Para migran Maroko tengah mengikuti rute kepulangan ke negara asal setelah Tentar Spanyol menginstruksikan agar meninggalkan kota Ceuta (Foto: RTVE,)
JAKARTA, (ERAKINI) - Situasi di Kota Otonom Ceuta, Spanyol, mulai berangsur normal setelah beberapa hari dilanda gelombang kedatangan migran tidak berdokumen dari Maroko. Aparat militer dan kepolisian terus mengawal proses pemulangan para migran menuju perbatasan El Tarajal.
Minggu (2/8/2026), pada Sabtu (1/8/2026) kemarin, sekelompok tentara mengiringi puluhan migran dari Plaza de la Constitución menuju Pantai La Ribera. Dari lokasi tersebut, mereka kemudian diarahkan ke Pantai El Tarajal sebelum dipulangkan ke Maroko melalui perbatasan yang sebelumnya mereka lintasi dengan berenang.
Sepanjang jalur pesisir, aparat membentuk barisan untuk memastikan para migran mengikuti rute yang telah ditentukan. Meski demikian, sebagian migran berupaya melarikan diri dan kembali ke pusat kota untuk bersembunyi agar tidak ditemukan petugas.
Pemerintah memasang penghalang di perairan dekat perbatasan guna mencegah kedatangan migran baru dari Maroko.
Di kawasan pantai, suasana sempat diwarnai perdebatan warga. Sebagian meminta aparat segera menemukan para migran yang bersembunyi, sementara warga lainnya meminta agar mereka tidak diperlakukan secara berlebihan.
Sejumlah migran juga berusaha meyakinkan tentara bahwa mereka memiliki keluarga di Ceuta dan ingin tetap tinggal di kota tersebut. Namun, mereka akhirnya diminta kembali mengikuti rombongan menuju perbatasan.
Sementara itu, aktivitas masyarakat mulai kembali berlangsung normal. Toko dan restoran yang sebelumnya tutup telah kembali beroperasi, sementara warga terlihat berbelanja dan menikmati suasana pantai bersama keluarga.
"Situasinya jauh lebih tenang dibanding beberapa hari lalu," ujar salah seorang warga.
Meski demikian, ia mengakui masih banyak migran yang belum meninggalkan kota.
Warga juga mengeluhkan tumpukan sampah dan bau tidak sedap yang ditinggalkan setelah ribuan migran bermalam di ruang terbuka sejak tiba di Ceuta.
Di tengah proses pemulangan, tidak semua migran bersedia kembali ke Maroko. Salah satunya adalah Fana, perempuan berusia 36 tahun asal Maroko yang mengatakan ingin membangun kehidupan baru di Spanyol.
Dia mengaku tentara memperlakukannya dengan baik selama proses pengawalan dan tidak menggunakan kekerasan. Namun, ia mengklaim sempat mendapat penolakan dari sebagian warga Ceuta.
"Sebagian warga takut kepada kami. Ada juga yang menyerang warga Maroko," katanya.
Meski demikian, Fana juga menceritakan adanya warga yang memberikan bantuan berupa makanan, air minum, hingga pakaian setelah ia menghabiskan malam di pusat kota.
Menurutnya, kesempatan kerja di Maroko sangat terbatas sehingga ia berharap bisa memperoleh pekerjaan di Spanyol. Dia mengatakan memiliki latar belakang pendidikan fisioterapi dan menguasai tiga bahasa.
Fana juga mengaku terdorong datang ke Ceuta setelah melihat informasi di media sosial yang menyebut Spanyol membutuhkan tenaga kerja.
"Saya ingin bekerja dan membantu keluarga saya," ujarnya.
Taman Kota Mulai Kosong
Pemandangan serupa terlihat di Taman Jardines de la Argentina yang sehari sebelumnya dipenuhi migran. Kini kawasan tersebut hampir kosong dan hanya menyisakan tumpukan sampah yang sedang dibersihkan petugas.
Di lokasi itu, Nadia, perempuan asal Casablanca, mengatakan dirinya datang bersama tiga temannya, tetapi terpisah sejak tiba di Ceuta.
"Saya tidak ingin kembali ke Maroko. Saya ingin mengubah hidup saya karena tidak memiliki pilihan lain," katanya.
Proses Pemulangan Tetap Ikuti Aturan Hukum
Pemerintah Spanyol sebelumnya mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Maroko untuk memulangkan para migran secepat mungkin. Namun, proses tersebut tetap harus mengikuti ketentuan dalam Undang-Undang Keimigrasian Spanyol.
Aturan tersebut mewajibkan pemeriksaan setiap kasus secara individual dengan batas waktu 72 jam. Apabila proses administrasi melebihi batas tersebut, migran dapat ditempatkan hingga 60 hari di pusat detensi imigrasi.
Di Ceuta sendiri tidak terdapat pusat detensi, sedangkan Pusat Penampungan Sementara Imigran (CETI) dilaporkan telah melebihi kapasitas.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Spanyol, dalam beberapa hari terakhir antara 50.000 hingga 60.000 migran memasuki Ceuta dari Maroko. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 48.300 orang telah kembali ke Maroko.