Kisah Nelayan Kaltara Jaga Mangrove Sambil Raup Cuan dari Tambak Udang hingga Kepiting
Abdul Rahman Ahdori
TANA TIDUNG, (ERAKINI) - Kelestarian hutan mangrove ternyata tidak hanya berperan menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Hal itu dirasakan sejumlah nelayan di Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara). Mereka memanfaatkan kawasan perairan mangrove sebagai penyangga tambak untuk membudidayakan berbagai komoditas, mulai dari udang, kepiting, ikan mujair, hingga bandeng.
Melalui pengelolaan tambak yang didukung ekosistem mangrove, para nelayan tersebut mampu mengembangkan usaha produktif sekaligus memperoleh penghasilan dari hasil perikanan.
Pengawas Kelompok Masyarakat (Pokmas) Nelayan Mekar Abadi, Firman Syarif, menceritakan, usaha tambak tersebut bermula setelah dirinya bersama 12 nelayan lainnya mendapatkan edukasi dari tim Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang dijalankan Kementerian Perhutanan (Kemenhut).
Menurut Firman, edukasi tersebut membuka wawasan mereka mengenai potensi kawasan mangrove yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
"Setelah diedukasi kami juga didampingi untuk benar-benar memanfaatkan perairan mangrove ini menjadi tambak yang menghasilkan uang," ujar Firman kepada peserta Temu Media Bersama Masyarakat Binaan M4CR di tambak perairan Tana Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, Selasa (3/11/2026).
Setelah mendapatkan pendampingan, Firman bersama anggota kelompoknya langsung mempraktikkan pengetahuan tersebut dengan mengembangkan tambak perikanan di kawasan perairan mangrove.
Hasilnya, mereka kini dapat memanen sejumlah komoditas perikanan yang memiliki nilai jual. Hasil tambak tersebut kemudian dipasarkan kepada para pengepul ikan dari berbagai daerah di Kalimantan Utara.
Salah satu komoditas unggulan yang memberikan keuntungan cukup besar bagi kelompoknya adalah kepiting. Firman mengatakan, kepiting kualitas tertentu bahkan dapat dijual dengan harga mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram.
"Kalau kepiting jenis A7 harganya bisa 300 ribu per kilo," ucapnya.
Selain kepiting, kelompok nelayan tersebut juga membudidayakan bandeng, ikan mujair, dan udang.
Dari berbagai komoditas yang dihasilkan, usaha tambak Pokmas Nelayan Mekar Abadi kini mampu mencatatkan omzet sekitar Rp30 juta setiap bulan.
"Ya kalo omset sekitar Rp30 jutaan," tuturnya.
Firman mengatakan, kelompoknya saat ini beranggotakan 13 orang. Dia mengaku bersyukur karena mendapatkan pendampingan sekaligus bantuan modal usaha dari Program M4CR.
Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan tambak, termasuk membeli mesin generator set (genset) serta membangun kanal.
"Nah bantuan yang diberikan kami gunakan untuk beli mesin genset hingga membangun kanal dan operasional lainnya," katanya.
Mangrove jaga lingkungan sekaligus tingkatkan ekonomi
Program rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara menjadi salah satu bentuk sinergi antara perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Keberadaan hutan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai benteng alami untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.
Adapun Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) merupakan inisiatif strategis nasional untuk mengatasi degradasi ekosistem mangrove di Indonesia.
Program ini dilakukan melalui rehabilitasi mangrove berskala besar dengan pendekatan berbasis masyarakat dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
M4CR dilaksanakan di empat provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Hingga 2027, program tersebut menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektar.
Sejak 2024, sebanyak 111 kelompok masyarakat di empat provinsi tersebut telah menerima dukungan usaha produktif dari M4CR.
Khusus di Kalimantan Utara, tercatat 25 kelompok masyarakat telah mendapatkan bantuan untuk mengembangkan usaha produktif berbasis potensi lokal.

















