Foto yang diambil pada 8 Mei 2026 ini memperlihatkan kapal tanker minyak mentah Odessa — yang mengangkut minyak mentah UEA setelah melintasi Selat Hormuz dengan transponder Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) dalam keadaan mati — sedang dipandu oleh kapal tunda saat melintasi perairan di pelabuhan Daesan, Seosan, Korea Selatan. (Foto: Reuters).
DUBAI, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Iran dituding berada di balik serangkaian serangan terbaru terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Insiden ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan sekaligus mengancam keberlangsungan yang baru saja disepakati antara Teheran dan Washington.
Berdasarkan laporan Axios yang mengutip dua pejabat Amerika Serikat, pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan meluncurkan sedikitnya dua rudal ke arah kapal-kapal niaga yang tengah melintas di Selat Hormuz pada Senin malam. Akibat serangan tersebut, dua kapal dagang mengalami kerusakan berat, meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa.
Di waktu yang hampir bersamaan, badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), mengungkapkan bahwa sebuah kapal tanker minyak yang sedang berlayar ke arah selatan, sekitar delapan mil laut di timur Limah, Oman, terkena hantaman benda berpeluru yang belum diketahui asal-usulnya.
Menurut UKMTO, proyektil tersebut menghantam sisi kiri kapal dan memicu kebakaran di atas dek. Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun pencemaran lingkungan yang dilaporkan. Otoritas terkait saat ini masih melakukan investigasi untuk mengungkap pelaku di balik serangan tersebut.
Sementara itu, Associated Press yang mengutip sumber militer Inggris menyebutkan belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas insiden terbaru tersebut. Namun, Iran kembali menjadi sorotan karena dalam beberapa hari terakhir juga dituding terkait dengan serangan terhadap sedikitnya dua kapal lain yang beroperasi di sekitar perairan Oman.
Menyikapi situasi yang semakin tidak menentu, UKMTO mengeluarkan peringatan kepada seluruh kapal yang beroperasi di kawasan tersebut agar meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan aktivitas mencurigakan yang ditemukan selama pelayaran.
Gelombang serangan ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan penghentian konflik serta menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri ketegangan dan memulihkan aktivitas di salah satu jalur distribusi energi tersibuk dunia.
Sebelumnya, Selat Hormuz sempat menjadi pusat gejolak Timur Tengah ketika Iran memberlakukan pembatasan pelayaran dan sejumlah kapal komersial menjadi sasaran serangan. Kondisi itu menyebabkan harga minyak global melonjak tajam. Amerika Serikat kemudian merespons dengan pengerahan armada laut dan melancarkan operasi balasan setelah menuding Teheran mengancam keamanan pelayaran internasional.
Walaupun aktivitas pelayaran mulai pulih pascagencatan senjata, Iran menegaskan bahwa sistem pelayaran tidak akan kembali seperti sebelum konflik. Pemerintah Teheran mengharuskan kapal-kapal menggunakan jalur tertentu yang telah ditetapkan di sepanjang pesisir Iran.
Peringatan keras kembali disampaikan oleh komando militer gabungan Iran pekan lalu. Seluruh kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz diwajibkan mengikuti rute yang telah mendapat persetujuan dari otoritas Iran.
"Setiap kegagalan untuk mematuhi aturan, penyimpangan dari rute yang telah ditetapkan, atau pengabaian terhadap protokol navigasi Republik Islam Iran di Selat Hormuz akan ditanggapi dengan tindakan segera dan tegas dari angkatan bersenjata, yang membahayakan keamanan kapal yang melanggar tersebut," tegas pernyataan resmi Iran.
Dalam pernyataan yang sama, Teheran juga mengingatkan bahwa campur tangan militer Amerika Serikat di kawasan itu "akan ditanggapi dengan reaksi cepat dan tegas."
Sebagai bagian dari kesepakatan sementara, Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menyetujui kebijakan yang memungkinkan kapal-kapal melintas tanpa biaya selama 60 hari. Namun, Iran tetap bersikeras memegang kendali atas pengaturan rute pelayaran dan berencana memberlakukan tarif lintas kapal setelah masa transisi berakhir. Kebijakan tersebut menuai penolakan dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk.
Upaya Oman bersama salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membuka jalur alternatif di dekat perairan Oman juga sempat memicu ketegangan baru, menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih sangat rentan.
Serangan terbaru ini semakin memperjelas betapa rapuhnya kesepakatan damai yang telah dicapai. Padahal, Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan energi global. Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi jalur tersebut setiap hari sepanjang 2024, setara hampir 20 persen pasokan minyak dunia.
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, aktivitas ekspor minyak dari negara-negara Teluk tetap berjalan. Data pelayaran yang dihimpun LSEG dan Kpler menunjukkan dua kapal tanker raksasa milik Jepang sedang menuju Selat Hormuz pada Selasa dengan muatan masing-masing sekitar dua juta barel minyak mentah asal Arab Saudi.
Kedua kapal tersebut dioperasikan oleh Nippon Yusen KK dan Kawasaki Kisen Kaisha. Mereka mengikuti enam kapal tanker super yang lebih dulu meninggalkan kawasan Teluk sehari sebelumnya dengan total muatan mencapai 12 juta barel minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Dengan keberangkatan armada terbaru tersebut, total minyak mentah yang diangkut kapal-kapal terkait Jepang dari kawasan Teluk sepanjang pekan ini diperkirakan mencapai 16 juta barel. Angka itu membantu mengurangi penumpukan pasokan yang sempat tertahan akibat konflik sebelumnya.
Pergerakan kapal-kapal tanker tersebut menunjukkan bahwa eksportir energi dan perusahaan pelayaran global terus berupaya mengembalikan normalitas distribusi minyak dari kawasan Teluk. Namun, rentetan serangan terbaru menjadi pengingat bahwa risiko keamanan di Selat Hormuz masih menjadi ancaman serius yang sewaktu-waktu dapat mengguncang pasar energi dunia.