Letjen S Parman, salah satu tokoh TNI yang diculik Gerakan 30 September 1965 (G30S). Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Letjen S Parman adalah salah satu tokoh TNI yang diculik Gerakan 30 September 1965 (G30S). Padahal, S Parman merupakan adik dari petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI), yakni Ir Sukirman.
Dalam buku "Letjen Anumerta S Parman, Sang Pembela Tanah Air" karya Gesang Sari M, dikisahkan bahwa Siswondo Parman atau S Parman dan Sukirman lahir dari pasangan Marinah dan Kasido Kromodiharjo, pedagang sukses di Wonosobo. Sukirman pernah terlibat dalam pemberontakan di Madiun pada September 1948 dan ditahan.
Sementara menurut buku "Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan" karya Soe Hok Gie, Sukirman merupakan anggota Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang didirikan Amir Sjarifoeddin, dimana banyak anggotanya yang kemudian menjadi pimpinan PKI, seperti DN Aidit dan Anwar Kadir.
Saat itu, meskipun banyak pemuda yang bergabung dengan PKI bukan karena ideologi, melainkan karena PKI dikenal berani melawan Belanda dan Jepang. Sukirman adalah seorang nasionalis yang lebih senang melihat kedatangan Jepang dibandingkan komunis yang anti-fasis.
S Parman lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. S Parman juga termasuk salah satu pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajah.
Selama pendudukan Jepang, S Parman bekerja di Jawatan Kenpeitai dan pernah ditangkap karena dicurigai oleh Jepang, namun akhirnya dibebaskan.
Ia kemudian dikirim ke Jepang untuk memperdalam ilmu intelijen di Kenpei Kasya Butai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan diangkat sebagai Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta.
Selama Agresi Militer II Belanda, S Parman turut berjuang dengan melakukan perang gerilya. Salah satu keberhasilannya yakni membongkar rahasia gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang akan melakukan operasinya di Jakarta dibawah pimpinan Westerling.
Atas prestasinya itu, pada bulan Desember 1949 S Parman diangkat sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya, Kemudian menjadi Kepala Staf G dan mendapat tugas belajar pada Military Police School di Amerika Serikat tahun 1951, kembali ke Tanah Air dengan tugas di Kementerian Pertahanan.
Berada di lingkaran anti-PKI, sikap S Parman kerap dipertanyakan, lantaran sang kakak, Ir Sakirman, merupakan anggota Politbiro PKI. Sakirman juga merupakan pemimpin laskar rakyat bersenjata sayap kiri di Jawa Tengah.
Terlepas dari statusnya sebagai adik dari petinggi PKI, S Parman merupakan salah satu jenderal paling disegani. Kemampuan intelejensi S Parman yang mumpuni membuatnya sangat diandalkan dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap PKI.
Tahun 1959, S Parman kembali diangkat sebagai Atase Militer Rl di London dan 5 tahun kemudian ditugaskan sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat dengan pangkat mayor jenderal. Sebagai perwira intelijen yang berpengalaman S Parman banyak mengetahui usaha-usaha pemberontakan PKl.
S Parman menempuh pendidikan di Algemeene Middlebare School (AMS) dan melanjutkan di Geneeskundige Hogee School (GHS) di Jakarta, namun pendidikannya terhenti karena Jepang mengambil alih Indonesia. Setelah kekuasaan Jepang berakhir, S Parman memilih untuk mengabdi di militer dengan bergabung di Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Ia berperan aktif dalam penumpasan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), yang mengantarkannya pada jabatan Kepala Staf Gubernur di Markas Besar Angkatan Darat dan pangkat Letnan Kolonel.
Pada tahun 1962, S Parman kembali ke Indonesia setelah bertugas di London, di mana pengaruh PKI semakin meluas. Ia menolak usulan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima dari buruh dan tani yang dipersenjatai, yang membuatnya dimusuhi oleh PKI dan akhirnya masuk dalam daftar pejabat Angkatan Darat yang akan dihilangkan dalam aksi G30S.
Pada 1 Oktober 1965 dini hari, pasukan Cakrabirawa yang berjumlah 20 orang di bawah pimpinan Serma Satar, mendatangai kediaman S Parman dj Jalan Syamsu Rizal, Menteng, Jakarta Pusat.
Saat itu, S Parman dan istrinya sedang terjaga. S Parman dan istri memiliki kebiasaan pada setiap malam Jumat, yakni tidak tidur sebelum pukul 24.00.
Malam itu, Kamis, 30 September 1965, S Parman dan istri baru beranjak ke peraduan. Namun, tengah malam itu S Parman dan istri dikagetkan banyaknya burung gereja dan burung sriti di kamar tamu.
"Lho, kok banyak sekali burung gereja di kamar tamu itu?" kata Parman seperti ditulis dalam buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam', yang ditulis para putra-putri Pahlawan Revolusi. "Ah sudahlah, tidur saja," jawab Sumirahayu, sang istri.
Belum reda kaget Jenderal Parman, tiba-tiba ruang tamunya kedatangan burung sriti. "Lho, sekarang banyak burung sriti?" kata dia.
Dalam mitos yang berkembang di masyarakat, burung sriti dihubungkan dengan pertanda musibah bagi penghuni rumah. Ada juga yang meyakini bahwa burung sriti datang untuk memberikan peringatan kepada penghuni rumah tentang sesuatu yang akan terjadi.
Lantaran sudah larut malam, S Parman dan istri pun beranjak ke kamar untuk tidur. Sekitar pukul 03.00 dini hari, Sumirahayu bangun dan sempat menikmati sejuknya udara Jakarta yang belum tercemar asap kendaraan. Suasana pun masih sangat sepi dan hening.
Namun satu jam kemudian, keheningan itu pecah ketika sejumlah kendaraan truk tentara merapat ke rumahnya. Derap kaki tentara yang turun dari truk dan menghambur ke rumah membuat suasana begitu ribut. Jenderal S Parman pun terbangun. Mendengar keberisikan di luar rumah, S Parman lalu keluar rumah.
Awalnya ia hanya suara brisik tersebut segerombolan perampok. Ternyata ia menemukan sekelompok prajurit Cakrabirawa. "Lho, kok Tjakra," tanya Parman.
S Parman lalu menanyakan maksud kedatangan mereka. Prajurit Cakrabirawa mengaku mereka datang untuk menjemput atas perintah Presiden Soekarno.
S Parman yang tidak manaruh curiga lalu bergegas berganti pakaian dinas. Namun sebelum berangkat, S Parman meminta istrinya agar menghubungi Letjen Ahmad Yani. Permintaan itu terdengar oleh prajurit penculik dan langsung merampas telepon.
S Parman lalu dibawa paksa. Pada 4 Oktober 1965, atau empat hari setelah penculikan, jenazah S Parman ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur, bersama sejumlah jenderal TNI AD yang juga diculik pada G30S itu.
Berdasarkan hasil autopsi, S Parman ditembak di kepala bagian depan. Didapati juga luka pada paha, bokong, patah tulang dan luka-luka dari alat tumpul di bagian kepala, rahang dan tungkai bawah kiri.
Pada 5 Oktober 1965, bertepatan dengan hari ABRI ke-20, para perwira tinggi TNI AD yang gugur dikebumikan dalam satu upacara kebesaran militer dari Mabes AD menuju Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta.
Mereka kemudian dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi atas jasanya mengawal kemerdekaan serta mempertahankan ideologi Pancasila.
S Parman yang saat itu masih berpangkat Mayjen kemudian mendapatkan kenaikan pangkat anumerta menjadi Letnan Jenderal. Sebagai penghormatan, nama S Parman juga diabadikan dalam berbagai tempat, termasuk nama jalan.