Hamas menolak proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan Amerika Serikat dan telah disetujui Israel. Pejabat senior Hamas menilai proposal tersebut hanya akan memperburuk situasi. Foto: Ilustrasi/Reuters vis BBC
JAKARTA, (ERAKINI) - Hamas menolak proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) dan telah disetujui Israel. Pejabat senior Hamas menilai proposal tersebut hanya akan memperburuk situasi di .
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt sebelumnya mengungkapkan bahwa Israel telah menyetujui rencana gencatan senjata tersebut. Proposal gencatan senjata tersebut telah diserahkan olehutusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, kepada Hamas.
Namun, anggota biro politik Hamas, Basem Naim, menegaskan bahwa isi proposal tidak memenuhi tuntutan rakyat Palestina, terutama penghentian perang. “Meski begitu, pimpinan Hamas masih membahas respons dengan penuh tanggung jawab nasional,” ujarnya dilansir Reuters, Jumat (30/5/2025).
Pejabat Hamas lainnya, Sami Abu Zuhri, menambahkan bahwa proposal tersebut tidak mencakup jaminan penghentian perang secara permanen, penarikan pasukan Israel dari Gaza, atau akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Seorang pejabat senior Hamas kepada BBC juga menyatakan bahwa kelompok bersenjata Palestina tersebut menolak proposal terbaru dari AS itu. Pejabat senior Hamas itu menilai kesepakatan tersebut bertentangan dengan diskusi sebelumnya antara para negosiator kelompok itu dan Witkoff.
Ia juga menegaskan proposal itu tidak menjamin gencatan senjata permanen, maupun kembalinya protokol kemanusiaan yang sebelumnya memungkinkan ratusan truk bantuan masuk ke Gaza setiap hari selama gencatan senjata terakhir. Meski begitu, ia menambahkan bahwa Hamas tetap berhubungan dengan para mediator dan akan menyampaikan tanggapan tertulisnya dalam waktu dekat.
Pemerintah Israel belum memberikan komentar terkait proposal terbaru dari AS ini. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah mengatakan kepada keluarga para sandera bahwa ia menerima rencana Witkoff.
Mengutip pernyataan pejabat setempat, rencana gencatan senjata tersebut mencakup penyerahan 10 sandera hidup dan jenazah 18 sandera oleh Hamas dalam dua tahap. Hal ini sebagai imbalan atas gencatan senjata selama 60 hari dan pembebasan tahanan Palestina di penjara Israel.
Israel melancarkan serangan militer di Gaza sebagai respons atas serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang lainnya. Israel telah memberlakukan blokade total di Gaza dan melanjutkan serangan militernya terhadap Hamas pada 18 Maret, setelah gencatan senjata dua bulan yang dimediasi AS, Qatar, dan Mesir runtuh.
Israel menyebut tujuannya adalah memberi tekanan pada Hamas agar membebaskan 58 sandera yang masih ditahan, yang setidaknya 20 di antaranya diyakini masih hidup. Pada 19 Mei, militer Israel melancarkan serangan yang diperluas, di mana Netanyahu mengatakan pasukannya akan “menguasai seluruh wilayah” Gaza. Sehari kemudian, ia mengatakan Israel juga akan melonggarkan blokade dan mengizinkan masuknya “jumlah makanan dasar” ke Gaza untuk mencegah kelaparan.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, hampir 4.000 orang telah tewas di Gaza dalam 10 minggu terakhir. Sementara PBB melaporkan bahwa 600.000 orang lainnya kembali mengungsi akibat operasi darat dan perintah evakuasi Israel.
Sebuah laporan dari IPC yang didukung PBB memperingatkan bahwa sekitar 500.000 orang menghadapi tingkat kelaparan yang sangat parah dalam beberapa bulan mendatang. Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa perang akan berakhir hanya jika semua sandera dibebaskan, Hamas dilucuti senjatanya atau dihancurkan, dan para pemimpinnya diasingkan.
Hamas telah menyatakan siap membebaskan semua sandera yang mereka tahan, dengan syarat Israel menghentikan seluruh agresinya dan sepenuhnya menarik diri dari Gaza.