Momen Lautan Manusia Iringi Perjalanan Terakhir Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Melintasi Teheran
Akhmad Baihaqi Arsyad
TEHERAN, (ERAKINI)

TEHERAN, (ERAKINI)

Peti jenazah Khamenei yang dibalut bendera nasional Iran diarak bersama peti jenazah beberapa anggota keluarganya yang turut tewas dalam serangan udara pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut terjadi pada fase awal konflik bersenjata antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Seluruh peti jenazah diangkut menggunakan kendaraan khusus dan dibawa menuju Bandara Internasional Mehrabad sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi lain yang telah ditetapkan dalam agenda pemakaman kenegaraan.
Pemerintah Iran memperkirakan jutaan warga akan turun ke jalan untuk mengikuti prosesi tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus dukungan terhadap sistem pemerintahan yang berkuasa.
Besarnya antusiasme masyarakat mengingatkan pada pemakaman pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989. Menurut laporan kantor berita negara IRNA, sekitar 10 juta orang menghadiri prosesi tersebut. Namun, membludaknya massa kala itu memicu insiden fatal yang menyebabkan lebih dari 10 orang meninggal dunia dan lebih dari 10.000 lainnya mengalami luka-luka.
Sejak Minggu (5/7/2026), ribuan warga telah memadati kompleks Grand Mosalla di Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei dan empat anggota keluarganya yang menjadi korban serangan udara Israel yang disebut Iran didukung informasi intelijen dari Amerika Serikat.
Untuk menghindari insiden desak-desakan, otoritas memasang pembatas beton besar yang memisahkan pelayat dari area tempat peti jenazah disemayamkan.
Hingga kini, pemerintah belum menjelaskan secara rinci seberapa dekat masyarakat dapat mengakses iring-iringan jenazah selama prosesi berlangsung. Langkah pengamanan ketat dilakukan mengingat pengalaman traumatis pada pemakaman Khomeini lebih dari tiga dekade lalu. Saat itu, aparat bahkan harus menggunakan helikopter untuk membawa jenazah ke lokasi pemakaman setelah ribuan pelayat menyerbu kendaraan pengangkut jenazah hingga kain kafan robek dan jasad sempat terjatuh.
Selain menjadi momen perpisahan bagi tokoh yang memimpin Iran selama lebih dari 35 tahun, rangkaian pemakaman ini juga dimanfaatkan pemerintah untuk menunjukkan bahwa negara tersebut tetap solid usai menjalani lima pekan konflik bersenjata melawan Israel dan Amerika Serikat.
Ketua Parlemen Iran sekaligus tokoh penting dalam perundingan dengan Washington, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan pesan melalui platform X mengenai penghormatan rakyat terhadap para korban. Ia menulis bahwa “bangsa Iran Islam yang bangga dan tak terkalahkan secara bulat” memberikan penghormatan kepada para “syuhada”.
Prosesi penghormatan akan berlanjut ke kota suci Qom pada Selasa, kemudian diteruskan ke Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu. Seluruh rangkaian akan ditutup dengan pemakaman Khamenei di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis mendatang.
Dalam upacara sebelumnya, tiga putra Khamenei terlihat hadir di hadapan publik. Namun perhatian justru tertuju pada tidak munculnya Mojtaba Khamenei, sosok yang disebut-sebut ditunjuk untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Pemerintah menyatakan Mojtaba mengalami luka akibat serangan udara yang menewaskan ayahnya. Meski demikian, kondisi kesehatannya hingga kini belum diungkap secara rinci.
Sementara itu, Komandan baru Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi, juga terlihat menghadiri prosesi pemakaman. Kehadirannya menjadi sorotan karena pendahulunya tewas dalam serangan yang sama pada akhir Februari lalu.
Tokoh penting lainnya yang turut muncul adalah Esmail Qaani, pemimpin Pasukan Quds Garda Revolusi yang selama ini jarang terlihat di depan publik dan bertanggung jawab atas berbagai operasi luar negeri Iran.
Di tengah upaya pemerintah menampilkan kesan persatuan nasional, sejumlah mantan presiden Iran yang masih hidup justru tidak tampak menghadiri rangkaian acara. Ketidakhadiran mereka memicu spekulasi karena hubungan beberapa mantan pemimpin tersebut dengan Khamenei diketahui pernah mengalami ketegangan politik.
Pemerintah Iran juga berupaya menunjukkan besarnya dukungan publik setelah gelombang demonstrasi besar yang terjadi pada Januari lalu. Sejumlah organisasi hak asasi manusia sebelumnya menuding aparat melakukan tindakan represif yang menyebabkan ribuan korban jiwa.
Di sisi lain, situasi keamanan kawasan Timur Tengah masih berada dalam kondisi rapuh. Meski gencatan senjata dan kesepakatan awal telah tercapai, baik Teheran maupun Washington sama-sama memperingatkan bahwa konflik dapat kembali pecah sewaktu-waktu.
Nuansa tuntutan balas dendam pun mewarnai prosesi pemakaman Khamenei. “Para pembunuh (Khamenei) harus dihukum,” kata seorang pria berusia 38 tahun yang memperkenalkan dirinya dengan nama belakang Miremadi kepada AFP saat menghadiri doa bersama pada Minggu.
Seorang perempuan berusia 39 tahun bermarga Bakand juga menyampaikan seruan serupa. “Kami mendukung revolusi dan pemimpin kami, serta menuntut pembalasan atas darah orang-orang terkasih kami,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun, Khamenei dikenal sebagai tokoh yang mengambil sikap keras terhadap negara-negara Barat. Di bawah kepemimpinannya, Teheran memberikan dukungan kepada berbagai kelompok bersenjata anti-Amerika Serikat dan anti-Israel di kawasan Timur Tengah, termasuk Hamas di Palestina dan Hizbullah di Lebanon. Kedua kelompok tersebut turut mengirimkan delegasi untuk menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi pemimpin Iran tersebut.




