Search

Milisi Pro-Iran Ancam Serang AS, Timur Tengah di Ambang Perang Baru

JAKARTA, (ERAKINI) — Timur Tengah di ambang perang baru. Dua milisi yang didukung Iran di Irak dan Yaman mengisyaratkan kesiapan melancarkan serangan baru, seiring memuncaknya ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat.

Langkah ini dipandang sebagai upaya menunjukkan dukungan terhadap Teheran, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang membuka opsi aksi militer atas penindasan brutal terhadap protes nasional di Iran.

Dilansir Associated Press, Senin (26/1/2026), pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran memberi sinyal kemungkinan kembali menyerang jalur pelayaran di Laut Merah. Sinyal tersebut muncul tak lama setelah kelompok paramiliter Irak, Kataib Hezbollah—yang memiliki hubungan erat dengan Garda Revolusi Iran—mengeluarkan ancaman langsung pada Minggu malam terhadap pihak mana pun yang menyerang Iran, dengan peringatan bahwa kawasan akan terjerumus ke dalam “perang total”.

Meski demikian, baik Houthi maupun Kataib Hezbollah tidak terlibat dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu, ketika Amerika Serikat turut mengebom fasilitas nuklir Iran. Sikap menahan diri ini mencerminkan masih terpecahnya apa yang oleh Teheran disebut sebagai “Poros Perlawanan”, terutama setelah serangkaian serangan Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza dan kelompok sekutunya di kawasan.

Ancaman dari Irak dan Yaman
Houthi merilis sebuah video singkat yang menampilkan kapal terbakar dengan keterangan singkat, “Segera.” Kelompok tersebut kemudian menayangkan ulang rekaman serangan Januari 2024 di Teluk Aden terhadap kapal tanker Marlin Luanda berbendera Kepulauan Marshall. Serangan itu merupakan bagian dari kampanye Houthi yang menyasar lebih dari 100 kapal, yang diklaim sebagai tekanan terhadap Israel atas perang di Gaza.

Houthi menghentikan serangan setelah tercapainya gencatan senjata, namun berulang kali menegaskan mereka siap melanjutkan aksi militer jika situasi menuntut.

Sementara itu, pemimpin Kataib Hezbollah Ahmad “Abu Hussein” al-Hamidawi mengeluarkan pernyataan bernada keras. “Kami menegaskan kepada para musuh bahwa perang melawan Republik Islam bukanlah hal mudah. Kalian akan merasakan bentuk kematian paling pahit, dan tak akan tersisa apa pun dari kalian di wilayah kami,” ujarnya.

Ancaman ini muncul seiring pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali menuju kawasan Timur Tengah. Trump menyebut pengerahan armada tersebut dilakukan “untuk berjaga-jaga”, jika ia memutuskan mengambil langkah militer terhadap Iran.

Trump sebelumnya menetapkan dua garis merah yang dapat memicu serangan, yakni pembunuhan terhadap pengunjuk rasa damai serta eksekusi massal terhadap warga yang ditangkap dalam penindasan demonstrasi.

Poros Perlawanan Melemah
Aliansi “Poros Perlawanan” selama ini memungkinkan Iran memproyeksikan pengaruhnya di Timur Tengah sekaligus berfungsi sebagai penyangga keamanan agar konflik tidak langsung menyentuh wilayah Iran. Namun poros ini kian melemah setelah Israel menargetkan Hamas, Hizbullah di Lebanon, serta kelompok lain selama perang Gaza.

Pada 2024, situasi kian memburuk ketika pemberontak menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad setelah perang saudara berdarah bertahun-tahun—konflik yang selama ini didukung Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam percakapan dengan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani pada Minggu malam, memperingatkan Irak mengenai besarnya pengaruh Iran.

“Pemerintahan yang dikendalikan Iran tidak akan mampu mengutamakan kepentingan nasional Irak, menjauhkan negara itu dari konflik regional, maupun memajukan kemitraan yang saling menguntungkan antara Amerika Serikat dan Irak,” demikian pernyataan resmi atas nama Rubio.

Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara, daratan, maupun perairan teritorialnya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran. Pemerintah UEA menekankan pentingnya dialog dan penyelesaian diplomatik.

Iran Perbarui Ancaman, Batasi Penerbangan
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigjen Reza Talaei-Nik, kembali melontarkan peringatan kepada AS dan Israel. Ia menegaskan bahwa setiap serangan akan “dibalas dengan respons yang lebih menyakitkan dan lebih tegas dibandingkan sebelumnya”.

Televisi pemerintah Iran mengutip Talaei-Nik yang menyebut ancaman tersebut memaksa Teheran untuk “menjaga kesiapsiagaan penuh dan menyeluruh”.

Senada, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan bahwa dampak ketidakamanan tidak akan terbatas pada Iran saja. “Ketidakamanan di kawasan bersifat menular,” ujarnya.

Iran juga memamerkan spanduk ancaman di Lapangan Enghelab, Teheran, yang menampilkan kapal induk USS Abraham Lincoln dipenuhi mayat dan bercucuran darah, disertai tulisan:“Jika kamu menabur angin, kamu akan menuai badai.”

Namun Iran masih terpukul oleh perang 12 hari pada Juni lalu yang menghancurkan sebagian besar sistem pertahanan udaranya, menewaskan sejumlah pemimpin militer senior, serta membuat fasilitas pengayaan nuklirnya dibom Amerika Serikat.

Sebagai langkah pengamanan, Iran mengeluarkan pemberitahuan kepada pilot pada Minggu yang melarang penerbangan pesawat kecil swasta di wilayahnya, kecuali untuk penerbangan industri minyak dan medis darurat. Sejumlah maskapai Barat pun mulai menghindari wilayah udara Iran, meski beberapa maskapai Teluk Arab yang melayani rute ke Moskow masih menggunakan jalur tersebut.