Timur Tengah Membara, AS dan Iran Kembali Saling Gempur saat Negosiasi Terhenti
Akhmad Baihaqi Arsyad
TEHERAN, (ERAKINI) - Teheran kembali menjadi sorotan setelah Amerika Serikat dan Iran mengonfirmasi aksi saling serang terbaru pada Senin (1/6/2026). Eskalasi ini semakin mengguncang gencatan senjata yang sejak awal berjalan rapuh, sementara upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik masih menemui jalan buntu.
Selama beberapa pekan terakhir, perundingan antara Washington dan Teheran berlangsung alot. Meski berbagai proposal telah dipertukarkan, kedua negara belum berhasil mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang maupun membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berperan vital dalam distribusi minyak dunia.
Perbedaan mendasar masih membayangi meja perundingan. Amerika Serikat menuntut jaminan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran menginginkan sejumlah tuntutan lain dipenuhi, termasuk penghentian konflik di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.
Ketegangan semakin meningkat ketika Israel memperluas operasi militernya di Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan pasukannya akan terus bergerak lebih jauh ke wilayah tersebut untuk menghadapi kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Di tengah situasi itu, militer Amerika Serikat mengumumkan telah melancarkan serangan yang disebut sebagai tindakan pertahanan diri terhadap fasilitas radar dan pusat kendali drone Iran di wilayah selatan negara tersebut. Serangan itu disebut sebagai respons atas jatuhnya pesawat nirawak MQ-1 milik AS dan menjadi gelombang ketiga dalam kurun waktu lebih dari sepekan.
Tak lama berselang, Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran menyatakan telah membalas dengan menargetkan pangkalan udara yang digunakan militer untuk melancarkan operasi tersebut. Meski demikian, lokasi pangkalan yang dimaksud tidak diungkapkan secara rinci.


















