Para pelayat di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, membawa jenazah warga Palestina Abdul Jawad al-Ghalban, 14 tahun, yang meninggal karena kelaparan, sebelum dimakamkan pada 22 Juli 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina saat mereka berusaha mendapatkan makanan di Gaza sejak Yayasan Kemanusiaan (GHF) yang didukung Amerika Serikat dan mulai beroperasi pada akhir Mei.
"Hingga 21 Juli, kami mencatat 1.054 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan; 766 di antaranya tewas di sekitar lokasi GHF dan 288 di dekat konvoi bantuan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya," ujar juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Thameen Al-Kheetan, kepada kantor berita AFP pada hari Selasa (22/7/2025), yang menyatakan bahwa para korban telah dibunuh oleh militer Israel.
Pada hari Selasa saja, pasukan Israel menewaskan sedikitnya 43 warga Palestina, termasuk 10 pencari bantuan, dalam serangan di seluruh Gaza sejak fajar, sehari setelah tank-tank memasuki wilayah selatan dan timur kota Deir el-Balah di Gaza tengah untuk pertama kalinya.
Perang genosida Israel di Gaza dan blokade kemanusiaan, yang baru dicabut sebagian pada bulan Maret, terus menjerumuskan wilayah Palestina tersebut ke dalam krisis malnutrisi yang semakin parah karena setidaknya 15 orang, termasuk empat anak-anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi di Gaza dalam waktu 24 jam, ungkap Kementerian Kesehatan daerah kantong tersebut pada hari Selasa.
Satu orang adalah seorang anak dari Khan Younis di Gaza selatan, dan satu lagi adalah bayi berusia 40 hari di utara, menurut rekan-rekan kami di Al Jazeera Arabic. Selama tiga hari terakhir, 21 anak telah meninggal dunia akibat malnutrisi dan kelaparan, lapor tim tersebut.
"Kematian ini tercatat di rumah sakit-rumah sakit di Gaza, termasuk al-Shifa di Kota Gaza, Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah, dan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis selama 72 jam terakhir," ujar Mohammed Abu Salmiya, kepala Rumah Sakit al-Shifa, rumah sakit terbesar di Gaza, kepada wartawan pada hari Selasa (22/7/2025).
Dengan demikian, jumlah total kematian akibat kelaparan di Jalur Gaza menjadi 101, termasuk 80 anak-anak, sejak Israel melancarkan perang di wilayah kantong tersebut setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan lebih dari satu juta anak di Gaza kelaparan. Rachel Cummings, direktur kemanusiaan Save the Children, menggambarkan situasi di Gaza sebagai bencana.
Berbicara kepada Al Jazeera dari Deir el-Balah, ia mengatakan bahwa Gaza sudah lama tidak memiliki pasokan makanan yang memadai. “Pasar-pasar kosong, dan kondisi sanitasi air tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan 2 juta orang yang semuanya berada di ambang kelaparan," kata Cummings.
Ia mengatakan bahwa di Deir el-Balah, ia telah melihat "orang-orang kelaparan, anak-anak membawa mangkuk kosong, mencari makanan, mencari air". "Kami melihat peningkatan jumlah anak-anak di klinik dan pusat gizi kami yang kekurangan gizi. Kami juga melihat peningkatan jumlah ibu hamil dan ibu menyusui yang juga kekurangan gizi," katanya.
"Semua orang di Gaza sekarang kelaparan, dan bahkan di tim saya, saya melihat tim saya kekurangan tenaga, dan mereka juga tidak bisa mendapatkan makanan di pasar," imbuhnya.