Partai Golkar pada Pemilu 2024 mendapat nomor urut 4. Saat ini Ketua Umum Golkar dijabat Airlangga Hartarto. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Partai Golkar pada Pemilu 2024 mendapat nomor urut 4. Golkar merupakan partai tertua peserta Pemilu 2024 yang sudah ada sejak era Orde Lama, Orde Baru, dan era Reformasi.
Golkar sejak berdiri sudah dipimpin oleh 11 ketua umum. Saat ini Ketua Umum Golkar dijabat Airlangga Hartarto. Golkar pada Pilpres 2024 mendukung pasangan nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Partai Golkar berkuasa dari tahun 1971 hingga 1999 dan menjadi kendaraan politik Presiden Soeharto. Namun setelah itu, atau sejak Pemilu 1999, Golkar hanya sekali keluar sebagai pemenang, yakni Pemilu 2004.
Pada Pemilu 1999, Golkar di bawah kepemimpinan Akbar Tanjung berada di posisi 2 dengan meraup 23.741.749 suara (22,46%). Pada Pemilu 2004, Akbar Tanjung berhasil membawa Golkar kembali sebagai pemenang dengan 24.480.757 suara (21,58%).
Pada Pemilu 2009, Golkar di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla kembali turun ke posisi kedua dengan perolehan 15.037.757 suara (14,45%).
Posisi Golkar tidak berubah pada Pemilu 2014 di posisi kedua di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie dengan meraih 18.432.312 suara (14,75%). Lalu pada Pemilu 2019 di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto, posisi Golkar turun ke posisi 3 dengan perolehan suara 17.229.789 (12,31%).
Sejarah Golkar
Dikutip dari laman resminya, Kamis (8/2/2024), lahirnya Golongan Karya (Golkar) bermula dari kolaborasi gagasan tiga tokoh, yakni Soekarno, Soepomo, dan Ki Hadjar Dewantara. Ketiganya mengajukan gagasan integralistik-kolektivitis sejak 1940.
Saat itu gagasan tiga tokoh ini mewujud dengan adanya Golongan Fungsional. Dari nama ini kemudian diubah dalam bahasa Sansekerta, sehingga menjadi Golongan Karya pada 1959. Hingga kini, Golongan Karya dikenal dalam dunia politik nasional sebagai Golkar.
Pada dekade 1950-an, pembentukan Golongan Karya semula diorientasikan sebagai perwakilan dari golongan-golongan di tengah masyarakat. Perwakilan ini diharapkan bisa merepresentasikan keterwakilan kolektif sebagai bentuk ‘demokrasi’ yang khas Indonesia. Wujud ‘demokrasi’ inilah yang kerap disuarakan Bung Karno, Prof Soepomo, maupun Ki Hadjar Dewantara.
Pada awal berdiri, Golkar bukan mewujud sebuah partai, melainkan perwakilan golongan melalui Golongan Karya. Ide awal Golkar yaitu sebagai sistem perwakilan (alternatif) dan dasar perwakilan lembaga-lembaga representatif. Tahun 1957 adalah masa awal berdirinya organisasi Golkar. Pada waktu itu sistem multipartai mulai berkembang di Indonesia. Golkar sebagai sebuah alternatif merupakan organisasi yang terdiri dari golongan-golongan fungsional.
Golkar juga memiliki tujuan untuk membangun organisasi masyarakat atau ormas. Golkar beralih menjadi sebuah partai politik ketika Bung Karno yang bertindak sebagai konseptor dan Jenderal TNI (Purn) Abdul Haris Nasution yang berfungsi sebagai penggerak, bersama dengan Angkatan Darat, mengubah Golkar sebagai sebuah partai politik untuk melawan PKI.
Hal ini bertentangan dengan konsep awal Golkar yang menolak konsep partai dan PKI yang menuntut perbedaan kelas. Golkar memiliki konsep untuk menumbuhkan persatuan dan kerja sama.
Akhirnya, Golkar yang anti partai runtuh menjadi sebuah partai. Golkar sebagai partai politik resmi didirikan pada 20 Oktober 1964 oleh Soeharto dan Suhardiman.
Ide Golkar yang awalnya menghancurkan partai-partai yang ada, justru menjadi sebuah partai yang eksis hingga saat ini.