Ilustrasi - BMKG menyebut bahwa suhu di Indonesia makin panas, cuaca ekstrem intai wilayah tengah dan selatan menjelang akhir Oktober 2025. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa peralihan musim di Indonesia dibayangi suhupanas dan potensi hujan lebat di berbagai daerah. Sebagaimana siaran resmi yang dilansir Erakini dari dari laman BMKG, Jumat (17/10/2025), memasuki paruh pertama Oktober 2025, mulai melanda berbagai wilayah di Indonesia.
Di tengah masa transisi dari kemarau menuju musim penghujan, wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan kini mengalami peningkatan suhu udara yang signifikan. Berdasarkan analisis BMKG, fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor atmosfer berskala global dan regional.
Suhu Melonjak Akibat Gerak Semu Matahari dan Monsun Australia
Panas terik yang dirasakan masyarakat saat ini tak lepas dari pengaruh gerak semu Matahari yang telah melintasi ekuator dan bergerak ke selatan, menyebabkan intensitas penyinaran meningkat, khususnya di kawasan Indonesia bagian selatan dan tengah. Selain itu, Monsun Australia turut memperkuat dominasi udara kering dan panas di wilayah ini.
Berikut ini catatan suhu ekstrem BMKG dalam beberapa hari terakhir!
- Karanganyar, Jawa Tengah: 38,2°C
- Majalengka, Jawa Barat: 37,6°C
- Boven Digoel, Papua: 37,3°C
- Surabaya, Jawa Timur: 37,0°C
BMKG menyebut bahwa suhu ini mencerminkan intensitas panas yang harus diwaspadai oleh masyarakat, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan.
Hujan Lokal Mengintai: Cuaca Panas Bukan Jaminan Hari Cerah Sepanjang Waktu
Meskipun siang hari dipenuhi terik menyengat, bukan berarti Indonesia terbebas dari hujan. Sebaliknya, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat justru meningkat pada sore hingga malam hari akibat konveksi lokal.
Wilayah yang telah mencatat curah hujan tinggi antara lain:
- Belawan, Sumatera Utara: 117,6 mm/hari
- Deli Serdang, Sumatera Utara: 110,4 mm/hari
- Kapuas Hulu, Kalimantan Barat: 88,4 mm/hari
Menurut BMKG, hal ini menunjukkan bahwa dinamika cuaca Indonesia masih sangat fluktuatif, dengan kombinasi panas ekstrem dan hujan deras dalam satu hari di beberapa wilayah.
Adapun cuaca beberapa hari ke depan akan dipengaruhi oleh interaksi kompleks berbagai fenomena atmosfer:
- Dipole Mode Index (DMI) berada pada angka −1,39, mengindikasikan pasokan uap air dari Samudra Hindia ke barat Indonesia semakin tinggi.
- Gelombang Rossby dan Kelvin aktif di wilayah seperti Laut Andaman, Bali, NTB, NTT, Selat Malaka, hingga Kalimantan Utara. Gelombang-gelombang ini berperan penting dalam pembentukan awan konvektif penyebab hujan deras.
- Bibit Siklon Tropis 96W terpantau di Samudra Pasifik timur Filipina, dengan kecepatan angin hingga 20 knot dan tekanan minimum 1007 hPa. Meski potensi menjadi siklon tropis penuh masih rendah, keberadaannya sudah membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memicu hujan di wilayah Maluku Utara hingga Papua.
BMKG memprediksi bahwa hingga awal November 2025, mayoritas wilayah di Indonesia bagian tengah dan selatan masih akan mengalami pola cuaca cerah hingga berawan pada pagi hingga siang, dan berpotensi hujan pada sore atau malam hari. Pola ini berpotensi berulang di berbagai wilayah, termasuk: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua
Selain itu, labilitas atmosfer lokal juga semakin meningkat di berbagai kawasan, memperbesar kemungkinan terjadinya badai petir dan hujan deras dalam waktu singkat. Peralihan musim, menurut BMKG, bukan hanya soal datangnya hujan setelah kemarau. Di Indonesia, transisi ini disertai kenaikan suhu ekstrem, hujan mendadak, dan gangguan atmosfer yang kompleks. Kondisi ini memerlukan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di wilayah yang rawan bencana hidrometeorologi. BMKG menegaskan pentingnya kedisiplinan dalam memantau informasi cuaca dan menerapkan langkah antisipatif untuk melindungi diri dan lingkungan.