SURABAYA, (ERAKINI) - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berharap pemilk Maspion Grup sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan APINDO Jatim Alim Markus untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal itu disampaikan Khofifah saat menerima kunjungan silaturahim sekaligus halal bihalal Alim Markus, di kediamannya di Jemursari Surabaya pada Kamis (3/4/2025).
“Kami sempat menitipkan pesan khusus pada Pak Alim selaku pengusaha sukses dan paling senior di Jawa Timur agar jangan sampai ada PHK pada pekerja. Kalau ada pengurangan produksi, kami berharap lebih memilih untuk pengurangan jam kerja atau pengurangan hari kerja, dibandingkan PHK,” ujarnya kepada awak meda.
Nama Alim Markus pun mendadak viral di media sosial. Banyak netizen yang berusaha mencar informasi terkait sosok Alim Markus. Seperti apa profil Alim Markus? berikut ulasannya:
Dilansir dari Biografiku pada Jumat (4/4/2025), Alim Markus adalah anak sulung dari Alim Husin yang lahir pada 24 September 1951. Dia memiliki nama Tionghoa Lin Wen-guang.
Alim Markus tidak menyelesaikan pendidikan SMP karena lebih memilih membantu usaha ayahnya. Meski begitu, sejak usia remaja, ia telah berpengalaman dalam berbagai aspek bisnis keluarga, mulai dari pekerjaan sebagai cleaning service, administrasi, keuangan, hingga penjualan. Keahliannya dalam mengelola usaha membuat ayahnya mempercayakannya sebagai Direktur Maspion.
Sejarah Maspion bermula dari kisah Alim Husin, yang sebelumnya bernama Lin Xueshan. Pada usia 19 tahun, ia merantau dari Fujian, China, ke Indonesia, terinspirasi oleh pelayaran Laksamana Cheng Ho pada abad ke-14.
Tiba di Pasuruan, Jawa Timur, ia memulai usaha dengan menjual kain sebelum akhirnya bekerja sama dengan Gunardi Go untuk memproduksi lampu teplok pada tahun 1954. Produk mereka mendapat sambutan baik karena lebih tahan lama dan tidak mengotori dinding rumah akibat asapnya.
Pada tahun 1965, Alim Husin dan Gunardi Go mendirikan UD Logam Djawa, yang menjadi cikal bakal Maspion. Dengan delapan karyawan, mereka mampu memproduksi 300 lusin lampu teplok dalam berbagai jenis. Alim Markus pun turut berperan dalam penjualan, administrasi, dan keuangan.
Pada tahun 1971, Alim Markus resmi menjadi Presiden Direktur Maspion Grup. Ia memperluas usaha dengan memproduksi perabotan rumah tangga berbahan plastik, seperti loyang, ember, dan baskom. Awalnya, produk tersebut diberi merek "Maspioneer", tetapi karena adanya perusahaan lain yang menggunakan nama "Pioneer", merek tersebut diubah menjadi "Maspion", yang merupakan singkatan dari "Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional".
Di bawah kepemimpinannya, Maspion berkembang pesat dengan berbagai lini usaha, termasuk peralatan rumah tangga seperti panci teflon, kompor gas, termos, pompa air, kulkas, dan kipas angin. Tak hanya itu, Maspion juga merambah ke sektor konstruksi, properti, jasa keuangan, dan perusahaan patungan dengan investor lain.
Maspion: Raksasa Peralatan Rumah Tangga Maspion memiliki kawasan industri seluas 100 hektar di Surabaya dan menjadi merek lokal dominan di pasar peralatan rumah tangga. Salah satu strategi bisnis Alim Markus adalah bekerja sama dengan manufaktur asing dari Jepang dan Korea, seperti Samsung, untuk mendirikan pabrik di Indonesia dengan pembagian saham yang setara.
Slogan "Cintailah Produk-Produk Indonesia" menjadi ciri khas Maspion. Bahkan, Alim Markus sendiri kerap tampil dalam iklan televisi untuk mempromosikan produknya. Pada masa krisis 1998, Maspion harus menutup lima dari 63 pabriknya. Namun, Alim Markus tetap bertahan dan berani kembali ke Indonesia saat terjadi kerusuhan Mei 1998.
Alim Markus beberapa kali menghadapi tantangan, termasuk demonstrasi buruh yang menuntut kenaikan upah. Ia juga sempat tersangkut kasus bank gelap dan ditahan, meskipun akhirnya dakwaannya digugurkan berkat jaminan dari sejumlah tokoh nasional, termasuk Dahlan Iskan dan Jusuf Kalla.
Kekayaan dan Warisan Bisnis
Alim Markus menikah dengan Sriyanti dan memiliki tujuh anak. Ia juga memiliki tiga saudara, yaitu Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakarsa. Di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia pernah menjabat sebagai penasihat presiden.
Saat ini, Maspion Grup terus berkembang dengan berbagai anak perusahaan yang bergerak di bidang elektronik, alat rumah tangga, baja, plastik PVC, properti, dan jasa keuangan. Pada tahun 2021, kekayaan Alim Markus dan keluarganya diperkirakan mencapai Rp5 triliun, hal ini menempatkannya di peringkat ke-31 dalam daftar orang terkaya di Indonesia.
Kini, Maspion dipimpin oleh anaknya, Herman Halim, yang juga dikenal sebagai mantan Ketua Harian Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Herman Halim sempat menarik perhatian publik setelah memutuskan menjadi mualaf pada 27 Agustus 2004.