Pembukaan Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) yang berlangsung pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Foto: Erakini
JAKARTA, (ERAKINI) - Ratusan peserta dari 209 lembaga mengikuti Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) yang berlangsung pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Kegiatan ini digelar dalam rangka tasyakur dan Milad 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Forum ini mempertemukan berbagai unsur ekosistem pendidikan Islam, mulai dari pesantren, boarding school, sekolah, madrasah, perguruan tinggi, organisasi Islam, hingga lembaga filantropi dari dalam dan luar negeri. Melalui forum ini, mendorong sistem menjadi salah satu alternatif model pendidikan holistik yang ditawarkan kepada dunia.
"Peminatnya (peserta) pada hari ini cukup banyak, sehigga kami merencanakan untuk mengadakan GIHES yang kedua untuk tahun depan. Kita akan menjual pendidikan pesantren ke seluruh dunia. Dan, saya yakin bahwa pendidikan kita ini adalah pendidikan universal," ujar Chairman of the 100th Anniversary of Darussalam Gontor Islamic Initiation Organizing Committee yang juga Rektor Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) Prof KH Hamid Fahmy Zarkasyi, saat pembukaan GIHES 2026, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Hamid, pendidikan holistik sebenarnya bukan konsep baru bagi pesantren. Pesantren telah menjalankan prinsip pendidikan holistik selama berabad-abad, jauh sebelum konsep tersebut berkembang sebagai gagasan pendidikan di dunia Barat.
"Mengapa kita perlu pendidikan holistik? Sebuah istilah yang tidak terlalu populer di pondok pesantren. Tetapi istilah ini sudah kita kerjakan berabad-abad, bertahun-tahun yang tidak kita rasakan," kata Hamid
Hamid menjelaskan, gagasan pendidikan holistik di Barat antara lain muncul sebagai respons terhadap perkembangan sekularisasi yang memisahkan ilmu pengetahuan dan agama. Pemisahan tersebut kemudian melahirkan dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum.
Perkembangan pendidikan modern di Barat juga sangat menekankan aspek kognitif seiring kebutuhan industrialisasi. Akibatnya, pendidikan dinilai terlalu berorientasi pada kemampuan intelektual dan kurang memberikan ruang yang memadai bagi pembentukan karakter, moral, dan spiritualitas peserta didik.
"Orang berpikir bagaimana mencapai ilmu setinggi-tingginya. Tetapi mereka melupakan bagaimana mencetak manusia seutuhnya," tandasnya.
Hamid menyebut kondisi tersebut membuat peserta didik memiliki kemampuan berpikir, tetapi belum tentu memiliki kemampuan berperilaku sesuai nilai moral dan kemanusiaan.
Dalam konsep pendidikan holistik, kata dia, manusia semestinya dididik secara utuh melalui pengembangan head, heart, and hand atau kepala, hati, dan keterampilan. "Head, heart, and hand hanya disentuh head saja. Hanya di kepala, hatinya tidak ikut terdidik di dalam proses pendidikan," jelasnya.
Hamid melanjutkan, sejumlah tokoh pendidikan di Barat sebenarnya telah berupaya mengembangkan pendidikan yang lebih menyeluruh. Ia menyebut Johann Heinrich Pestalozzi, Friedrich Froebel, Henry David Thoreau, hingga Maria Montessori sebagai tokoh yang menawarkan gagasan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif.
Namun, berbagai gagasan tersebut menghadapi keterbatasan ketika diterapkan dalam sistem pendidikan formal. Hamid kemudian membandingkannya dengan pesantren yang memiliki lingkungan pendidikan selama 24 jam. Pesantren tidak hanya menyediakan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter santri melalui kehidupan sehari-hari di asrama.
"Maria Montessori yang sekarang ini banyak digunakan oleh sekolah-sekolah Islam sebenarnya juga ingin mendesain sebuah lingkungan pendidikan yang menjadikan anak bisa belajar mandiri. Tetapi sekolah hanya mempunyai waktu 12 jam. Tidak bisa menyaingi pesantren yang waktunya 24 jam," katanya.
Karena itu, Hamid menyebut sistem pendidikan pesantren dalam sejumlah aspek bahkan telah menjalankan prinsip yang kemudian dikenal melalui konsep Montessori. Pesantren menyatukan pendidikan agama dan ilmu umum, sekaligus menjadikan aktivitas belajar sebagai bagian dari ibadah. Dengan sistem asrama, pendidikan berlangsung tidak hanya ketika santri berada di kelas, tetapi juga dalam interaksi sosial dan kehidupan sehari-hari.
Di pesantren, kata Hamid, berbagai aspek dapat dikembangkan secara bersamaan, mulai dari intelektualitas, moralitas, spiritualitas, kemandirian, hingga kemampuan sosial. "Belajar di pesantren adalah ibadah. Tidak mungkin dipisahkan secara dikotomi," katanya.
Keunggulan lain pesantren terletak pada integrasi pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan kurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta kehidupan sosial santri berjalan dalam satu lingkungan. Asrama, misalnya, menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus representasi keluarga. Para santri hidup bersama, berinteraksi dengan guru dan senior, serta belajar menjalankan tanggung jawab sosial.
Ia menilai konsep tersebut sejalan dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang tiga pusat pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat. "Di pesantren ada sekolah, ada pendidikan formalnya, ada kokurikuler, ada nonformalnya. Asrama adalah keluarga di dalam pesantren," ujar Hamid.
Maka itu, Hamid menegaskan sistem pendidikan pesantren tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi memiliki nilai universal yang dapat ditawarkan kepada masyarakat internasional. Pendidikan pesantren yang holistik sebagai salah satu kekhasan dunia Melayu yang tidak ditemukan dalam bentuk serupa di sejumlah negara lain yang telah ia kunjungi.
"Sistem pendidikan pesantren yang holistik hanya ada di dunia Melayu. Tidak ada di negara Pakistan, saya sudah ke sana. Tidak ada di negara-negara India, tidak ada di negara Arab sekalipun," katanya.
Karena itu, ia berharap sistem pendidikan pesantren semakin mendapat dukungan sebagai model pendidikan asli Indonesia dan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan nasional.
"Kesimpulannya adalah sistem pendidikan di pesantren benar-benar holistik dan dapat ditawarkan kepada dunia internasional sebagai alternatif pendidikan manusia seutuhnya demi perdamaian," pungkasnya.
Pendidikan Adalah Investasi Peradaban
Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang hadir untuk membuka forum tersebut mengatakan, pendidikan memiliki posisi strategis dalam membangun masa depan bangsa. Ia mengutip tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kata Muzani, pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi merupakan investasi peradaban.
"Pendidikan adalah investasi peradaban. Pendidikan adalah jalan untuk memastikan bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa dapat diteruskan kepada generasi berikutnya," ujar Muzani.
Ia menilai konsep pendidikan holistik yang telah diterapkan pesantren merupakan salah satu kekuatan Indonesia yang dapat dikembangkan menjadi model pendidikan untuk masa depan.
Muzani juga menyinggung perjalanan 100 tahun Gontor yang sejak awal tidak hanya berorientasi pada pendidikan agama, tetapi juga membuka diri terhadap ilmu pengetahuan dan bahasa asing.
Ia menilai keberanian Gontor mengajarkan bahasa Inggris dan ilmu-ilmu nonagama pada masa awal berdirinya merupakan bentuk inovasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zamannya.
"Jika dalam 100 tahun pertama Gontor menjadi pesantren modern, maka tantangannya adalah pada 100 tahun kedua, apa yang disebut berikutnya," katanya.
Muzani menyebut kiprah sejumlah alumni Gontor di tingkat nasional sebagai salah satu bukti kontribusi pesantren terhadap Indonesia. Di antaranya KH Idham Chalid yang pernah menjadi Ketua MPRS dan Ketua Umum PBNU, Din Syamsuddin yang pernah memimpin PP Muhammadiyah, serta KH Hasyim Muzadi yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU.
Menurut Muzani, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkiprah di berbagai sektor kehidupan nasional.
"Seminar hari ini adalah upaya untuk mencari bagaimana 100 tahun kedua Gontor bisa berkiprah untuk Indonesia, Indonesia berkiprah untuk dunia, dan santri berkiprah untuk kemanusiaan," ujarnya.
Muzani juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), harus direspons secara konstruktif oleh dunia pendidikan.
Teknologi, kata dia, bukan semata tantangan, tetapi dapat menjadi kekuatan apabila dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pendidikan.
Ia juga menilai pesantren merupakan bagian dari kekhasan pendidikan Indonesia karena mampu menyatukan tradisi, nilai keislaman, kebudayaan lokal, dan keindonesiaan.
GIHES 2026 Diikuti 283 Peserta dari 209 Lembaga
Ketua Panitia GIHES 2026 KH Anang Rikza Mashadi melaporkan tingginya antusiasme terhadap forum ini. Bahkan hingga pagi tadi sebelum acara berlangsung, peserta masih terus melakukan pendaftaran.
"Forum ini diikuti oleh 283 peserta dari 209 lembaga," kata Anang.
Dari jumlah tersebut, terdapat 160 pesantren atau boarding school, 15 perguruan tinggi, 22 sekolah dan madrasah, serta tujuh organisasi Islam dan sejumlah lembaga lainnya.
Menurut Anang, GIHES juga memperlihatkan keberagaman corak pendidikan Islam di Indonesia. Peserta tidak hanya berasal dari pesantren modern, tetapi juga pesantren salaf, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Wahdah Islamiyah, Hidayatullah, dan berbagai jaringan pendidikan Islam lainnya.
Peserta datang dari berbagai wilayah Indonesia, antara lain Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Aceh, hingga Papua.
Forum tersebut juga mendapat perhatian internasional. Delegasi dan peserta berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Mesir, Amerika Serikat, China, dan Turki. Sejumlah peserta dari Nigeria dan Irak yang direncanakan hadir masih terkendala persoalan teknis perjalanan.
Anang membeberkan, terdapat sejumlah isu yang paling banyak diminati peserta GIHES 2026, yakni kurikulum holistik, kepemimpinan, pengembangan kelembagaan dan filantropi, transformasi digital dan artificial intelligence, pesantren dan kesehatan mental, serta pengembangan pendidikan bahasa asing, khususnya bahasa Arab dan Inggris.
"Isu pendidikan Islam holistik bukan lagi menjadi perhatian satu jenis lembaga. Ia telah menjadi agenda bersama pesantren, sekolah, madrasah, perguruan tinggi, ormas Islam, lembaga filantropi, pemerintah, dan dunia usaha," ujarnya.
Karena itu, Anang menegaskan GIHES tidak dirancang sebagai forum milik satu organisasi atau satu model pendidikan tertentu.
"Summit ini adalah rumah bersama bagi seluruh ekosistem pendidikan Islam di Indonesia," katanya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH M Akrim Mariyat mengungkapkan, pendidikan holistik telah menjadi bagian dari perjalanan Gontor sejak awal berdiri pada 1926.
Ia menegaskan bahwa Gontor bukan sekadar sekolah, melainkan pondok atau pesantren yang memiliki sistem pendidikan dan kehidupan yang menyeluruh.
Tujuan pendidikan Gontor sejak awal tidak semata-mata menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan, tetapi membentuk manusia yang memiliki kemampuan hidup, kesehatan, keluasan wawasan, kebebasan berpikir, dan jiwa yang besar.
Konsep tersebut, kata dia, menjadi bagian dari fondasi Gontor dalam menjalankan pendidikan selama satu abad.
Memasuki usia 100 tahun, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan sistem yang telah berjalan, melainkan membawa pengalaman pendidikan pesantren ke tingkat yang lebih luas.
GIHES 2026 menjadi salah satu langkah Gontor untuk membuka ruang dialog global sekaligus memperkenalkan pendidikan pesantren sebagai model pendidikan manusia seutuhnya.