menambahkan, "Dia tidak hanya kalah dalam perang melawan Iran, tetapi juga kehilangan Trump sebagai teman. Kini dia tidak hanya terisolasi di tingkat internasional, tetapi juga terjebak dalam perselisihan besar dengan Trump."
Pihak kantor Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik tersebut. Dalam konferensi pers bulan ini, Netanyahu menegaskan bahwa hubungannya dengan Trump tetap kuat meskipun terdapat sejumlah perbedaan pandangan.
Menurutnya, hubungan keduanya adalah kemitraan yang "sering kali sepakat namun terkadang berbeda pendapat." Ia juga menuding adanya upaya sistematis untuk mengecilkan keberhasilan Israel dalam menghadapi Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Teheran.
Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan hubungan Trump dan Netanyahu tetap solid. Pemerintah AS juga menyebut militer Israel sebagai mitra penting dalam operasi yang diklaim telah melemahkan kemampuan militer Iran.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv kini semakin terlihat. Trump berusaha mengurangi keterlibatan Amerika dalam konflik Timur Tengah, sedangkan Netanyahu masih memandang tekanan terhadap Iran dan Hizbullah sebagai kebutuhan strategis bagi keamanan Israel.
Dalam beberapa bulan terakhir, Washington diketahui meningkatkan jalur komunikasi langsung dengan Teheran dan memasukkan konflik Lebanon ke dalam kerangka diplomasi yang lebih luas. Menurut sejumlah sumber diplomatik kawasan, langkah tersebut secara perlahan mengurangi peran Israel dalam proses pengambilan keputusan strategis.
Perubahan sikap juga mulai terlihat dari negara-negara Arab. Sejumlah negara yang sebelumnya diperkirakan akan semakin dekat dengan Israel kini mengambil pendekatan lebih hati-hati. Mereka memperlambat proses normalisasi hubungan dengan Tel Aviv sambil membuka kembali jalur komunikasi dengan Teheran.
Perang di Gaza, persoalan Tepi Barat, serta meningkatnya persepsi bahwa kebijakan Netanyahu justru menjadi beban bagi stabilitas kawasan disebut sebagai faktor yang mengubah kalkulasi politik negara-negara Arab.
Seorang pejabat Iran bahkan menyebut bahwa ambisi Netanyahu memperluas kerja sama regional melalui Abraham Accords kini menghadapi hambatan besar karena sejumlah negara mulai mempertimbangkan pendekatan yang lebih sejalan dengan kepentingan Teheran. "Ini bukan sekadar kemenangan bagi Iran. Ini adalah kegagalan bagi Netanyahu," ujar pejabat tersebut.
Menurutnya, Republik Islam Iran tidak hanya mampu bertahan dari tekanan konflik, tetapi juga berhasil keluar dari krisis dengan posisi yang lebih kuat dan pengaruh yang semakin besar di kawasan Timur Tengah.