Saparuddin, perwira Polda Sulawesi Tengah yang mengemban amanah sebagai petugas haji di Arab Saudi pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi. (Foto: MCH 2026).
MAKKAH, (ERAKINI) - Di tengah padatnya arus jutaan jemaah haji dari berbagai negara, sosok berseragam yang sigap mengatur pergerakan bus, menenangkan jemaah yang kebingungan, hingga memastikan lansia tiba dengan selamat di tujuan, menjadi bagian penting dari suksesnya penyelenggaraan ibadah haji.
Salah satunya adalah Iptu Saparuddin, perwira Polda Sulawesi Tengah yang mengemban amanah sebagai petugas haji di Arab Saudi pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Saat musim haji memasuki fase pemulangan, kisah pengabdian mantan Kapolsek Mori Atas, Polres Morowali Utara itu menjadi potret dedikasi aparat negara dalam memberikan pelayanan terbaik kepada sekitar 221 ribu jemaah haji Indonesia.
Lulus Seleksi Ketat, Digembleng di Poge
Kesempatan bertugas di Tanah Suci bukanlah hal yang datang begitu saja. Untuk menjadi petugas haji, Saparuddin harus melalui serangkaian seleksi terbuka yang diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
Prosesnya meliputi seleksi administrasi, pemeriksaan kesehatan, tes berbasis komputer (CAT), hingga wawancara. Saat mengikuti seleksi, ia masih menjabat sebagai Kapolsek Mori Atas. Setelah dinyatakan lulus, Saparuddin bersama peserta lain mengikuti pendidikan dan pelatihan semi-militer selama 20 hari di Asrama Haji Pondok Gede.
Pelatihan tersebut bertujuan membentuk karakter petugas yang tangguh, disiplin, dan siap menghadapi dinamika pelayanan haji di Arab Saudi. Mereka digembleng oleh instruktur gabungan dari unsur TNI, Polri, dan Kementerian Haji dan Umrah.
Mengendalikan 140 Bus Shalawat
Di Arab Saudi, Saparuddin dipercaya mengemban tugas sebagai Wakil Kepala Pos Terminal Ajyad. Bersama timnya, ia mengoordinasikan operasional 140 armada bus shalawat yang melayani sekitar 22.262 jemaah haji Indonesia yang tersebar di wilayah Misfalah, Mekah.
Bus shalawat menjadi moda transportasi vital yang mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan sebaliknya selama 24 jam.
Di tengah kepadatan jemaah internasional yang juga memanfaatkan kawasan terminal, peran petugas menjadi krusial untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan keselamatan seluruh jemaah. "Terminal bukan hanya dipenuhi jemaah Indonesia, tetapi juga jemaah dari berbagai negara. Dibutuhkan pengendalian yang tegas, cepat, namun tetap humanis," ujar Saparuddin.
Selain bertugas di terminal, Saparuddin juga terlibat dalam Satuan Operasi Armuzna, khususnya pada fase mabit di Muzdalifah. Tahun ini, operasi pendorongan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina dinilai berhasil. Seluruh jemaah haji Indonesia dapat digeser ke Mina sebelum pukul 07.00 waktu Arab Saudi.
Tidak hanya itu, pelaksanaan mabit berlangsung tanpa kasus menonjol dan tidak ada jemaah Indonesia yang harus berjalan kaki menuju Mina.
Sebelum fase puncak haji dimulai, Saparuddin bersama tim juga bertanggung jawab memastikan seluruh jemaah dari sektor 7, 8, dan 9 wilayah Misfalah dapat diberangkatkan ke Arafah.
Sebanyak 22.262 jemaah berhasil diberangkatkan dengan aman, termasuk jemaah sakit dan lanjut usia. Proses pendorongan menuju Arafah dinyatakan tuntas atau clear and clean sebelum pukul 21.00 waktu Arab Saudi.
Di antara berbagai tugas yang dijalani, ada satu peristiwa yang paling membekas bagi Saparuddin. Usai fase wukuf dan mabit, saat jemaah bergerak ke Mina untuk melontar jumrah, tim gabungan Bus Shalawat yang terdiri dari unsur TNI dan Polri menemukan seorang jemaah asal Palangkaraya yang sempat hilang selama sehari dan menjadi perhatian keluarganya.
Setelah memastikan identitasnya, petugas segera mengantar jemaah tersebut kembali ke tenda di Mina. Keluarga jemaah yang bersyukur sempat berusaha memberikan uang sebagai bentuk terima kasih. Namun, Saparuddin dan tim memilih menolaknya.