Jaksa Agung Negara Bagian New York Letitia James (kiri) memandu pengucapan sumpah jabatan wali kota terpilih Zohran Mamdani (tengah), disaksikan oleh istrinya, Rama Duwaji, Rabu malam WIB. Foto: AP
JAKARTA, (ERAKINI) —Zohran Mamdani mencatatkan sejarah sebagai Wali Kota New York pertama yang dilantik dengan menggunakan Al-Qur’an. Zohran Mamdani pun resmi menjadi wali kota Muslim pertama sekaligus yang termuda di kota terbesar Amerika Serikat itu.
Mamdani, politikus Partai Demokrat, mengucapkan sumpah jabatan di sebuah stasiun kereta bawah tanah bersejarah yang telah dinonaktifkan di Manhattan pada Rabu (31/12/2025) malam WIB atau Kamis waktu setempat. Dalam prosesi tersebut, ia meletakkan tangannya di atas Al-Qur’an saat mengucapkan sumpah.
“Ini benar-benar sebuah kehormatan dan privilese terbesar dalam hidup saya,” kata Mamdani dikutip dari Al Jazeera.
Upacara pengambilan sumpah dipimpin Jaksa Agung Negara Bagian New York Letitia James, sekutu politiknya, dan berlangsung di Stasiun City Hall lama, salah satu stasiun kereta bawah tanah pertama di kota yang dikenal dengan langit-langit lengkungnya yang menawan.
Sebagai wali kota Muslim dan keturunan Asia Selatan pertama di kota metropolitan terbesar di Amerika Serikat, Mamdani menggunakan Al-Qur’an milik kakeknya serta sebuah Al-Qur’an berusia sekitar 200 tahun yang dipinjam dari New York Public Library (NYPL).
Mamdani dijadwalkan kembali dilantik dalam upacara publik yang lebih besar di Balai Kota New York pada hari ini pukul 13.00 waktu setempat oleh Senator AS Bernie Sanders, salah satu tokoh politik yang ia kagumi. Acara tersebut akan dilanjutkan dengan pesta rakyat terbuka di kawasan Broadway yang dikenal sebagai “Canyon of Heroes”, lokasi legendaris parade ticker-tape.
Dalam prosesi publik itu, ia akan menggunakan dua Al-Qur’an yang masing-masing pernah dimiliki oleh kakek dan neneknya. Al-Qur’an bersejarah yang dipinjam dari NYPL sebelumnya dimiliki oleh Arturo Schomburg, sejarawan dan penulis kulit hitam ternama. Pada 1926, Schomburg menjual koleksi pribadinya yang terdiri dari sekitar 4.000 buku kepada NYPL, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Schomburg Center for Research in Black Culture.
Schomburg lahir di Puerto Riko pada 1870-an dari orang tua berdarah Jerman dan Afro-Karibia. Ia kemudian bermigrasi ke New York dan menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan Harlem Renaissance pada 1920-an dan 1930-an, sebuah periode kebangkitan budaya dan intelektual komunitas kulit hitam di kota tersebut.
Pihak perpustakaan memuji keputusan Mamdani menggunakan Al-Qur’an milik Schomburg karena keterkaitannya dengan salah satu cendekiawan paling berpengaruh dalam sejarah New York, sekaligus karena karakter naskah tersebut yang sederhana dan fungsional.
Menurut NYPL, ukuran Al-Qur’an yang kecil serta penggunaan tinta hitam dan merah menunjukkan bahwa naskah itu dirancang untuk penggunaan sehari-hari. Meski tidak bertanda tangan maupun bertanggal, aksara naskh yang halus serta jilid dengan medalion berlapis emas bermotif floral mengindikasikan bahwa Al-Qur’an tersebut diproduksi di Suriah Utsmani pada abad ke-19.
“Makna Al-Qur’an ini melampaui keindahan fisiknya,” kata kurator studi Timur Tengah dan Islam NYPL, Hiba Abid. “Ini adalah Al-Qur’an yang dekat dengan masyarakat, bukan hanya karena pembuatannya yang sederhana, tetapi juga karena menjadi bagian dari koleksi sistem perpustakaan umum terbesar di Amerika Serikat.”
Presiden dan CEO NYPL, Anthony W Marx, menilai pilihan Al-Qur’an tersebut sebagai simbol kuat dari nilai inklusi, representasi, dan semangat kewargaan.
Mamdani menjadi salah satu dari sedikit politisi Amerika Serikat yang dilantik dengan menggunakan Al-Qur’an. Secara aturan, Kota New York tidak mewajibkan wali kota meletakkan tangan di atas kitab suci saat pengambilan sumpah. Namun, banyak wali kota sebelumnya memilih menggunakan Alkitab.
Mantan Wali Kota New York Michael Bloomberg pernah menggunakan Alkitab keluarga berusia 100 tahun, sementara Bill de Blasio menggunakan Alkitab milik Presiden AS ke-32 Franklin D. Roosevelt. Pendahulu Mamdani, Eric Adams, juga menggunakan Alkitab keluarga saat dilantik.
Identitas keagamaan Mamdani serta latar belakangnya sebagai warga Amerika kelahiran Uganda keturunan Asia Selatan menjadi sorotan selama masa kampanye. Ia secara konsisten mengangkat isu keberagaman sebagai kekuatan utama New York.
Dalam sejumlah video media sosial yang viral, Mamdani berbicara terbuka mengenai dampak serangan 11 September 2001 terhadap New York serta meningkatnya Islamofobia di Amerika Serikat. Video lain menampilkan kisah warga New York dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas Muslim dan imigran.
Mamdani juga dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan Israel terhadap Palestina serta perang di Gaza yang ia sebut sebagai genosida.
Namun, sikap politik tersebut memicu kritik dari sejumlah tokoh konservatif. Anggota DPR AS dari New York, Elise Stefanik, misalnya, menyerang latar belakang Mamdani dan pandangan politik kirinya sebagai seorang Sosialis Demokrat, dengan menyebutnya sebagai “komunis jihad” dan simpatisan teroris.
Menanggapi kritik tersebut, Mamdani menegaskan tidak akan menyembunyikan identitasnya. “Saya tidak akan mengubah siapa diri saya, apa yang saya makan, atau keyakinan yang dengan bangga saya anut,” ujarnya dalam salah satu pidato kampanye. “Saya tidak akan lagi mencari diri saya di dalam bayang-bayang. Saya akan menemukan diri saya di dalam cahaya,” tegasnya.