Militer Israel memblokir jalan saat warga Palestina (tidak terlihat dalam foto) melakukan protes menentang permukiman di dekat Hebron, di Tepi Barat yang diduduki Israel. (Foto: Reuters).
RAMALLAH, (ERAKINI) – Di tengah sorotan dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina, pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat terus berlanjut. Pada Kamis (16/7/2026), sejumlah keluarga Israel mulai menempati permukiman baru yang dibangun di puncak Gunung Ebal, kawasan yang menjulang di atas Kota Nablus dan menjadi bagian dari wilayah yang diduduki.
Langkah tersebut kembali memicu kekhawatiran mengenai semakin menyusutnya ruang hidup warga Palestina serta meluasnya proyek permukiman yang selama ini dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional.
Melansir Arab News, Dewan Regional Samaria, sebutan yang digunakan Israel untuk wilayah utara Tepi Barat, mengumumkan bahwa kelompok pemukim pertama telah mulai menempati kawasan baru bernama Ebal. "Pagi ini, keluarga-keluarga dari kelompok perintis Ebal sedang memindahkan perlengkapan mereka dan menempati karavan di permukiman baru Ebal yang didirikan di Samaria," demikian pernyataan Dewan Regional Samaria.
Rekaman video yang disebarkan dewan tersebut memperlihatkan sejumlah pemukim membawa kardus, furnitur, dan berbagai perlengkapan rumah tangga ke deretan rumah portabel yang telah berdiri di lokasi. Sebuah jalan baru yang telah diaspal terlihat membelah kawasan tersebut, sementara bendera Israel berkibar di sepanjang area permukiman yang saat ini terdiri atas sekitar 10 unit rumah portabel.
Pembangunan permukiman baru itu menambah daftar panjang ekspansi Israel di Tepi Barat. Di luar Yerusalem Timur, lebih dari 500 ribu warga Israel kini tinggal di berbagai permukiman yang dibangun di wilayah yang diduduki sejak 1967. Sementara itu, sekitar tiga juta warga Palestina hidup berdampingan dalam kondisi yang semakin tertekan akibat perluasan kawasan permukiman dan pembatasan akses.
Menurut hukum internasional, seluruh permukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat dinyatakan ilegal. Namun pembangunan terus berlangsung dari tahun ke tahun.
Bagi warga Palestina, keberadaan permukiman baru di Gunung Ebal bukan sekadar persoalan pembangunan fisik, melainkan simbol semakin menyempitnya ruang gerak dan kebebasan mereka di tanah sendiri.
Gunung Ebal selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan alam yang menjadi tempat warga Palestina menikmati udara segar dan pemandangan sekitar Nablus. Kini, kawasan tersebut berubah menjadi titik baru ekspansi permukiman Israel.
Gubernur Nablus, Ghassan Daghlas, mengatakan warga Palestina semakin merasakan kondisi terkepung akibat pembangunan permukiman dan kehadiran militer Israel di sekitar kota tersebut.
"Warga Palestina biasa pergi ke Gunung Ebal untuk berjalan-jalan dan menghirup udara segar, namun hari ini mereka telah memutus akses udara kami dengan mengepung Nablus dari segala sisi melalui permukiman dan serangan," ujarnya.
Menurut Daghlas, keberadaan kamp militer Israel serta permukiman yang telah lebih dulu berdiri di Gunung Gerizim juga semakin mempersempit ruang hidup masyarakat Palestina di sekitar Nablus.
Di sisi lain, otoritas permukiman Israel menegaskan bahwa proyek Ebal masih akan terus berkembang. Kepala Dewan Regional Samaria, Yossi Dagan, menyebut kawasan tersebut dirancang untuk menampung ratusan keluarga Israel dalam beberapa tahun mendatang.
"Kami sedang membangun permukiman yang berkembang pesat di sini yang akan menerangi seluruh wilayah, dan ini merupakan langkah besar menuju perluasan kehadiran kami di seluruh area Samaria utara," kata Dagan.
Ia memperkirakan sedikitnya 600 keluarga akan menetap di permukiman baru tersebut ketika pembangunan selesai sepenuhnya.
Perluasan permukiman di Tepi Barat terus meningkat di bawah pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang kerap disebut sebagai salah satu pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Peace Now, pemerintah Netanyahu telah menyetujui pembangunan 102 permukiman baru di Tepi Barat sejak menjabat. Bagi banyak pihak, percepatan pembangunan permukiman tersebut semakin memperumit upaya mewujudkan perdamaian yang adil antara Palestina dan Israel.
Di tengah terus meluasnya proyek kolonisasi di wilayah pendudukan, warga Palestina menghadapi kenyataan pahit berupa berkurangnya akses terhadap lahan, sumber daya, serta ruang hidup yang selama ini menjadi bagian dari tanah leluhur mereka.