Pasukan keamanan Israel dikerahkan di kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki, untuk menutup akses warga Palestina ke pusat kota, menjelang prosesi umat Yahudi religius menuju makam Atnaeil Ben Kinaz selama Sukkot, 9 Oktober 2025. (Foto: AFP).
LONDON, (ERAKINI) - Di tengah gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hamas, pasukan pendudukan Israel kembali melancarkan operasi penangkapan besar-besaran di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Sepanjang bulan Oktober 2025 saja, 442 warga Palestina, termasuk tiga perempuan dan 33 anak-anak, ditangkap secara brutal dari rumah mereka, menurut laporan terbaru dari organisasi-organisasi pembela tahanan Palestina.
Penangkapan paling banyak terjadi di Kegubernuran Betlehem, wilayah selatan Tepi Barat yang telah lama menjadi sasaran operasi militer Israel, sebagaimana dilansir dari Arab News.
“Penangkapan dilakukan dengan cara penggerebekan dini hari, disertai intimidasi, interogasi lapangan, dan kekerasan fisik,” ungkap laporan gabungan dari Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan, Perhimpunan Tahanan Palestina, dan Addameer atau Asosiasi Dukungan Tahanan dan Hak Asasi Manusia.
Laporan tersebut menegaskan bahwa interogasi lapangan yang dilakukan di berbagai kota di Tepi Barat telah meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. Banyak warga ditahan tanpa surat perintah resmi, sementara rumah-rumah mereka digeledah dengan alasan keamanan yang tidak pernah dijelaskan.
Hingga akhir Oktober, organisasi-organisasi HAM Palestina mencatat lebih dari 9.250 warga Palestina kini mendekam di penjara-penjara Israel. Sebagian besar dari mereka tidak pernah diadili atau didakwa secara hukum, tetapi ditahan di bawah sistem penahanan administratif, sebuah kebijakan warisan kolonial yang memungkinkan Israel menahan seseorang tanpa pengadilan hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
“Sebagian besar tahanan disekap hanya berdasarkan kecurigaan atau alasan keamanan yang tidak jelas,” tulis laporan tersebut.
Jumlah tersebut belum termasuk ratusan warga Gaza yang ditangkap dan ditahan di kamp-kamp penahanan militer, termasuk di Sde Teiman, fasilitas berkeamanan tinggi yang terkenal dengan perlakuan kejam terhadap tahanan Palestina.
Laporan-laporan dari organisasi HAM internasional menyebut Sde Teiman sebagai salah satu lokasi dengan pelanggaran hak asasi manusia paling parah, di mana para tahanan mengalami penyiksaan, kelaparan, dan isolasi ekstrem.
Meski Israel mengklaim semua penahanan dilakukan sesuai hukum, bukti di lapangan menunjukkan praktik sistematis penindasan dan pelecehan terhadap warga Palestina, termasuk anak-anak dan remaja yang dituduh melempar batu atau sekadar berada di lokasi protes.
Gelombang penangkapan ini terjadi di tengah upaya pertukaran tahanan yang menjadi salah satu syarat utama gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada Oktober lalu.
Dalam kesepakatan tersebut, Hamas membebaskan sejumlah sandera Israel, sementara Israel melepaskan sebagian tahanan Palestina, meskipun jumlahnya masih jauh dari seimbang.
Bagi rakyat Palestina, penjara Israel bukan hal baru. Sejak tahun 1967, ribuan tokoh politik, aktivis, dan warga sipil Palestina telah melewati tembok besi penjajahan itu, termasuk tokoh besar seperti Yahya Sinwar, mantan kepala sayap militer Hamas, dan Hussein Al-Sheikh, yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden Palestina.