Kelaparan Akibat Blokade Israel Tewaskan 200 Warga Gaza, 12.000 Anak Mengalami Malnutrisi Akut
Thomas Pulungan







Dua anak, termasuk seorang balita berusia dua tahun di wilayah al-Mawasi, menjadi korban terbaru pada Kamis (7/8), menurut otoritas kesehatan setempat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada Juli lalu sekitar 12.000 anak di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut, angka bulanan tertinggi yang pernah tercatat. WHO juga memperingatkan bahwa kondisi ini terus memburuk seiring sulitnya distribusi bantuan.
Kondisi di Kota Gaza digambarkan sebagai “apokaliptik” oleh jurnalis Al Jazeera, Ibrahim al-Khalili, dengan ratusan orang berebut sisa makanan dari paket bantuan yang dijatuhkan di antara reruntuhan bangunan. “Di sini pertarungannya bukan lagi untuk makanan, tapi untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Mustafa Tanani, seorang pengungsi Palestina di lokasi, mengatakan sebagian makanan gagal mendarat dan justru tersangkut di antara gedung-gedung, membuatnya terlalu berisiko untuk diambil. “Seperti medan pertempuran di sini. Kami datang dari jauh dan akhirnya tidak mendapat apa-apa,” katanya.
“Semua orang membawa kantong bantuan, tapi kami tidak mendapatkan apapun. Pesawat menjatuhkan bantuan sia-sia. Lihat di mana mereka menjatuhkannya, di atas sana, di antara bangunan, itu berbahaya bagi kami,” tambahnya.
PBB mengungkapkan hanya 8.700 dari 290.000 anak di bawah lima tahun yang membutuhkan bantuan pangan mendesak berhasil dijangkau. Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut hanya 92 truk bantuan yang masuk pada Rabu, jauh di bawah kebutuhan harian 500–600 truk, dan sebagian besar bantuan terhambat akibat penjarahan yang disebut sebagai “kekacauan keamanan yang disengaja” oleh Israel.
Amjad Shawa, kepala Jaringan LSM di Gaza, mengatakan sedikitnya 200.000 anak di Jalur Gaza menderita malnutrisi parah, dengan banyak kematian disebabkan kurangnya susu formula dan suplemen gizi akibat blokade Israel sejak Maret.
Di tengah memburuknya krisis kelaparan, organisasi Medecins Sans Frontieres (MSF) atau Dokter Lintas Batas menyerukan penutupan GHF, yang didukung AS dan Israel, karena mengelola pusat bantuan mematikan tempat lebih dari 1.300 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan makanan.
Dalam laporan yang dirilis Kamis, MSF memuat kesaksian staf lapangan yang menyebut warga Palestina sengaja dijadikan target di lokasi-lokasi tersebut, sehingga bantuan itu justru menjadi bentuk “pembunuhan yang diatur dan dehumanisasi”, bukan bantuan kemanusiaan.
MSF mengoperasikan dua pusat layanan kesehatan, yakni Klinik al-Mawasi, dan al-Attar di dekat lokasi GHF di Gaza selatan, yang dalam tujuh minggu menerima 1.380 korban, termasuk 71 anak dengan luka tembak, 25 di antaranya berusia di bawah 15 tahun.
“Dalam hampir 54 tahun operasi MSF, jarang sekali kami melihat kekerasan sistematis terhadap warga sipil tak bersenjata seperti ini,” tulis laporan tersebut.
Di tengah krisis kelaparan ini, serangan udara Israel pada Kamis menewaskan sedikitnya 22 warga di berbagai wilayah Gaza. Serangan meliputi kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah, Bani Suheila di timur Khan Younis, serta beberapa kawasan di Kota Gaza, termasuk lingkungan Sheikh Radwan.
Sejak dimulainya perang, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai sedikitnya 61.258 jiwa, dengan warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak.
