Profil Gus Hans, Kiai Muda yang Menghidupkan Politik Santri dan Pesantren
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Santri dan komunitas pesantren pernah dianggap kelompok tradisionalis yang jauh dari pusat kekuasaan. Padahal, kontribusi mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tahun 1945 begitu besar. Kini, santri mendapatkan pengakuan yang layak, termasuk dengan ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Seiring perkembangan zaman, santri tidak hanya mengabdi lewat pendidikan dan dakwah, tetapi juga masuk ke ranah akademisi hingga politik.
Salah satu sosok yang mewakili semangat tersebut adalah KH Zahrul Azhar Asumta, atau akrab disapa Gus Hans. Gus Hans lahir pada 23 Maret 1976 di Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan putra dari KH As'ad Umar dan Hj Azah As'ad. Pria berusia 49 tahun ini besar dalam keluarga Nahdliyin, dan aktif di Nahdlatul Ulama.
Gus Hans juga dikenal sebagai kiai muda, akademisi, sekaligus politisi yang saat ini mengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur.
Jejak pendidikan pesantren
Kepada erakini, Kamis (25/9/2025), Gus Hans mengenang masa kecilnya yang dihabiskan di lingkungan pesantren. Sejak SD ia mondok di Darul Ulum Jombang, lalu beberapa kali mengikuti pengajian Ramadan di pesantren Ploso, Kediri. Pada 1991-1994, ia dipondokkan di Leteh, Rembang, di bawah asuhan KH Cholil Bisri.
















