Search

Harlah ke-100 NU, Menag Nasaruddin: Jangan Menyamakan yang Berbeda, Membedakan yang Sama

JAKARTA, (ERAKINI) – Menteri Agama (Menag) yang juga Rais Syuriah PBNU KH Nasaruddin Umar berharap Nahdlatul Ulama ke depan tetap konsisten mengusung moderasi umat. NU harus berdiri di tengah, hidup rukun dan damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Nahdlatul Ulama tidak akan pernah menyamakan sesuatu yang berbeda, dan tidak akan pernah membedakan sesuatu yang sama. Itulah moderasi yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama. Biarkanlah yang sama itu sama, dan biarkanlah yang berbeda itu berbeda. Lakum dinukum waliyadin. Dan inilah prinsip Nahdlatul Ulama," ujar Nasaruddin saat menyampaikan khutbah mewakili Rais Syuriah pada puncak peringatan Harlah ke-100 NU kalender Masehi, di Istora Senayan Jakarta, Sabtu (30/1/2026).

Nasaruddin menjelaskan, makna mendalam dari ayat Al-Qur’an “Innad dina ‘indallahil Islam” yang menurutnya menjadi fondasi moderasi NU. Mengapa Tuhan tidak mengatakan "Innad dina 'indallahas salam" (mashdar tsulatsi daripada salima), dan mengapa juga Tuhan tidak menggunakan istilah "Innad dina 'indallahal istislam" (mashdar sudasi daripada istaslama).

"Itu tentu ada konsekuensinya. Mengapa Al-Qur'an memilih "Innad dina 'indallahil Islam"? Itu sesungguhnya adalah tawassuth antara tsulatsi dengan sudasi," katanya.

Nasaruddin mengungkapkan, jika digunakan kalimat "Innad dina 'indallahas salam", ada kemungkinan menggampang-gampangkan, menyamakan sesuatu yang sesungguhnya berbeda. Sementara jika digunakan kalimat "Innad dina 'indallahal istislam" maka membuka peluang untuk memaksa membedakan sesuatu yang sebenarnya sama..

Menurut Nasaruddin, jika ada orang yang suka menyama-nyamakan sesuatu yang sesungguhnya berbeda, maka itu lebih mirip kepada liberal. Tapi, kalau ada sesuatu yang memaksakan sesuatu yang berbeda padahal sesungguhnya sama, maka lebih dekat kepada radikal.

"Nahdlatul Ulama membiarkan yang berbeda itu beda, dan membiarkan yang sama itu sama," kata Iman Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini.

Menurut Nasaruddin, 100 tahun perjalanan PBNU bukan waktu yang pendek. PBNU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi. 

Ia menggambarkan NU sebagai “pesantren besar” yang sarat dinamika keilmuan dan pembahasan  antarmazhab, mulai dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali

"Dan kadang-kadang sangat panas diskusinya, dan ini satu bukti bahwa dinamika akademik dan keilmuan di lingkungan pondok pesantren, itu sangat kuat," ucapnya.

Di sisi lain, pada saat yang bersamaan pondok pesantren juga tidak bisa dipisahkan dengan NU. Sebab, pondok pesantren adalah NU besar. 

"Bagaimana kita lihat tradisi pondok, santri begitu respek dan begitu hormatnya terhadap kiai. Seorang yunior begitu respek dan begitu hormatnya kepada kiai senior. Meskipun antara mufassir, santri, dan kiai berbeda pendapat, tetapi akhlakul karimah seorang santri sangat menjunjung tinggi keberadaan kiai," tukasnya.

"NU itu seperti satu keluarga besar. Di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah. Di dalam NU, tidak ada orang luar, bahkan orang luar pun menjadi orang dalam dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Karena itu, Insya Allah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini," tambahnya.

Menatap abad kedua NU, Nasaruddin mengingatkan tantangan masa depan yang datang lebih cepat daripada kesiapan manusia dalam menghadapinya. Ia menyebut berbagai potensi guncangan, mulai dari market shock, theological shock, culture shock, hingga scientific shock.