Petugas medis merawat anak-anak yang terluka akibat serangan Israel, di rumah sakit Al-Awda di Nuseirat, di Jalur Gaza tengah, pada 29 Oktober 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) – Korban tewas di Gaza akibat serangan udara Israel semalam telah meningkat menjadi 81, ungkap pejabat rumah sakit pada hari Rabu (29/10/2025), beberapa jam setelah Presiden ASDonald Trump mengatakan tidak ada yang akan membahayakan perjanjian gencatan senjata yang diprakarsainya.
Badan tersebut mengatakan 22 anak-anak termasuk di antara korban tewas, demikian pula perempuan dan lansia, dan sekitar 200 orang terluka, sebagian besar perempuan dan lanjut usia. Banyak dari mereka masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan akibat hujan bom yang menghantam permukiman padat penduduk.
Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Bassal, menggambarkan kondisi di lapangan sebagai bencana kemanusiaan yang tak terlukiskan. “Israel menyerang tenda-tenda pengungsi, rumah-rumah warga, hingga area sekitar rumah sakit,” ujarnya dengan nada getir. “Serangan ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang dijanjikan dunia.”
Serangan udara Israel dimulai pada Selasa (28/10/2025) malam, setelah pemerintah Tel Aviv menuduh Hamas melanggar gencatan senjata dengan menyerang pasukan Israel di Gaza. Namun, Hamas membantah tuduhan itu, menegaskan bahwa kelompok mereka tidak terlibat dalam insiden penembakan di Rafah dan tetap berkomitmen pada perjanjian damai yang difasilitasi oleh AS.
Ledakan besar dilaporkan mengguncang Rumah Sakit Al-Shifa, pusat medis terbesar di Gaza. Sementara itu, Rumah Sakit Al-Awda menerima banyak korban jiwa dari kamp pengungsi Nuseirat, termasuk empat anak kecil yang tewas seketika akibat hantaman rudal.
“Bau darah dan debu memenuhi udara. Kami bahkan tidak tahu lagi siapa yang masih hidup,” kata seorang relawan medis kepada media lokal, menggambarkan situasi mengerikan di ruang gawat darurat yang sudah kewalahan.
Di tengah meningkatnya korban, Presiden Donald Trump justru memberikan pembenaran atas tindakan Israel. Dalam pernyataannya di atas pesawat kepresidenan Air Force One, ia mengatakan, “Mereka membunuh seorang tentara Israel, jadi Israel membalas. Mereka harus membalas.”
Namun Trump juga menambahkan bahwa “tidak ada yang akan membahayakan gencatan senjata,” pernyataan yang dianggap sinis oleh banyak pihak mengingat darah warga Gaza belum kering.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance juga menegaskan bahwa kesepakatan damai tetap berlaku “meski ada pertempuran kecil,” menimbulkan kritik keras dari komunitas internasional yang menilai pernyataan itu meremehkan nyawa ribuan warga sipil.
Dalam waktu bersamaan, isu mengenai pengembalian jenazah sandera Israel kembali memperkeruh situasi. Hamas mengumumkan penundaan penyerahan dua jenazah akibat eskalasi militer Israel yang menghambat proses pencarian di lapangan. Kelompok tersebut menegaskan bahwa gempuran udara membuat lokasi-lokasi penguburan sulit ditemukan, sebab banyak area di Gaza telah berubah menjadi reruntuhan.
Pihak Israel menuduh Hamas bermain kotor dengan memalsukan pengembalian jenazah. Juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, bahkan menuduh Hamas menanam sebagian tubuh korban ke tanah sebelum menyerahkannya kepada Palang Merah, klaim yang kemudian dibantah keras oleh Hamas.
“Hamas tidak memiliki kendali atas jenazah yang terkubur di bawah ribuan ton puing akibat bom Israel,” tegas juru bicara Hamas, Hazem Qassem. “Israel menghancurkan tempat-tempat itu sendiri, lalu menyalahkan kami.”
Serangan terbaru ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tampak tak memiliki arti bagi warga Palestina yang terus menjadi korban. Anak-anak, perempuan, dan warga sipil menjadi angka statistik dalam laporan perang yang tak kunjung usai. “Mereka berbicara tentang perdamaian di panggung dunia, tetapi kami hanya mendengar suara bom,” kata seorang ibu di Nuseirat yang kehilangan dua anaknya malam itu.