Gencatan Senjata Damai di Gaza Redup: Israel Tunda Bantuan-Tutup Perbatasan, Hamas Lakukan Kekerasan di Jalan
Akhmad Baihaqi Arsyad


Tiga pejabat Israel menyebut bahwa mereka telah menahan pengiriman bantuan ke Jalur Gaza yang sudah luluh lantak, dan menunda pembukaan pos perbatasan ke Mesir setidaknya sampai Rabu. Alasan yang dikemukakan: Hamas dianggap lamban menyerahkan jenazah sandera yang tewas. Hamas merespons bahwa dalam reruntuhan yang masif, menemukan jenazah-jenazah itu sulit dilakukan.
Penundaan ini membuat pasokan makanan, air, obat-obatan, dan peralatan medis terganggu parah. Meski ada janji pengiriman ratusan truk bantuan per hari, kenyataannya akses masih sangat terbatas.
Hamas Tunjukkan Otoritas Lewat Kekerasan Publik
Sehari setelah sebagian pasukan Israel menarik mundur, Hamas langsung kembali mendominasi jalanan Gaza. Dalam sebuah video yang menjadi viral, tampak tujuh pria dengan tangan terikat digiring ke alun-alun kota, dipaksa berlutut, lalu ditembak dari belakang, ditonton banyak orang dari jendela toko di sekitarnya.
Seorang sumber Hamas membenarkan video tersebut, menyebut bahwa pejuang mereka memang terlibat dalam eksekusi itu. Media internasional berhasil mengautentikasi lokasi melalui ciri geografis yang cocok.
Langkah kekerasan semacam ini bukan kebetulan—ia bagian dari upaya memperkuat kendali melalui ketakutan. Kendati demikian, catatan hak asasi menyebut bahwa pembunuhan di luar pengadilan termasuk pelanggaran serius.
Diplomasi Trump Tersendat, Gencatan Senjata Tak Tetap
Presiden AS Donald Trump sempat mengusulkan rencana perdamaian, menyebut adanya “fajar baru Timur Tengah”. Dalam kesepakatan awal, Israel dan Hamas menukar sandera hidup dan tahanan Palestina. Namun ambisi ini kian sulit diwujudkan.
Hingga saat ini, Hamas baru menyerahkan sebagian kecil jenazah sandera sementara puluhan lainnya masih berada di Gaza. Retensi jenazah ini digunakan sebagai alat negoisasi politik dan tekanan.
Sementara blokade berlangsung, serangan udara Israel terus menelan nyawa warga sipil. Lima tewas saat mereka memeriksa rumah-rumah yang hancur di pinggiran Gaza, dan sebuah serangan di dekat Khan Younis mengakibatkan satu tewas dan satu luka-luka.
Hamas menuduh Israel telah melanggar gencatan senjata, sementara militer Israel menyatakan bahwa mereka menembaki individu yang dianggap melanggar batas garis aman—klaim yang dikritik oleh banyak pihak karena tidak transparan dan rawan pelanggaran HAM.
Kembalinya Hamas ke barisan depan kontrol wilayah menunjukkan bahwa gencatan senjata awal sulit menjadi jembatan menuju perdamaian permanen. Kehadiran mereka semakin nyata di rute-rute pengiriman bantuan, menyulitkan akses kemanusiaan bagi warga biasa.
Kelompok ini menyatakan bahwa mereka tidak akan mentolerir pelanggaran ketertiban, menargetkan kolaborator, penjarah, dan kriminal bersenjata sebagai musuh internal. Meski dalam konflik berkepanjangan Hamas banyak melemah, mereka perlahan membangun kembali struktur kekuasaan lokal.




