Kondisi Jabalia di Gaza Utara yang telah dinyatakan sebagai daerah bencana oleh Komite darurat. (Foto: Dawoud Abo Alkas/Anadolu)
JAKARTA, (ERAKINI) - Australia menjadi negara terbaru yang mendesak semua pihak untuk menyetujui ketentuan proposal gencatan senjata yang digariskan oleh Presiden AS Joe Biden. Sambutan baik itu disampaikan oleh Menteri Luar NegeriAustraliaPenny Wong dalam postingannya di media sosial X pada hari ini, Senin (3/6/2024).
“Apa yang kami lihat di Rafah menggarisbawahi mengapa komunitas Australia dan internasional bersatu dalam oposisi,” kata Wong, dikutip oleh Erakini melalui akun X @SenatorWong, Senin (3/5/2024).
Ia menyebut bahwa situasi di Gaza sangat buruk dengan mengatakan ‘Kematian dan kehancuran sungguh mengerikan’. Penderitaan manusia ini ‘tidak bisa diterima’.
“Kami tegaskan kembali kepada pemerintahan Netanyahu: ini tidak bisa dilanjutkan,” tambah Wong.
Ia mendesak semua pihak harus segera menyetujui gencatan senjata kemanusiaan sehingga warga sipil dapat terlindungi. Israel harus mengizinkan bantuan mengalir dalam jumlah besar, seperti yang diperintahkan oleh Mahkamah Internasional. Hamas harus membebaskan sandera.
Oleh karena itu, kami menyambut baik usulan gencatan senjata dari Presiden Biden dan kami mendesak semua pihak untuk menyetujui persyaratannya.
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa pemerintah Israel telah menawarkan peta jalan baru menuju perdamaian permanen di Gaza. Joe Biden juga mendesak Hamas untuk menerima kesepakatan tersebut karena sudah 'waktunya perang ini berakhir'.
"Israel telah menawarkan proposal baru yang komprehensif. Ini adalah peta jalan menuju gencatan senjata abadi dan pembebasan semua sandera," ujarnya, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (1/6/2024).
Adapun proposal yang terdiri dari 3 bagian ini akan dimulai dengan gencatan senjata selama 6 minggu di mana Pasukan Pertahanan Israel (IDF) akan menarik diri dari wilayah berpenduduk Gaza. Selain itu juga akan ada ‘lonjakan’ bantuan kemanusiaan, serta pertukaran beberapa sandera dengan tahanan Palestina.
Sementara itu, PM Netanyahu menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sampai tujuannya tercapai, termasuk kembalinya semua sandera dan penghapusan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas. Dia mengatakan rencana terbaru ini akan memungkinkan Israel untuk menjunjung prinsip-prinsip ini, dilansir dari BBC, Sabtu (1/6/2024).
Sedangkan Hamas mengatakan bahwa mereka memandang proposal tersebut “secara positif” karena seruannya untuk gencatan senjata permanen, penarikan pasukan Israel dari Gaza, rekonstruksi dan pertukaran tahanan.
"Hamas menegaskan kesiapannya untuk menangani secara positif dan konstruktif setiap proposal yang didasarkan pada gencatan senjata permanen dan penarikan penuh [pasukan Israel] dari Jalur Gaza, rekonstruksi [Gaza], dan kembalinya para pengungs. ke tempat mereka, bersamaan dengan pemenuhan kesepakatan pertukaran tahanan jika pihak pendudukan dengan jelas mengumumkan komitmen terhadap kesepakatan tersebut," kata Hamas dalam sebuah pernyataan, dilansir Al Arabiya, Sabtu (1/6/2024).