Serangga bakal menjadi salah satu pilihan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab serangga merupakan salah satu sumber protein. Foto: Iustrasi/ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Serangga bakal menjadi salah satu pilihan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab serangga merupakan salah satu sumber protein di beberapa daerah.
“Kalau ada daerah-daerah tertentu yang terbiasa makan seperti itu (), itu () bisa menjadi menu di daerah tersebut,” ujar Kepala Badan Gizi Nasional () Dadan Hindayana di sela-sela acara Rapimnas PIRA di Jakarta, Sabtu (25/1) lalu.
Menurut Dadan, variasi menu dalam program MBG ini bukan berarti ada standar menu yang ditetapkan secara nasional. Sebaliknya, BGN menetapkan standar komposisi gizi nasional yang dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan di setiap daerah.
Serangga, kata Dadan, sudah dikenal sebagai sumber protein yang sering dimanfaatkan di beberapa wilayah. Lantas apa saja jenis serangga yang aman dikonsumsi dan memiliki kandungan protein tinggi?
Mengutip penelitian Amalia Rani Setyawati dan Ariel Magfirah, Magister Ilmu Gizi, Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, yang dipublikasikan pada Journal Of Nutrition College, September 2024, menyebutkan, serangga layak untuk dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan pangan manusia.
Serangga kaya akan zat gizi protein berkualitas tinggi, asam amino esensial, lemak tak jenuh tunggal, vitamin, dan mineral. Komposisi zat gizi serangga bervariasi tergantung pada spesiesnya, namun yang memiliki kandungan lebih tinggi adalah zat gizi protein.
Terdapat lebih dari 2000 spesies serangga yang dapat dikonsumsi, seperti ulat sagu, kumbang, lebah, belalang, jangkrik, dan capung. Beberapa spesies serangga memiliki nilai protein, lemak, dan kalori dalam jumlah besar. Bahkan, beberapa spesies memiliki nilai gizi yang sebanding dengan daging dan unggas.
Penelitian dari Orkusz (2021) menyebutkan bahwa 100 gram serangga memiliki energi sebesar 120 kilo kalori (kkal) hingga 274,7 kkal, dan protein sebesar 15,5% hingga 35%. Sebagai perbandingan, 100 gram kaki kambing, kaki sapi, daging kuda, daging sapi, daging ayam, dan daging kalkun, memiliki energi sebesar 13,2 kkal hingga 125 kkal, dan protein sebesar 15,1% hingga 21,5%..
Serangga, baik dalam stadium dewasa maupun larva telah dikonsumsi sebagai sumber protein alternatif oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan, Singapore Food Agency (SFA) telah menyetujui 16 jenis serangga yang diperbolehkan dikonsumsi.
Ke-16 jenis serangga itu, yakni jangkrik, belalang, ulat sutera, ulat hongkong, lebah larva, kumbang tanduk, kumbang tepung, dan semut. Selanjutnya, laron, belalang kayu, larva kumbang merah, serangga daun, kepik, cacing madu, kumbang rusa, serta larva kumbang bambu.
Meskipun serangga memiliki kandungan gizi yang baik untuk kesehatan, namun faktor risiko endogen dan eksogen dari serangga yang dapat dimakan juga perlu diwaspadai. Faktor risiko endogen terdiri dari zat anti nutrisi dan alergen. Faktor ekstrinsik yang pernah terjadi misalnya kasus botulisme, parasitosis, dan keracunan makanan.
Selain itu, beberapa serangga menyerap racun dan/atau mensintesis racun sebagai mekanisme pertahanan kimiawi terhadap insektivora. Konsumsi serangga ini dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan penglihatan, atau lebih buruk lagi.
Serangga yang dipanen di alam liar dan biasanya aman untuk dimakan karena tidak mengandung pestisida. Dari aspek mikrobiologi, bakteri pembentuk spora pada serangga dapat bertahan hidup dalam perebusan dan menjadi salah satu permasalahan entomofagi.