Sejumlah karya yang dipajang di Galeri Darmin Kopi, Jakarta Selatan (Jaksel) dalam sebuah pameran yang dibuka hingga 10 Juni 2025. (Foto: Galeri Darmin Kopi).
JAKARTA, (ERAKINI) – Pameran lukisan kembali digelar di Galeri Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan (Jaksel). Pameran ini siap mengajak para penikmat seni untuk merapat dan mengisi momen libur panjang atau long weekend beberapa hari mendatang.
Kali ini, seniman muda Cut Putri Nur Syifa menghadirkan pameran tungal perdananya bertajuk ‘The World of Cut Syifa’. Lebih dari 20 karya Syifa bernuansa flora dan fauna dengan gaya ilustrasinya dipajang di dinding galeri tersebut. Tak hanya itu, nuansa lukisannya pun turut ditorehkan dalam media lain seperti merchandise, totebag dan lainnya.
Pameran ini terbuka untuk umum dan dibuka hingga 10 Juni 2025 dengan jam kunjungan Senin-Sabtu pukul 10.00–22.00 WIB. Pengunjung juga dapat membeli merchandise eksklusif seperti tumbler, mug, dan tote bag dari karya Cut Syifa.
Pameran dibuka oleh seniman senior sekaligus Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2015-2018, Irawan Karseno. Dalam sambutannya, Irawan mengapresiasi perkembangan Cut Syifa sebagai seniman muda yang konsisten mengembangkan identitas visualnya.
Irawan juga menyebut melukis merupakan upaya menjaga peradaban karena dapat menghadirkan keindahan yang terasa dekat dengan manusia di tengah menjemukannya pusaran dunia yang serba cepat. “Ketika pertama kali anak kita menggoreskan kuas untuk menggambar, itu merupakan komitmen kita dalam menjaga peradaban ini,” ujar Irawan di Galeri Darmin Kopi, Jakarta Selatan, Kamis (29/5/2025).
Dalam pameran ini, Cut Syifa memadukan realisme dengan corak warna cerah serta permainan garis geometris yang tegas. Beberapa karyanya juga disajikan dalam warna hitam-putih, menciptakan kontras yang memperkuat ekspresi beragam bentuk. Melalui teknik ini, ia berhasil membawa penikmat seni masuk ke dalam dunia imajinasinya yang penuh kedalaman psikologis.
Irawan menilai, karya Syifa menunjukkan adanya pola karya tradisi seperti dalam batik. Dalam proses pembuatannya tentu melibatkan ketekunan tersendiri oleh pembuatnya. Irawan berharap, Syifa yang terus berproses dalam karya-karyanya sejak masa SMP untuk ‘selalu curiga’ dengan kemampuan dirinya agar potensinya terus berkembang.
“Kecurigaan terhadap masa depan itu akan mengantarkan pada kemampuan-kemampuan lain seperti apa yang akan terjadi, potensi seperti apa yang muncul jika melukis di kanvas dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya,” harapnya.
Dalam kesempatan yang sama, kurator pameran Agung Frigidanto menjelaskan bahwa kekuatan utama Cut Syifa terletak pada penguasaan detail dan kemampuan mengolah garis, warna, serta bentuk menjadi narasi visual yang kuat.
"Syifa tidak sekadar melukis objek, tetapi juga mengeksplorasi sisi psikologisnya. Karyanya membawa penikmat seni masuk ke dalam ruang kontemplasi, di mana setiap garis dan warna seolah bercerita tentang perjalanan batin sang seniman," papar Agung.
Ia menambahkan bahwa pengaruh gaya ilustrasi modern terlihat jelas dalam karya-karya Cut Syifa, namun dengan sentuhan personal yang membuatnya memiliki karakter berbeda dari seniman sezamannya.
Sementara itu, Manajer Galeri Darmin Kopi Yuli Riban menyatakan kebanggaannya bisa memberi ruang bagi pameran tunggal perdana karya-karya Syifa ini. "Kami memberi ruang dan berkomitmen mendukung seniman muda berbakat seperti Cut Syifa. Karyanya tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memicu dialog tentang identitas dan ekspresi diri," ujarnya.
Sebagai guru yang membersamai Syifa sejak masa SMP, Yuli menjelaskan langkah demi langkah yang telah dilalui anak didiknya hingga karyanya “Dalam pameran tunggal Syifa ini kami menampilkan karya yang tidak biasa dalam proses pembuatan karyanya, karakteristik Syifa, dan masa depan dari karya-karyanya,” katanya.