Sebuah pesawat bersiap untuk mendarat di atas kapal USS George H.W. Bush di lokasi yang tidak diketahui; gambar diam ini diambil dari video rilis dan dirilis pada 14 Juli 2026. (Foto: Reuters).
LONDON, (ERAKINI) – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah sebuah serangan menghantam Pulau Qeshm, wilayah strategis milik Iran yang berada di kawasan Teluk. Insiden terbaru ini menambah panjang daftar eskalasi militer yang terjadi di sekitar , jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa proyektil menghantam salah satu lokasi di Pulau Qeshm pada Selasa (14/7/2026) malam waktu setempat. Otoritas setempat menyebut serangan tersebut berasal dari pihak yang mereka identifikasi sebagai musuh Amerika.
Menurut laporan penyiar nasional Iran, IRIB, serangan terjadi sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Sementara itu, kantor berita Fars melaporkan beberapa ledakan terdengar di berbagai titik pulau tersebut. Kawasan Messn disebut menjadi salah satu area yang kembali menjadi sasaran setelah sebelumnya juga mengalami serangan dalam beberapa hari terakhir.
Pulau Qeshm memiliki posisi penting karena terletak tidak jauh dari Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Serangan terbaru ini terjadi setelah Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya terhadap sejumlah target di Iran, termasuk wilayah pelabuhan selatan seperti Bushehr dan Bandar Abbas.
Militer AS menyatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional dan kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan Teluk.
Eskalasi terbaru muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan akan memberlakukan kembali blokade terhadap Iran di kawasan Selat Hormuz. Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Teheran yang kemudian meningkatkan serangan terhadap sejumlah target di negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Washington.
Situasi ini semakin memperburuk hubungan kedua negara yang sebelumnya telah mengalami ketegangan berkepanjangan terkait keamanan maritim, program nuklir, dan pengaruh geopolitik di Timur Tengah.
Dampak konflik mulai dirasakan sektor pelayaran internasional. Pemerintah Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal komersial menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz. Insiden tersebut menyebabkan seorang awak kapal tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. Otoritas Emirat menyebut serangan tersebut sebagai ancaman serius terhadap keamanan navigasi internasional.
Di lokasi terpisah, perusahaan keamanan maritim MTI Network melaporkan sebuah kapal tanker Norwegia mengalami kerusakan akibat ledakan misterius di perairan lepas pantai Oman. Hingga kini penyebab pasti ledakan tersebut masih dalam penyelidikan.
Ketegangan juga merembet ke Kuwait. Militer Kuwait mengungkapkan bahwa salah satu kapal angkatan lautnya menjadi sasaran serangan yang mereka tuduhkan berasal dari Iran. Empat personel militer dilaporkan mengalami luka-luka dalam insiden tersebut. Seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis dan disebut berada dalam kondisi stabil.
Pihak militer Kuwait juga mengklaim berhasil menggagalkan serangan yang lebih besar dengan mencegat satu rudal balistik, lima rudal jelajah, serta 33 pesawat nirawak yang diarahkan ke sejumlah lokasi strategis dan sipil.
Meski demikian, puing-puing dari proyektil yang berhasil dicegat tetap menyebabkan kerusakan material di beberapa wilayah. Warga Kuwait City dilaporkan sempat mendengar ledakan saat sistem pertahanan udara beroperasi.
Sementara itu, Bahrain kembali meningkatkan status kewaspadaannya setelah mendeteksi serangan baru yang diklaim berasal dari Iran. Pemerintah Bahrain membunyikan sirene peringatan serangan udara dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta segera menuju lokasi perlindungan yang aman.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyatakan langkah tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan setelah sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat sejumlah ancaman yang masuk.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran disebut terus melancarkan serangan terhadap berbagai target di Kuwait, Bahrain, dan sejumlah negara Teluk lainnya sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat di wilayah Iran.
Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran internasional bahwa konflik yang semula berpusat pada hubungan Washington dan Teheran dapat berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.
Kawasan Teluk sendiri merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi energi terbesar di dunia. Gangguan terhadap stabilitas wilayah tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok minyak dan gas global, sekaligus meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.